Persikabo-(2)Di hari ulang tahunnya yang ke-37, Imran berharap Persatuan Sepak­bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bisa akur, sehingga bisa mewu­judkan persepakbolaan Tanah Air yang ra­mai seperti saru dekade silam.

Pria kelahiran Tulehu, Maluku ini menga­wali karir sepakbolanya bersama Persatuan Sepakbola Bogor (PSB) di era tahun 1996. Ke­mudian meneguk sukses di karir profesional bersama Persija Jakarta.

Suporter setia Persija, Jakmania, tentu tak mungkin lupa pada sosok Imran Nahu­marury. Gelandang bertubuh gempal ini per­nah mempersembahkan satu gelar juara Liga Indonesia pada tahun 2001 silam.

Ketika itu, Imran mencetak satu gol ke­menangan Macan Kemayoran. Sementara itu, dua gol lainnya dicetak oleh sang bintang Persija, Bambang Pamungkas, guna meleng­kapi kemenangan 3-2 atas PSM Makassar.

Tiga tahun merumput bersama Persija, Imran pindah ke Persib Bandung, klub yang notabene musuh bebuyutan Persija. Hanya setahun bersama Maung Bandung, Imran pindah ke Persita Tangerang.

Setelah itu, setiap tahunnya Imran pin­dah dari satu klub ke klub lain, seperti Persik­abo Bogor, dan PSSB Bireuen. Imran gantung sepatu pada tahun 2007. Selepas pensiun, Imran pernah mencoba menjadi pelatih klub Tulehu Putra di kampung halamannya pada tahun 2008. Lelaki ini juga pernah mem­perkuat timnas Merah Putih. Berseragam Ga­ruda, Imran pernah bermain di ajang kuali­fikasi Piala Asia AFC tahun 2000 dan Piala Tiger tahun 2002.

Dukung KLB

Terpisah, CEO Persema Malang, Dito Arif mendukung rencana akan digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI. Pasalnya kepenguru­san PSSI pimpinan La Nyalla Matalitti sudah dibekukan oleh Menpora. Dengan demikian, federasi resmi sepak bola di Indonesia itu per­lu dilakukan pembenahan, termasuk meng­ganti kepengurusan melalui KLB.

“Saya sepakat digelarnya KLB. Kabarnya KLB akan digelar usai Piala Jenderal Sudirman selesai. Untuk menciptakan KLB yang baik, pengurus PSSI sekarang jangan dilibatkan, karena mereka virus yang bisa merusak rencana pembenahan federasi dan sepakbola nasional,” kata Dito dikutip Harian Super Ball.

Dito berujar tim kecil yang akan diben­tuk pemerintah (Menpora) sebagai persia­pan jelang KLB memang sudah seharusnya tidak melibatkan PSSI. “Kalau PSSI dilibatkan pasti mereka akan berusaha mengkodisikan KLB condong kepada kepentingan kelompok orang-orang yang sekarang dudukdi kepen­gurusan PSSI. Mereka punya kepentingan agar bisa tetap menguasai PSSI dan penunju­kan pengurus berdasarkan subyektifitas, like and dislike,” ujar Dito.

Orang-orang PSSI saat ini akan berusaha keras untuk mempertahankan kepentingan kelompok tertentu. “Mereka akan menunjuk orang-orang yang sama seperti kepenguru­san PSSI saat ini. Ini virus yang perlu dihilang­kan, karena membuat PSSI tetap bermasalah seperti sekarang. Jadi jika ingin menciptakan KLB yang bersih, adil, dan fair memang pen­gurus PSSI sekarang tidak perlu dilibatkan. Maka tim kecil juga sudah seharusnya tidak mengajak PSSI,” ucap Dito.

Agar proses KLB sesuai dengan statuta dan aturan dari PSSI dan FIFA, memang ha­rus melibatkan anggota dan klub sepak bola. “Jadi sebenarnya KLB itu bukan digelar oleh pemerintah tetapi berdasarkan keinginan dari anggota PSSI termasuk klub yang ter­libat dalam turnamen Piala Kemerdekaan, Piala Presiden, dan Piala Jenderal Sudirman. Pemerintah hanya sebagai fasilitator saja,” jelas Dito. Dito menerangkan penyelengga­raan turnamen-turnamen itu sebagai bentuk komunikasi ke seluruh klub dan anggota PSSI untuk menuju ke arah KLB. “PSSI yang sudah dibekukan jelas tidak bisa menggelar KLB, karena statusnya sudah dibekukan dan tidak aktif lagi. Maka, saya percaya langkah yang di­lakukan pemerintah sudah benar dan sesuai dengan keadaan konflik saat ini,” terang Dito.

Dalam penyelenggaraan KLB nanti, tam­bah Dito, pemerintah bisa mengundang FIFA dan AFC. Hasil KLB termasuk kepen­gurusan PSSI yang baru tinggal dilaporkan ke FIFA dan AFC. “Soal FIFA dan AFC yang akui kepengurusan La Nyalla kan hanya memberikan rekomendasi saja, tetapi yang berhak menyelesaikan konflik ini tetap kita sendiri. PSSI yang sudah bermasalah dan dibekukan juga tidak bisa dilibatkan. Karena PSSI justru bisa merusak rencana perbaikan dan pembenahan sepak bola nasional,” tam­bah Dito.

Dito berharap penyelenggaraan KLB nanti menjadi momen bagi klubnya untuk mendapatkan kembali hak keanggotaan PSSI. “Kabarnya klub yang disanksi, sep­erti Persibo Bojonegoro, Persema Malang, Arema, dan Persebaya 1927 akan diundang di KLB nanti. Artinya kami diberikan kesem­patan untuk memperjuangkan hak kami di kompetisi resmi nasional. Ini langkah yang bagus yang sulit dilakukan di kepengurusan PSSI sekarang,” tutup Dito.

Oleh : Adilla Prasetyo Wibowo