untitledNama lengkapnya Lo Siaw Ging, namun ia lebih dikenal dengan panggilan dokter Lo. Di tempatnya praktik, dokter keturunan Tiong­hoa berusia 80 tahun ini populer bukan hanya karena diagnosa dan obat yang diberikannya selalu tepat, tapi juga karena ia tidak pernah meminta bayaran dari pasiennya.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Setiap hari, kecuali Minggu, puluhan pasien antre di ruang tunggu prak­teknya. Mereka berasal dari berb­agai kalangan, mulai tukang becak, pedagang kaki lima, buruh pabrik, karyawan swasta, pegawai negeri, hingga pengusaha. Pasiennya juga banyak yang ber­asal dari luar kota, seperti Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri.

Dokter Lo menjadi istimewa karena tidak pernah memasang tarif. Ia juga tak pernah membedakan pasien kaya dan miskin. Ia jus­tru marah jika ada pasien yang menanyakan ongkos periksa padahal ia tidak punya uang. Bahkan, selain membebaskan biaya periksa, tak jarang Lo juga membantu pasien yang ti­dak mampu menebus resep. Ia akan menu­liskan resep dan meminta pasien mengambil obat ke apotek tanpa harus membayar. Pada setiap akhir bulan, pihak apotek yang akan menagih harga obat kepada sang dokter.

BACA JUGA :  126 Atlet Kota Bogor Siap Berlaga di POPWIL I Jabar

Perlakuan ini bukan hanya untuk pasien yang periksa di tempat prakteknya, tapi juga untuk pasien-pasien rawat inap di rumah sakit tempatnya bekerja, RS Kasih Ibu. Al­hasil, Lo harus membayar tagihan resep an­tara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta setiap bulan. Jika biaya perawatan pasien cukup besar, misalnya, harus menjalani operasi, Lo ti­dak menyerah. Ia akan turun sendiri untuk mencari donatur. Bukan sembarang donatur, sebab hanya donatur yang bersedia tidak disebutkan namanya yang akan didatangi Lo.“Beruntung masih banyak yang percaya dengan saya, ” kata dia.

Di mata pasien tidak mampu, Lo memang bagaikan malaikat penolong. Ia menjungkirbal­ikan logika tentang biaya kesehatan yang sela­ma ini sering tak terjangkau oleh pasien miskin. Apa yang dilakukan Lo juga seperti membantah idiom “orang miskin dilarang sakit”.

“Saya tahu pasien mana yang mampu membayar dan tidak. Untuk apa mereka membayar ongkos dokter dan obat kalau setelah itu tidak bisa membeli beras? Kasihan kalau anak-anaknya tidak bisa makan, ” ujar anak ke 3 dari 5 bersaudara itu.

Toh meski galak, Lo tetap dicintai. Ia menjadi rujukan berobat terutama bagi mer­eka yang tidak mampu. Namun dokter lulu­san Universitas Airlangga Surabaya ini mera­sa apa yang ia lakukan bukan sesuatu yang luar biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan.

BACA JUGA :  Gelar Paripurna Pembahasan LKPJ Wali Kota Bogor 2023, DPRD Sampaikan Terdapat 38 Rekomendasi Untuk Pemkot Bogor

“Tugas dokter itu menolong pasiennya agar sehat kembali. Apa pun caranya. Saya hanya membantu mereka yang membutuh­kan pertolongan dokter. Tidak ada yang is­timewa, ” ujar dokter yang buka praktek di rumahnya, Kampung Jagalan, Jebres, Solo.

Setamat SMA, Lo menyatakan keinginan­nya untuk kuliah di kedokteran. Ketika itu, ayahnya hanya berpesan jika ingin menjadi dokter jangan berdagang. Sebaliknya jika ingin berdagang, jangan menjadi dokter. Ru­panya, nas­ehat itu sangat membekas di hati Lo. Maksud nasehat itu, menurut Lo, seorang dokter tidak boleh mengejar materi semata karena tugas dokter adalah membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Kalau hanya ingin mengejar keuntungan, lebih baik men­jadi pedagang. .

”Jadi siapa pun pasien yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus melay­ani dengan baik. Membantu membantu orang itu tidak boleh membeda-bedakan. Semuanya harus dilakukan dengan ikhlas. Profesi dokter itu menolong orang sakit, bu­kan menjual obat, ” ujar suami dari Gan May Kwee ini.

============================================================
============================================================
============================================================