Untitled-2Kebun Durian dan Buah Naga Warso Farm merupakan pelopor agro wisata di Bogor oleh Soewarso Pawaka. Sejak tahun 1995 Kebun Durian dan Buah Naga Warso Farm barulah dikenal publik.

Oleh : Hesti Amelia
[email protected]

Awalnya Warso mendirikan Kebun Durian dan Buah Naga Warso Farm semenjak dinas ia gemar sekali makan buah durian. Ia sering membeli buah durian lebih dari dua tetapi sekarung atau dua ka­rung. Ia berpikir dari pada membeli banyak, kenapa tidak menanam buah durian sendiri.

Ia sempat belajar ke Thailand untuk bu­didaya dan mengambil mata tunas pohon durian montong. Sambil belajar otodidak, ia tanam pohon durian sejak tahun 1989. Seir­ing berjalannya waktu sampai saat ini Kebun Durian dan Buah Naga Warso Farm sudah memiliki 1.500 pohon durian.

Selian hobi makan buah durian, ia juga hobi makan buah naga. Tahun 2010 lagi booming-nya buah naga merah, ia ingin mencoba menanam buah naga di dataran tinggi. Karena mitosnya buah naga adalah tanaman kaktus jadi tidak bisa tumbuh di dataran tinggi hanya bisa ditanam di data­ran rendah. Setelah ia mencoba menanam di dataran tinggi hasilnya sangat bagus, sampai sekarang buah naga yang diproduksi oleh Kebun Durian dan Buah Naga Warso Farm sudah masuk ke Carrefour, Total Buah Segar, Jakarta Fruit, dan lain-lain.

Saat Warso masih dinas di TNI Angkatan Darat, ia sudah memilki bisnis perminyakan. Saat memulai bisnis, ia berpikir kalau bisnis hanya cari uang saja tidak ada kontribusi ke masyarakat, dan generasi muda. Akhirnya, Warso membuat selogan ‘Long Life Educa­tion’. Warso berjuang membesarkan kebun ini dibantu oleh pekerja yang berada di seki­tar kebun durian. Jika berhasil banyak yang datang ke sini, konsumen bisa belajar ten­tang tanaman durian, bukan sekedar makan duriannya saja konsumen juga harus tau cara penanaman, dan perawatan. “Agar nantinya anak cucunya tidak hanya dengar pohon du­rian lokal Bogor misalnya durian Rancamaya yang sekarang sudah tidak ada pohonnya, yang ada pohon durian varietas kedua dan ketiga,” ungkap Catur Andriyanto, karyawan Kebun Durian dan Buah Naga Warso Farm.

Kebun Durian dan Buah Naga Warso Farm memiliki luas 23 hektar. Yang terbagi menjadi 8 hektar pohon buah naga, dan 15 hektar pohon durian yang memiliki 13 jenis durian yaitu, durian montong, cane, lai, ma­tahari, petruk, sunan, simas, bakul, daun lebar, D24 Malaysia, pelangi, musangking, dan kanyau.

Baca Juga :  Merawat Tradisi Membuat Dandang Nasi

“Yang menjadi andalan di sini yaitu du­ren montong, karena duren montong di sini berbeda dari tempat lain. Kalau tempat lain dari Thailand jadi saat mereka petik itu ma­sih muda atau mentah, bisa dibayangkan dari Thailand ke sini butuh waktu berapa jam. Se­mentara kalau di Warso sendiri terkenalnya durian jatuhan. Jadi memang benar-benar matang di pohon, saat durian jatuh itu tan­danya sudah benar-benar matang,” katanya.

Harga durian lokal di sini perkilonya Rp. 45.000, sedangkan montong Rp. 70.000 perkilo. Mungkin Anda banyak yang bertan­ya durian di sini kenapa sangat mahal pada­hal di kebun. Kebun Durian dan Buah Naga Warso Farm menjamin kualitasnya.

“Setiap belanja durian di sini harus di­coba dulu, kita belah duriannya sedikit kita kasih coba sedikit. Kalau misalnya konsumen tidak cocok ditukar lagi sampai ketemu yang pas di lidah. Saat mencoba durian tidak kena biaya. Misalnya konsumen membeli dua du­rian lalu dibawa ke Jakarta, sampai di Jakarta busuk bawa lagi ke sini kita tukar. Kalau diba­wa ke Medan busuk juga, kita tuker dan dian­tar pakai Tiki. Jadi di sini memang menjual kualitas,” jelasnya.

Kebun Durian dan Buah Naga Warso Farm juga mengembangkan buah naga merah dengan harga perkilonya Rp. 20.000. “Buah naga merah sangat cepat panen, han­ya membutuhkan waktu 12 bulan untuk bisa panen, tingkat kemanisan buahnya juga leb­ih tinggi,”katanya.

Untuk Anda yang ingin datang ke sini leb­ih baik di bulan November sampai Februari karena sedang panen raya. Hampir semua je­nis durian tersedia di sini dan juga buah naga sedang berbuah. Karena Warso dikenal se­bagai durian sepanjang masa, jangan kuatir walaupun bukan musim durian tetap terse­dia walaupun sedikit.

“Antisipasinya saat kita menjual bibit du­rian ke petani, kita bina petani di sini, saat nanti mereka panen raya dan mereka susah menjualnya kita ambil lagi. Yang kita ambil lagi buah duriannya otomatis bibitnya dari kita juga,” lantangnya.

Baca Juga :  Merawat Tradisi Membuat Dandang Nasi

Selain membeli buah durian di Kebun Durian dan Buah Naga Warso Farm, Anda juga bisa membeli bibit buah unggulan den­gan harga Rp. 25.000-Rp. 1.500.000 tergan­tung besar kecilnya pohon. Semakin tua usia pohon, semakin cepat untuk berbuah, dan semakin mahal harga jual bibitnya.

Jam operasional Kebun Durian dan Buah Naga Warso Farm pukul 08.00-17.00 setiap hari. Menyediakan fasilitas seperti mushola, ruang pertemuan, aula besar, arena bermain anak-anak, outlet penjualan sentral buah naga dan buah durian, restoran dengan menu khas sunda, nursery bibit, Anda­pun bisa melihat pemandangan Gu­nung Salak dari Warso Farm.

Kelebihan membeli durian di Kebun Durian dan Buah Naga War­so Farm, konsumen dapat meli­hat pohon duri­annya lang­sung kalau ini benar-benar asli durian lokal atau montong,dan terjamin kuali­tasnya.

Catur bercerita, selama m e n ­jalankan bisnis ini ia mengaku banyak sekali kendalanya. Seperti di Indonesia soal perta­nian tidak didukung oleh pemerintah. “Ber­beda di Thailand, pemerintahannya selalu jor-joran sampai bisa mengekspor durian ke Indonesia berarti mereka sangat hebat, sedangkan di Indonesia buah durian masih impor dan diberi subsidi. Kalau masalah disini hanya penangan hama kita perlu obat, sementara harga obat-obatan dipasaran har­ganya sangat relatif tinggi. Kita juga perlu pu­puk kandang, tetapi harga pasarnya cukup tinggi.” terangnya.

Dengan memiliki 40 kary­awan, Kebun Durian dan Buah Naga Warso Farm dapat menjua l500 – 800 buah durian setiap hari libur. Dengan memiliki be­rat durian 1,5 kg-2,5kg.

Strategi Pak Warso dalam membuka bisnis ini hingga sukses kuncinya hanya se­mangat. Saat kita datang kesini terlihat jelas tulisan keberanian, kejujuran, keterbukaan. Ia menanamkan kepada karyawannya kalau mereka ingin sukses kalian harus berani, jujur, dan terbuka. “Berani pada saat ada masalah, jika pohon duren mati kita harus berpikir bagaimana cara mengobatinya, kita juga harus jujur kepada konsumen pada saat konsumen meminta dua kilo duren kita ha­rus kasih yang pas, jangan sampai kita kasih cuma 1,8 kilo. Sampai beliau meninggalpun kita masih ingat dan masih mempergunakan sifat-sifat itu. Pak warso meninggal sejak 26 Februari 2015.” pungkas­nya.