IMG-20151112-WA0035Tak pernah ada yang tahu, orang yang menjadi tulang punggung dalam keluarga akan pergi mendahului kita. Tapi, itulah yang dialami Amel, (38) harus kehilangan suami yang sangat dia cintai dan menjadi penopang hidup utama keluarga.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

Sejak suami meninggal, saya sangat bingung harus melakukan apa untuk membesarkan tiga putra saya dengan almarhum,’’ kata Amel menceritakan kisahnya kepada Bogor Today, Kamis (12/11/2015)

Bukan soal uang atau harta yang membuat Amel kebingungan. Tetapi soal mengisi hari-harinya selain mengasuh dan mebesarkan tiga putranya—Gabriel (12), dan si kembar Abraham-Michael (7)—yang dititip­kan sang suami. ‘’Dari kebingunan yang saya alami itulah kemudian muncul ide un­tuk membuat usaha kuliner,’’ ujar Amel.

Amel ditinggal pergi suaminya pada 31 Juli 2015 yang lalu. Secara materi, Amel tidak kekurangan karena suaminya yang seorang guru besar di per­guruan tinggi ternama, tam­paknya sudah menyiapkan segara sesuatunya untuk kepentingan sekolah anak-anaknya dan juga untuk Amel yang akan melanjutkan kehidupan keluarga.

Dengan tekad dan semangat untuk membesar­kan tiga putra yang masih kecil-kecil itu, Amel mulai melayani kebutuhan katering dengan menu spesial Pecel Surabaya dan Bakso Keraton. ‘’Saya membuka warung Nasi Pecel Mbak Dian Suroboyo,’’ katanya sambil terkekeh mengenang awal dia terjun di usaha kuliner.

Dasarnya Amel memang memiliki hobi memasak. Bukan hanya membuat pecel dan bakso, tetapi aneka masakan bisa dibuatnya. ‘’Selain saya memiliki keahl­ian dan hobi memasak, saya melihat bahwa keuntun­gan dari usaha kuliner sangat menjanjikan,’’ ujarnya.

Pilihan Amel tak keliru. Sebagai orang yang tinggal di Kota Bogor, dia pasti sangat terpengaruh lingkun­gan masyarakat yang memiliki aneka masakan tradis­ional dan menjadikan makanan sebagai salah satu magnet pariwisata. ‘’Yang pasti, usaha kuliner ini ti­dak diperlukan modal yang terlalu besar, tapi hasilnya lumayan,’’ ujar Amel menjelaskan alasannya memilih usaha ini.

Sebelum memulai usaha Nasi Pecel Suroboyo Mbak Dian, Amel melakukan survei di segala penjuru Kota Bogor. Hampir setiap hari Amel jalan-jalan keliling Kota Bogor. ‘’Saya coba berbagai macam makanan. Saya ingin menemukan formula untuk membuat makanan yang bisa bikin kenyang, enak, sehat tetapi tidak mahal,’’ katanya.

Kini selain memiliki outlet di kawasan Jalan Sudirman Kota Bogor, persisnya depan Kodim 06/06 Suryakancana, Amel juga membuka tenan di acara-acara bazar, pameran, dan acara lain yang memung­kinkan dia berjualan. ‘’Yang rutin sekarang melayani nasi boks untuk kebutuhan kantor dan acara keluar­ga,’’ katanya.

Untuk memenuhi permintaan pelanggan, Amel juga kini sedang mencari tempat yang cocok di mal, terutama di food corner yang sudah menjadi tempat makan para pengunjung. ‘’Tapi sayangnya di mal yang ramai seperti Botani dan Ekalos sudah penuh,’’ katanya.

Amel tak berhenti bergerak mengembangkan usa­hanya. Sambil mengantar anaknya ke sekolah, dia terus mencari peluang yang bisa dimanfaatkannya untuk mengembangkan usaha. Hidup ditinggal suami dan harus membesarkan anak, ternyata bukan kiamat buat Amel, tetapi justru menjadi cambuk untuk hidup lebih produktif.