Oleh: AGUS MAULUDDIN
mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Indonesia.
Sering kita mendengar kata slum, istilah itu sangat familiar bagi para pengamat atau pengÂgandrung masalah soÂsial, khususnya kajian sosiologi perkotaan.
Slum secara simplifikasi bisa diartikan kota kumuh. Kota kumuh seperti apa yang dimaksudkan? Kumuh yang tidak terawat tanpa adanya sanitasi, atau seperti apa?
Fenomena yang bisa kita lihat secara empiris, misalnya di JakarÂta kerap terlihat orang yang menÂempati tempat tinggal “kumuhâ€, selain bangunan-bangunan yang menjulang tinggi bak pencakar langit. Hal tersebut seakan menÂjadi suatu fenomena yang biasa di Jakarta.
Berangkat dari fenomena tersebut, sebenarnya faktor sepÂerti apakah yang paling dominan atau melatarbelakangi realitas sosial yang ada seperti itu? Siapa pihak yang harus disalahkan? Pemerintahkah, atau masyarakatÂnya? Ataukah ada pihak-pihak lain yang paling harus disalahkan?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita lihat dari berbagai aspek. Kita runut dari faktor penyebabnya. Salah satu faktor penyebab terjadinya pemuÂkiman kumuh di Ibu Kota adalah adanya faktor urbanisasi, yang terÂdapat push factor dan pull factor.
Faktor pendorong atau push factor dari urbanisasi itu salah satunya karena pekerjaan di desa kurang memadai, sektor agraris yang kurang menguntungkan, dan lain-lain.
Faktor penarik atau pull factor dari urbanisasi itu adanya stereoÂtipe positif kota lebih menjanjikan pekerjaan; walaupun kenyataanÂnya bisa jadi bertolak belakang dengan stereotipe yang ada.
Itulah faktor urbanisasi yang berimplikasi pada terjadinya slum di Ibu Kota. Selain faktor tersebut, sektor pemerintahan pun terliÂbat di dalamnya. Secara realitas yang ada, pemerintah belum atau kurang memperhatikan pelokaÂsian bagi para warga rural (desa) yang bermigrasi ke kota.
Jika memanÂdang secara global, India yang nota bene negara terpadat ke dua setelah Tiongkok hingga era kini pada 2015, dari beberapa referÂensi mengatakan 75 persen adalah pedesaan atau masyarakat rural. Hal tersebut bisa berdampak pada urbanisasi yang besar dan berimplikasi pada terÂjadinya slum (kota kumuh). Hal tersebut merupakan suatu fenomÂena global yang bisa kita temui di luar Indonesia. Memang secara substantif realitas sosial yang ada tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di Indonesia.
Solusi yang ditawarkan penulis, setelah merefleksikan fenomena empiris yang ada. Pentingnya memperhatikan sekÂtor-sektor yang ada di masyarakat rural (desa) agar tidak terjadinya pembludakan urbanisasi yang akan berimplikasi pada slum (kota kumuh).
Itu misalnya, diperhatikannya para petani dan hasil taninya di negara sendiri yang bisa saja meÂningkatkan banyaknya lapangan pekerjaan di pedesaan. Selain itu, solusi lainnya ketika solusi perÂtama sudah dijalankan, sedikit banyaknya masyarakat tidak akan membeludak di masyarakat urban (kota); juga menitik beratkan pada masyarakat urban yang sudah senyatanya slum, pemerintah di masyarakat urban menyediakan lokasi yang nyaman bagi para penÂdatang.
Fenomena tersebut menjadi bahan introspeksi diri sehingga di lingkungan yang kita diami akan terciptanya sanitasi lingkungan yang baik, berpola hidup bersih, berpandangan cinta lingkungan. Itu karena akan berdampak pada good environment dan efeknya akan bisa dirasakan sendiri oleh personal masyarakatnya.
Ketika membicarakan urban atau kota, tidak terlepas dari yang namanya desa. Berbicara tentang kota yang ada dalam pikiran kita itu masyarakatnya heterogen, modern, maju.
Desa adalah antitesis dari urÂban an sich. Timbul pertanyaan, apakah kota hanya berkutat sepuÂtar itu? Sering orang mengonotaÂsikan desa itu declining. Namun, perlu kita ketahui antara kota dan desa ada konvergensi di antara kedua term tersebut.
Simbiosis
Berangkat dari tulisan Arief Daryanto (pengamat agricultural), beliau mengatakan antara rural dan urban (Desa dan Kota) saling bersimbiosis. Ketika sektor perÂtanian tepatnya masyarakat rural dalam memberikan sumbangsih dalam aspek pangan, di sana terÂdapat topangan terhadap sektor industri tepatnya masyarakat urÂban.
Secara esensial, rural memÂberikan sumbangsih bagi keÂhidupan masyarakat urban. ConÂtohnya ketika daerah rural sudah mampu memaksimalkan sektor pertaniannya yang barangtentu ada demand dari pemerintah, penulis rasa aspek pangan desa, kota maupun secara overall bangÂsa Indonesia pun akan tercukupi.
Begitu pula masyarakat urban akan sangat terbantu dan akan memuluskan sektor industri maÂsyarakat urban. Oleh karena IndoÂnesia tidak perlu lagi mengimpor pangan dari negara lain, cukup dengan memaksimalkan pangan di dalam negeri. Namun secara realistis, kita bisa temukan di negÂeri ini terdapatnya disparitas atau kesenjangan yang dialami antara rural dan urban.
Berbicara Indonesia dalam sektor pertaniannya tidak diraÂgukan lagi, akan tetapi bukti emÂpirisnya seperti apa? Sangat miris sebenarnya Indonesia yang meruÂpakan negara agraris besar, malaÂhan dari beberapa literatur ada yang mengatakan demikian.
Namun, untuk mencukupi keÂbutuhan pangan dalam negerinya saja masih mengimpor. Seakan terjadinya dikotomi antara das soÂlen dan das sein atau pernyataan dan kenyataan itu berbeda.
Penulis memberikan solusi, terhadap realitas yang ada, yakni berangkat dari potensi Indonesia dalam sektor pertanian yang sanÂgat besar, “Indonesia†harus bisa memaksimalkan sektor pertaniÂannya itu dan tidak terlepas pula dari demand pemerintah.
Kenapa seperti itu? Karena, keÂtika “Indonesia†sudah lihai dalam sektor pertaniannya, akan tetapi tidak ada dukungan dari pemerÂintah hasilnya akan nihil. Hal yang dirasa saat ini pula aspek pangan Indonesia belum bisa mencukupi kehidupan bangsanya sendiri.
Di samping memaksimalkan potensi indonesia dalam sektor pertanian, perlu juga pemerintah Indonesia mulai membatasi impor hingga pada titik akhir tidak perlu lagi mengimpor dari negara lain.
Dilihat dari aspek lain, daerah urban memberikan sumbangsih pula bagi bangsa ini, melalui inÂdustrinya dan tidak terlepas pula dari sumbangsih daerah rural yang menopang terhadap berÂjalannya daerah urban.
Jika dilihat dari pandangan Ashaluddin Jalil (pengamat maÂsalah perkotaan), beliau menÂgatakan adanya aspek penunjang, dari daerah rural memberikan sumbangsih terhadap daerah urÂban dalam sektor industri, misÂalnya dalam pemenuhan tenaga kerja bagi industri.
Jadi secara conclusion antara daerah rural dan daerah urban terdapatnya simbiosis mutualis, antara keduanya itu terdapat salÂing kesinambungan, saling menoÂpang satu sama lainnya. (*)
sumber: Sinarharapan.co