PT Pertamina (Persero) berencana melebarkan sayap bisnis rumah sakit di bawah kelolaan PT Pertamina Bina Medika (Pertamedika) hingga ke Arab Saudi. Rumah sakit di negara tersebut nantinya akan fokus melayani para jemaah haji dan umroh asal Indonesia yang terus meningkat tiap tahun.
Oleh : Yuska Apitya
[email protected]
Di re k t u r Utama PerÂtamina, Dwi Soetjipto, menÂgatakan peluang bisnis rumah sakit di Arab Saudi sangat prospektif, mengingat banyak sekali penduduk IndoÂnesia yang melakukan dua kegiatan keagaaÂman tersebut.
Menurut data Kementerian Agama, jumlah jemaah haji asal Indonesia pada 2015 sebesar 155.200 orang. AnÂgka itu terus bertambah dibanding tahun sebelumnya sebesar 154.467 orang. “Kami mau mencari pasar karena banyak penduduk
Indonesia ke sana setiap tahunnya. Kami mau cari peluang, kalau misalÂkan jasa rumah sakit di sana kurang bisa menangani pasien asal IndoneÂsia kami bersedia mau masuk. Bagi kami yang penting adalah market-nya,†jelas Dwi di Jakarta, Senin (23/5/2016).
Selain diperuntukkan bagi jeÂmaah haji dan umrah asal Indonesia, rumah sakit ini juga dibuka untuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mencari nafkah di sana. Menurut data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja IndoÂnesia (BNP2TKI), jumlah TKI di Arab Saudi mencapai 23 ribu orang atau menurun dibandingkan tahun sebeÂlumnya sebesar 44.325 orang.
Kendati sudah merencanakan aksi korporasi itu, namun Dwi belum tahu berapa angka investasi yang dibutuhkan. “Saat ini investasinya tengah dihitung,†jelasnya.
Menyambung pernyataan Dwi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menÂgatakan ekspansi ini merupakan hasil pembicaraan intensif kedua negara sejak September 2015. SeÂbagai menteri yang ditunjuk PresÂiden Joko Widodo ( Jokowi) untuk menangani investasi dari dan menuÂju Timur Tengah, ia mengatakan akan terus mengawal investasi ini agar cepat teralisasi. “Bahkan renÂcananya Menteri Kesehatan IndoÂnesia akan signing nota kesepahaÂman dengan Menteri Kesehatan di sana. Karena selain rumah sakit, ternyata kami juga diberi kesempaÂtan untuk masuk ke bisnis farmasi juga,†jelasnya di lokasi yang sama. Melihat laporan keuangan Pertamina pada 2014, jasa kesehatÂan dan rumah sakit menyumbang pendapatan sebesar US$71,82 juta atau menurun 14,04 persen dibandÂingkan tahun sebelumnya sebesar US$83,56 juta.
Selain membangun rumah sakit, PT Pertamina (Persero) dan Saudi Aramco juga resmi menandatanÂgani kontrak pengadaan konstruksi proyek perluasan kilang di Cilacap, Jawa Tengah. Kedua perusahaan sepakat menunjuk Amec Foster Wheeler Energy Ltd sebagai kontrakÂtor pengadaan konstruksi atau EngiÂneering Procurement and ConstrucÂtion (EPC).
Dwi Soetjipto mengatakan penandatanganan ini merupakan kelanjutan dari Head of AgreeÂment (HoA) yang ditandatangani pada November 2015. Dengan seleÂsainya kontrak ini, ujarnya, maka pengerjaan EPC bisa dimulai pada 2019 dan selesai pada 2022. “Ini merupakan tekad kami dengan SauÂdi Aramco dan untuk mengembangÂkan kilang-kilang terbaik di dunia. Nanti kami akan hasilkan produk yang efisien dan akan disambungÂkan ke industri petrokimia,†jelas Dwi di Jakarta, Senin (23/5).
Ia melanjutkan, kontraktor akan melakukan pekerjaan dasar selama delapan hingga sembilan bulan ke depan dan diharapkan Front End Engineering Design (FEED) tunÂtas pada 2018. Proses ini, jelasnya, merupakan bagian dari investasi renÂcana perluasan kilang atau Refinery Development Master Plan (RDMP) yang ditaksir mencapai US$ 5 miliar.
“Sekira bulan Oktober 2018 mendatang sudah bisa dilakukan pengerjaan fisik. Dan nanti di tahun ini kami bisa selesaikan penyusunan perusahaan patungan dengan Saudi Aramco,†terangnya.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















