Hikmah Kepemimpinan Ahok

BEBERAPA waktu lalu beredar video cuplikan dialog Ahok di acara Mata Najwa Metro TV. Ahok menanggapi oknum BPK yang mengaudit kerugian negara akibat kasus korupsi RS Sumber Waras yang melibatkan dirinya. Dalam argumentasinya, Ahok menganggap BPK itu ngaco.

Oleh: Heru Budi Setyawan
Pemerhati Pendidikan

Mungkin oknum BPK berpikir, Kamu (Ahok) mana berani sih lawan BPK, itu BPK institusi lho!”. Saya mah ng­gak peduli, kalau Tuhan ngaco juga gua lawan!…”Pernyataan Ahok tersebut seolah mau mela­wan Tuhan jika berbuat ngaco.

Namun ketika kasus reklam­asi Teluk Jakarta ramai diper­bincangkan, Ahok menyatakan dirinya tidak bisa melawan pengembang yang mau meng­garap proyek reklamasi. Tuhan mau dilawan, kok pengembang gak sanggup lawan Pak Ahok? (NBC Indonesia.com)

Itulah gaya bicara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Pur­nama alias Ahok yang terkenal ce­plas ceplos, temperamental, sulit dikontrol, kasar dan kadang me­nyakitkan bagi yang disemprotnya.

Terkesan gaya bicara Ahok ini spontan tanpa dipikir terlebih dahulu, padahal sebagai seorang pemimpin dan public figure se­harusnya lebih hati-hati dalam berbicara serta bertindak. Inilah kelemahan dari seorang Ahok yang menimbulkan ketidaksu­kaan pada Ahok, bahkan terjadi demo beberapa hari yang lalu karena gaya bicara Ahok yang kasar dan kurang sopan ini.

Itulah yang namanya ma­nusia, punya kelebihan dan kekurangan seperti kita ketahui kelebihan Ahok selama ini adalah berani, tegas dan jujur. Gaya bi­cara dan kepemimpinan Ahok ini lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya, untung selama ini belum melengserkan Ahok, tapi bagaimnapun hal ini mem­buat tidak nyaman dalam kehidu­pan berbangsa dan bernegara, bukankah bangsa Indonesia ter­kenal dengan budaya ramah, so­pan dan santun.

BACA JUGA :  Pancasila di Tengah Disrupsi Digital

Apalagi komunikasi itu sangat dibutuhkan seorang pemimpin untuk berkomunikasi dan men­gatur rakyatnya, keberhasilan berkomunikasi seorang pe­mimpin dengan mitranya, lawan politiknya dan rakyatnya adalah salah satu syarat keberhasilan seorang pemimpin.

Kekurangan Ahok ini jangan kita salahkan atau bahkan kita serang balik dengan kata-kata yang tidak sopan dan kasar juga, tapi harus kita bantu serta kita doakan, agar Ahok menjadi pe­mimpin yang berani, tegas dan jujur serta bisa bertutur kata den­gan 5 S (sopan, salam, santun, se­nyum dan sapa). Sumpah serapah dan caci maki tidak akan menye­lesaikan masalah, suka tidak suka Ahok adalah pemimpin kita khu­susnya untuk warga DKI Jakarta.

Memang sebagai seorang muslim kita dilarang untuk me­milih pemimpin non muslim (ini hal tauhid yang tidak bisa ditawar) bukankah bagimu aga­mamu dan bagiku agamaku ! tapi ini sudah terjadi, lagi pula Ahok jadi gubernur DKI karena Jokowi mengundurkan diri dari guber­nur DKI Jakarta serta menjadi Presiden RI yang ke tujuh.

Inilah hikmah untuk masa yang akan datang, agar umat Islam lebih hati-hati dalam me­milih pemimpin dan wakilnya. Dan umat Islam agar lebih banyak belajar tentang agama Islam teru­tama tentang politik dan tauhid. Serta umat Islam tidak boleh cuek dengan politik apalagi jadi golput.

Lalu bagaimana agar Ahok menjadi pemimpin yang berani, tegas, jujur tapi bertingkah laku dengan sopan dan santun, keren kan kalau Ahok bisa berubah seperti ini. Penulis yakin den­gan gaya kepemimpinan Ahok yang berani, tegas, jujur sopan dan santun menciptakan sua­sana nyaman, sejuk dan kon­dusif. Dan hal ini akan menu­runkan suhu politik yang sudah kelewat panas menjelang Pilkada DKI Jakarta pada tahun 2017.

BACA JUGA :  HARUSNYA ORANG INDONESIA PERILAKUNYA SESUAI DENGAN SILA-SILA YANG ADA DI PANCASILA

Dengan kelebihan sifat Ahok yaitu be­rani dan jujur, harusnya Ahok juga berani dan jujur untuk mengakui kesalahannya selama ini, yaitu berlaku kasar dan tidak sopan dalam kehidupan sehari-hari. Sekali lagi Ahok harus mau berubah untuk menjadi pribadi yang sopan dan santun, jika in­gin diterima oleh semua lawan politiknya dan seluruh warga DKI Jakarta, mudah kan. Jadi meski Ahok tidak masuk Islam, tetap akan diterima dan didukung oleh warga muslim DKI Jakarta, asal berlaku sopan, santun dan tidak membuat kebijakan yang mere­sahkan umat Islam.

Penulis percaya Ahok bisa berubah, karena selain punya kelebihan sifat be­rani, jujur dan tegas, menu­rut penulis Ahok juga seorang yang toleran, humanis dan pen­gagum Nabi Muhammad SAW. Meskipun Ahok seorang Kris­tiani, tapi sewaktu sekolah SMP beliau sekolah di SMP Muham­madiyah, sehingga punya sifat toleran, humanis dan salah satu tokoh idolanya adalah Nabi Muhammad SAW.

Bukankah Rosul­lullah selalu mengajar­kan pada umatnya untuk berkata yang baik saja, kalau tidak bisa berkata baik lebih baik diam.

Sehingga ada pep­atah diam itu emas, tapi jika bicara baik dan bermanfaat itu berlian. Jayalah In­donesiaku. (*)

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================