Untitled-10TARGET tinggi yang dipatok Direktur Utama (Dirut) PT Prayoga Pertambangan dan Energi (PPE) Kabupaten Bogor, Radjab Tampubolon untuk memproduksi 52 ribu ton aspal dan 250 ribu meter kubik batuan pada tahun ini dinilai terlalu muluk

RISHAD NOVIANSYAH
[email protected]

Hal itu dikatakan Ketua DPRD Kabupaten Bo­gor, Ade Ruhandi jika PPE harus membenahi sistem dan tata cara dalam meraup hasil pertambangan, batu misalnya. Pasalnya, politisi Gol­kar ini menilai tambang batu PPE di Cigudeg bermasalah.

“Jangan pasang target tinggi-ting­gi lah. Benahi saja dulu sistem dalam melakukan pertambangan. Yang di Cigudeg malah saya dengar ber­masalah dengan Perum Perhutani,” ujar pria yang kerap disapa Jaro Ade itu, Selasa (9/2/2016).

Menurutnya, memasang target tinggi cukup baik untuk memenuhi kebutuhan pembangunan di Bumi Tegar Beriman. Namun, kata dia, harus dibarengi dengan pelayanan yang lebih baik dan kualitas serta harga yang bersaing.

Baca Juga :  IPB Bangun Ketahanan Pangan Keluarga di Tengah Pandemi Melalui "Budikdamber"

“Jangan cuma produksinya saja yang banyak. Tapi juga harus dibarengi dengan kualitas dan harga yang bersaing. Saya ingatkan su­paya jangan melebar kemana-mana. Fokus saja dulu bisnis batu yang bet­ul,” tukasnya.

Sebelumnya, Radjab mengklaim mampu menghasilkan dividen 8 hingga 10 persen jika menaikkan tar­get produksi tahun 2016 ini.

“Tahun lalu (2015, red) produksi aspal mencapai 42 ribu ton dan batu 26 ribu meter kubik. Nah tahun ini, kami tingkatkan untuk aspal 52 ribu ton dan batu 250 ribu meter kubik. Dari situ, diperkirakan bisa menca­pai keuntungan 8 hingga 10 persen,” ujar Radjab.

Selama ini, kata dia, PPE baru bisa menutupi kerugian dalam tiga tahun terakhir. Radjab menargetkan, BEP sendiri bisa dicapai pada 2018 mendatang. “Kami tutup dulu keru­giannya. Mulai 2017, menuju BEP. Mudah-mudahan tahun 2018 nanti BEP bisa tercapai,” lanjutnya.

Ia menambahkan, PPE telah mereformasi struktur organisasi un­tuk mengurangi beban operasional. Salah satunya, kata dia, dengan melebur unit bisnis alat berat den­gan penambangan. “Jadinya biaya produksinya semakin minim dan omset bisa meningkat,” ujarnya.

Baca Juga :  Diangkat Jadi Kadisbudpar Deni Ziarah ke Makam Bupati Ketiga Kabupaten Bogor

Ketua Gabungan Pengusaha Selu­ruh Indonesia (Gapensi) Kabupaten Bogor, Enday Dasuki mengungka­pkan, PPE tidak mungkin mampu memenuhi kebutuhan pembangunan di Bumi Tegar Beriman. Enday tidak menampik, jika kualitas aspal yang dimiliki PPE cukup mampu bersaing.

“Kalau bicara bisnis, pasti mere­ka mengklaim kualitas produknya yang terbaik dong. Tapi, saya rasa, PPE tidak akan mungkin untuk me­menuhi kebutuhan pembangunan Kabupaten Bogor,” kata Enday ke­pada Bogor Today.

Ia menambahkan, PPE juga harus memperbaiki pelayanan dan harga untuk bersaing dengan pro­dusen lainnya.

“Ada beberapa pengusaha yang tergabung di Gapensi membeli dari PPE. Kalau ingin laku keras, mereka harus mendongkrak pelayanan dan harganya supaya bersaing. Karena kualitasnya kan tidak kalah juga,” tandasnya. (*)