perda-asiCIBINONG, TODAY – Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tengah merancang dibentuknya peraturan daerah (perda) yang mengatur kewajiban ibu yang memiliki anak berusia 0 hingga 1.000 hari untuk memberi Air Susu Ibu (ASI) eksklusif.

Ini dilakukan untuk mencegah timbulnya kasus gizi bu­ruk yang kerap terjadi di Bumi Tegar Beriman.

Yang sering terkena gizi buruk itu anak-anak dibawah usia tiga tahun. Makanya, kami membentuk tim kajian yang melibatkan sejumlah SKPD untuk merancang draf Rap­erda ASI,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Bogor, dr Camalia Wilayat Sumaryana, Kamis (11/2/2016).

Camalia menargetkan, draf beserta kajiannya rampung pada tahun ini. Selanjutnya, pada 2017 bisa masuk dalam Pro­gram Legislasi Dae­rah (Prolegda) untuk kemudian disahkan menjadi perda.

Baca Juga :  Tips Dapat Menginap Hotel Murah di Puncak

Kementerian Kesehatan RI men­catat, hingga awal 2016 ini, baru 25 dari 514 ka­bupaten/kota di 34 provinsi se­luruh Indonesia yang memiliki perda serupa.

“Jumlahnya tak sampai 10 persen, makanya daerah-daerah yang belum memiliki perda ini kita dorong segera membuatnya,” kata Direktur Jenderal Gizi Masyarakat, Ke­menterian Kesehatan Doddy Izwady.

Doddy pun mengaku tak memiliki kewenangan untuk memberi sanksi bagi daerah yang tidak membuat Perda ASI.

“Kami hanya mengimbau dan meminta batuan Kemend­agri untuk mendorong daerah untuk memiliki Perda ASI,” lanjut Doddy.

Baca Juga :  Terjerat Kasus Pencabulan, Ini Modus Oknum Guru Ngaji di Bogor

Sementara itu, Kepala Bi­dang Promosi Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Sri Basuki Dwi Lestari menam­bahkan, penanganan balita yang kekurangan gizi atau menderita gizi buruk, Dinkes telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 4 miliar lebih.

“Anggaran itu kita gunakan untuk pemberian makanan tambahan (PMT) bagi anak-anak balita di 40 kecamatan,” terangnya.

Cibungbulang dan Citeure­up disebut Sri sebagai kecama­tan yang memiliki angka pend­erita gizi buruk terbanyak.

“Total balita yang mengala­mi kekurangan gizi termasuk 103 anak tersebar di semua ke­camatan,” pungkasnya.

(Rishad Noviansyah)