_MG_0971Ngomongin usaha kuliner di Kota Bogor seperti tak ada habisnya. Makanan apa saja ada di kota hujan ini. Yang paling hit saat ini jajanan gorengan, salah satunya Gorengan Tahu Slawi.

Oleh : RIshad Noviansyah
[email protected]

Usaha gorengan Tahu Slawi berada di Pasar Suryakancana, Kota Bogor. Jajanan goren­gan Tahu Slawi ini sudah ada sejak tahun 1978. Bagi mereka yang melewatkan masa kecil dan masa remaja di kawasan pecinan Bogor ini, tentu serasa kembali ke masa tempo dulu saat kit a menikmati gigitan demi gigitannya Tahu Slawi.

Gang Selot, itulah tempat yang menjadi saksi bisu hadirnya jajanan gorengan Tahu Slawi khas Bogor. Lokasi ini letaknya cukup strategis. Banyak sekolah berada di sekitar ini, sehingga siswa sekolah menjadi konsumen setia jajanan ini. Dengan ditemani gerobak dagangan lainnnya, Gang Selot menjelma jadi pusat ja­janan yang layak diperhitungkan di Kota Bogor.

Sejarah Tahu Slawi Bogor

Baca Juga :  Merawat Tradisi Membuat Dandang Nasi

Di Gang Selot ini, ada salah satu pebisnis gorengan yang menonjol dan telah bertahan selama 20 tahun lebih. Yaitu pengusaha gorengan Tahu Slawi bernama Pak Joni. Bi snis tahu Slawi Joni, telah menjadi prima­dona penyedia tahu Slawi di Gang Selot. Joni sudah berbisnis tahu Slawi sejak tahun 1978.

Bapak sebelas orang anak ini masih setia menggu­nakan gerobak dorongnya sejak awal berjualan. Un­tuk menambah var iasi jajanan, Joni juga menambah dengan berbagai gorengan lainnya. Bahan baku untuk membuat jajanan tahu Slawi ini, juga sederhana yakni tahu pong. Tahu pong adalah jenis tahu yang terkenal halus dan bi sa mekar saat di goreng.

Ditempat asalnya yaitu Kota Tegal, tahu ini disebut dengan tahu peletok. Dulu, ukuran tahu ini sangat ke­cil dibandingkan dengan ukuran tahu jenis lainnya. Sudah ukurannya kecil, ketika digoreng tetap dibagi dua dengan bentuk segi tiga. ’’Kadang-kadang tahunya agak besar, Bapak bagi empat ,’’ katanya.

Baca Juga :  Merawat Tradisi Membuat Dandang Nasi

Joni sendiri asalnya dari Tegal, tepatnya dari Slawi. ‘’Jadi, karena Bapak dari Slawi, anak-anak dan para pelanggan menyebut tahu yang Bapak jual ya tahu Slawi,’’ ujar Joni.

Dalam sehari, Joni bisa menghabiskan 10 kg tepung sagu sebagai pembungkus tahu gorengannya. Pada akhis pekan Sabtu dan Ming gu, menjadi saat-saat pal­ing ramai dimana alumni sekolah bernostalgia sambil mencicipi tahu slawi ini. Tak hanya siswa sekolah, pegawai kantoranpun menjadi pelanggan setia jajanan khas gang selot ini. Tahu slawi memiliki cita rasa Gurih, kenyal, dan asin yang menciptakan sensasi khas dan pas enak dimulut.’

Tahu Slawi dan gorengan lain yang dijual Pak Joni berkisar antara Rp 500 sampai Rp 1000 perpotong. Paling sedikit Pak Joni bisa men­jual 300 potong gorengan dalam sehari. Keuntungan bersih yang didapatkan Joni bisa sampai 90 pers­en jika gorengan dagan­gannya terjual habis.