PERTAMINA BANGUN RUMAH SAKIT DI SAUDI

Dwi melanjutkan, nanti Pertami­na akan mengambil porsi 55 persen hingga 60 persen dalam perusahaan patuangan tersebut, sedangkan Saudi Aramco mengambil sisanya 40 persen. Apabila nanti perusa­hana patungan ini sudah terbentuk, maka pengerjaan kilang Cilacap di­harapkan sudah bisa dimulai dengan hasil akhir peningkatkan kapasitas produksi menjadi 370 ribu barel per hari (bph) dengan kualitas mencapai Euro 4. Saat ini kapasitas produksi kilang Cilacap baru 340 ribu bph.

“Dan 70 persen supply minyak akan dipasok dari Saudi Aramco, dan tentu masih dengan koridor harga yang tepat,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno mengatakan pengerjaan ini perlu cepat demi mempererat hubungan diploma­tik dengan Arab Saudi. Di samping itu, menurutnya, saat ini Indone­sia membutuhkan penambahan kilang karena kapasitasnya belum memenuhi kebutuhan nasional.

Sebagai informasi, kapasitas ter­pasang seluruh kilang Pertamina saat ini berjumlah 853 ribu barrel per hari (bph), atau 81,78 persen dari kapasi­tas total sebesar 1,043 juta bph. Pa­dahal, kebutuhan minyak Indonesia tercatat sebesar 1,57 juta bph. “Dan untuk mengembangkan kilang-kilang ini dibutuhkan bantuan mitra yang tepat. Kami sangat senang sudah ada tahapan investasi mengingat investa­si ini cukup besar nilainya,” terang Rini.

BACA JUGA :  Penjualan Mobil Listrik di Indonesia Melonjak 80 Persen, Jaecoo J5 Pimpin Pasar

Rachmad Hardadi, Direktur Pengolahan Pertamina menye­but RDMP Cilacap merupakan satu dari lima proyek RDMP Pertamina lain yaitu Plaju, Dumai, Balongan, Cilacap, dan Balikpapan. Apabila se­luruh RDMP ini selesai, maka kapasi­tas keempat kilang itu akan naik dari 820 ribu bph menjadi 1,61 juta bph.

Dengan kebutuhan bahan ba­kar minyak (BBM) nasional seban­yak 1,57 juta bph, sementara kapa­sitas kilang saat ini hanya mampu memproduksi 850 ribu bph maka defisit pasokan BBM ini masih di­penuhi dari impor. “Selain produksi bensin dan diesel, kapasitas petro­kimia juga akan meningkat, yakni aromatic meningkat hingga 600 KTPA dan polypropylene hingga 160 KTPA,” ungkap Rachmad.

Menurut Rachmad, tahapan saat ini merupakan kemajuan yang signifi­kan. Untuk melakukan proyek sebe­sar ini keberadaan mitra strategis den­gan kemampuan teknik dan finansial yang mumpuni sangat diperlukan. Pangkas Impor

BACA JUGA :  Penjualan Mobil Listrik di Indonesia Melonjak 80 Persen, Jaecoo J5 Pimpin Pasar

Rinaldy Dalimi, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), menilai kerja sama yang dilakukan Pertamina dan Saudi Aramco dalam pengembangan kilang Cilacap merupakan langkah positif. “Setiap usaha peningkatan produksi BBM melalui pembangu­nan atau perluasan kilang adalah positif karena akan mengurangi im­por BBM,” kata Rinaldy.

Pri Agung Rakhmanto, Pengajar Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti menam­bahkan kerja sama Pertamina dan Saudi Aramco untuk pengembangan Kilang Cilacap perlu segera direal­isasikan. “Saudi Aramco kan peru­sahaan besar, logis untuk security supply minyak mentah-nya. Pasokan bahan bakunya juga bisa dari mere­ka,” tegas Pri Agung.

Sementara Dito Ganinduto, Ang­gota Komisi VII DPR meminta kerja sama pengembangan Kilang Cilacap diharapkan juga bisa memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar kilang. “Jika memang petrochemical yang ingin dikembangkan, saya kira bagus kompleksitas lebih banyak. Jadi bisa lebih murah produksinya kan jadi sangat bagus,” tandasnya.(*)

 

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================