Untitled-1Perusahaan pengembang PT PP Properti Tbk menargetkan pemasukan dari proyek hunian vertikal Grand Kamala Lagoon atau GKL di Bekasi, Jawa Barat sebesar Rp1 triliun sampai akhir 2015.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

General Manager Marketing Corporate PT PP Properti Tbk Tjakra D. Puteh mengatakan, per Oktober, perusahaan berkode emiten PPRO ini sudah meraup pendapatan pra penjualan dari GKL Rp800 miliar, dari total pemasukan sementara sebesar Rp2,05 triliun.

“Hingga akhir tahun, perusa­haan menargetkan omzet sebesar Rp2,5 triliun dengan GKL sebagai ujung tombaknya berkontribusi Rp1 triliun,” tuturnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Terkait harga, kini GKL diban­derol Rp15 juta – Rp16 juta per m2 atau mulai dari Rp400 jutaan un­tuk tipe studio seluas 24 m2. Pada Mei 2014, harga unit terkecil masih Rp260 juta.

Sebagai imbas pelemahan ekonomi, penjualan sempat mengalami masa surut, terutama pada pertengahan 2015. Pada Juni misalnya, pembelian unit GKL hanya sebesar Rp16 miliar. Untungnya, keadaan berangsur membaik dan penjualan kembali normal sehingga per September, transaksi bisa mencapai Rp160 miliar per bulan.

Puteh mengakui biar bagaima­na pun, penjualan sepanjang 2015 menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2014, PPRO mampu menjual sekitar 1.600 unit, tetapi tahun ini hanya sekitar 1.000 unit.

Mengenai potensi sewa GKL, harga berkisar Rp150.000 per m2 per tahun untuk pasar lokal. Sedangkan untuk segmen WNA, harga bisa dipatok hingga dua kali lipatnya.

Perusahaan pengembang PT PP Properti Tbk melakukan kerjasa­ma dengan produsen otomotif PT Hyundai Mobil Indonesia senilai Rp3 triliun dalam proyek Grand Kamala Lagoon atau GKL di Beka­si, Jawa Barat.

General Manager Marketing Corporate PT PP Properti Tbk Tjakra D. Puteh mengungkapkan dengan dana sekitar Rp3 triliun, perusahaan mobil asal Korea Sela­tan itu membeli dua tower di GKL dengan kapasitas sekitar 3.000 unit. “Skema kerjasamanya joint venture. Kami memilih Korea ka­rena sikapnya yang lebih fleksi­bel,” tuturnya.

Menurut Puteh, permintaan res­idensial untuk ekspatriat di Bekasi cukup tinggi, karena untuk men­dapatkan fasilitas yang mumpuni, mereka harus mencari hunian di Cibubur. Sedangkan pekerja asing, terutama di Cikarang dan Cibitung jumlahnya selalu bertambah.

Mengenai kepemilikan properti oleh warga negara asing atau WNA, selama ada permintaan pasar maka proses transaksi akan berjalan. Pelaku usaha tentunya tetap harus berpegang dengan peraturan yang ada, walaupun masih cukup membatasi.

Komitmen pasar bersama Masyarakat Ekonomi Asean yang berlaku tahun depan juga berpo­tensi mendatangkan pasar properti dari kalangan WNA dengan jumlah lebih banyak. Segmen ini menjadi peluang bagi pengem­bang ke depannya.

Selain Hyundai, PPRO juga melakukan kerjasama dengan skema joint venture dengan perusahaan lainnya seperti Pertamina, Jaba­beka, dan Sentul City. Di kawasan Sentul, Bogor, perseroan akan mengembangkan 5 tower hunian berkapasitas 3.500 unit.

(bisnis. com)