BOGOR, TODAY – Puluhan korban puting beliung di Desa Ciomas Induk, Kecamatan Ciomas harus berhutang ke toko bangunan untuk merehabilitasi rumahnya yang rusak diterjang angin. Pasalnya bantuan yang di­janjikan Pemerintah Kabupaten Bogor belum juga turun.

“Sebelumnya kami sempat senang, karena ada janji dari Pemerintah Kabupaten Bogor yang akan membantu biaya rehabilitasi rumah kami yang rusak, tapi nyatanya dua pekan setelah kejadian, bantuan yang dijan­jikan itu tak kunjung turun,” keluh Muhayat, warga yang rumahnya rusak berat, Senin (16/11/2015).

Padahal, satu hari pasca bencana, sejum­lah petugas dari Badan Penanggulangan Ben­cana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor telah mendata dan memverifikasi rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan baik se­dang maupun berat.

“Bantuan itu sangat kami harapkan. Kare­na ditengah ekonomi yang sulit ini, boro-boro kami punya uang untuk memperbaiki rumah, sehingga bantuan biaya dari pemkab itu san­gat kami nantikan,” ujarnya.

Baca Juga :  Kejuaraan Sepatu Roda Bogor Open 2022, 560 Atlet Berebut Piala Wali Kota

Kepala Desa Ciomas Induk, Jaja Ghojali membenarkan warganya yang menjadi kor­ban terjangan angin pada Jumat 30 Oktober lalu sering menanyakan bantuan dari pemk­ab. “Hampir setiap hari ada saja, warga yang datang ke kantor desa menanyakan bantuan pemkab kapan cair,” katanya.

Menurut Jaja, lantaran belum ada kepas­tian waktu, pemerintah desa terpaksa ng­utang bahan bangunan kesejumlah toko ma­terial. “Ya, walau pun kami belum tahu berapa bantuan yang akan diterima para korban, tapi kami memberanikan diri ngambil bahan ban­gunan senilai Rp 8 hingga Rp 10 juta untuk delapan kepala keluarga,” ungkapnya.

Kepala Bidang Logistik pada Badan Pen­anggulangan Bencana Daerah Ma’mur, ketika dikonfirmasikan menjelaskan bantuan untuk rehabilitasi rumah yang rusak kena terjangan angin putting beliung akan cair dalam waktu dekat ini.

Baca Juga :  TINDAKLANJUTI ASPIRASI WARGA, DPRD KOTA BOGOR MEDIASI PERSOALAN WARGA BMW DENGAN PIHAK DEVELOPER

“Kami minta para korban bersabar, kare­na proses pencairan tidak bisa cepat seperti yang kita inginkan, karena sebelum uang ban­tuan itu cair, kami memastikan data yang ma­suk itu tidak keliru, agar kedepannya tidak jadi temuan BPK,” kilahnya.

Ma’mur menjelaskan bantuan yang akan diberikan nilainya bervariasi. Untuk rumah yang kerusakannya berat bantuan rehabnya berkisar antara Rp 5 hingga Rp 7, 5 juta, se­mentara yang rusak sedang Rp 3,5 hingga Rp 5 juta.

“Nilai bantuan itu ditentukan berdasar­kan hasil estimasi atau perhitungan yang di­lakukan tim survey lapangan. Nah untuk mer­ingankan beban, kami berharap pelaksanaan rehabilitasi dilakukan secara gotong royong,” pungkasnya.

(Rishad Noviansyah)