Budaya kekerasan ini berimÂbas kepada lahirnya manusia-maÂnusia sadis. Kriminalitas tumbuh sampai taraf yang mengkhawatirÂkan. Pembunuhan terjadi dengan berbagai modus. Ada mutilasi kepada orang terdekatnya, mengÂgunakan pembunuh bayaran, dibunuh lalu dimasukkan koper, dibunuh pasangan suami istri dan sebagainya. Sementara di kaÂlangan remaja terjadi degradasi moral yang luar biasa. Seks bebas menggejala. Video mesum tak hanya dibuat kalangan dewasa, tapi remaja bahkan siswa SMP. Bahkan ada pelajar SMP di SuraÂbaya yang menjadi mucikari unÂtuk kawan-kawannya sendiri. Tak heran jika sekarang anak seusia SD pun ada yang melahirkan (kaÂsus di Musi Banyuasin, Sumsel).
Di sisi lain, pendidikan yang diharapkan mampu melahirkan generasi terbaik, gagal. Banyak koruptor justru pernah mengÂenyam pendidikan tinggi. Bahkan diantaranya ada yang bergelar profesor dan doktor. Terbukti, pendidikan yang berjalan kering dari nilai-nilai moral dan etika, apalagi agama. Yang terlahir jusÂtru generasi yang permisif, hedoÂnis, materalis, dan individualis. Bela negara adalah membangun generasi penerus bangsa yang lebih baik dan lebih mulia dengan pendidikan bermutu dan gratis. Sebab generasi inilah kelak yang akan menggantikan generasi peÂmimpin bangsa hari ini. Bukan malah memberikan ruang bagi kebebasan pergaulan dan menÂgizinkan berbagai ajang amoral yang justru menambah keruÂsakan generasi penerus bangsa.
Krisis politik, sosial, budaya, hukum, ekonomi, dan sebagainÂya yang terjadi di dunia, khususÂnya di negeri-negeri Muslim, terÂmasuk Indonesia, saat ini, tidak dapat dipisahkan dari ideologi Kapitalisme. Artinya, ideologi Kapitalisme yang diterapkan itulah yang menjadi sumber dan akar berbagai krisis tersebut. SeÂbagaimana diketahui, ide dasar Kapitalisme adalah sekularisme, yaitu pemisahan antara agama dengan kehidupan. Sumber huÂkum dalam ideologi ini dari akal semata, karena pada satu sisi keÂberadaan Tuhan diakui, namun di sisi lain manusialah yang diÂanggap layak untuk menetapkan berbagai aturan.
Ideologi merupakan panÂdangan hidup yang menjadi asas dalam berbagai aspek kehidupan negara, seperti ekonomi, politik, budaya, hukum, pemerintahan dan lainnya. Di Indonesia, KapitalÂisme telah dipilih oleh pemerintah Orde Baru sebagai landasan dalam menyelesaikan berbagai persoalan saat itu yang dihadapi saat itu. DiÂantaranya melakukan liberalisasi ekonomi dan pasar, serta mengiÂkatkan diri dengan IMF dan Bank Dunia yang memberikan utang. Pada sisi lain, Indonesia harus membuka pasar dan kekayaan alamnya untuk dieksploitasi oleh pihak asing atas nama investasi dan pembangunan ekonomi.
Di era reformasi, IndoneÂsia semakin menyempurnakan agenda kapitalistiknya. Lahir berÂbagai undang-undang yang pro-kapitalis seperti UU Migas, UU Sumber Daya Air, UU Penanaman Modal, UU Kelistrikan dan sebÂagainya. Berdasarkan UU liberal inilah berbagai kebijakan ekoÂnomi dikeluarkan yang kenyataÂannya justru menimbulkan berÂbagai problem baru. Misalnya, kemiskinan dan pengangguran bukannya menurun, justru terus meningkat. Kekayaan sumber alam dikeruk asing, sementara utang negara terus menumpuk.
Kapitalisme gagal menyeÂjahterakan warga dunia. KapitalÂisme menciptakan ketidakadilan ekonomi dan kemiskinan strukÂtural, dan hanya menyenangkan para kapitalis. Meskipun terbukti gagal, namun kapitalisme masih bisa bertahan hingga saat ini. PeÂnyebabnya karena adanya dukunÂgan imperialisme atau penjajaÂhan global. Kapitalisme bersama turunannya yakni liberalisme, pluralisme, demokrasi, dan HAM dipaksakan oleh para kapitalis yang bekerja sama dengan kaum imperialis agar dijadikan ideologi oleh negara-negara di dunia. TuÂjuannya agar mereka bisa menÂciptakan kondisi yang memungÂkinkan untuk mengeruk kekayaan negara-negara tersebut dan menÂguasasinya secara politik.
Setiap penerapan sistem sekuler, yakni sistem yang tidak bersumber dari Allah SWT, Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta, pasti akan menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi umat manusia. DiÂkuasainya sumber daya kekayaan alam negeri ini oleh kekuatan asÂing, maraknya korupsi di seluruh sendi di seantero negeri, konflik horizontal yang tiada henti, kenaÂkalan dan kriminalitas di kalanÂgan remaja yang tumbuh di maÂna-mana adalah bukti nyata dari kerusakan dan kerugian itu. DitÂambah dengan kedzaliman yang diderita umat di berbagai negara, serta sulitnya perubahan ke arah Islam dilakukan oleh karena diÂhambat oleh negara Barat yang tidak kehilangan kendali kontrol atas wilayah-wilayah di Dunia Islam, semestinya menyadarkan kita semua untuk bersegera kemÂbali kepada jalan yang benar, yakÂni jalan yang diridhai oleh Allah SWT, dan meninggalkan semua bentuk sistem dan ideologi kufur, terutama kapitalisme yang nyata-nyata sangat merusak dan meruÂgikan umat manusia.
Demokrasi dalam teorinya adalah sistem yang memberikan ruang kepada kehendak rakyat. Tapi dalam kenyataannya negara-negara Barat tidak pernah memÂbiarkan rakyat di negeri-negeri muslim membawa negaranya ke arah Islam. Mereka selalu beruÂsaha agar sistem yang diterapkan tetaplah sistem sekuler meski dibolehkan dengan selubung Islam, serta penguasanya tetaÂplah mereka mau berkompromi dengan kepentingan Barat. ItuÂlah yang terjadi saat ini di negeri ini, sebagaimana tampak dari proses legislasi di parlemen dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah, khususnya di bidang ekonomi dan politik yang sangat pro terhadap kepentingan Barat. Cengkeraman Barat juga tampak di negeri-negeri muslim yang tengah bergolak seperti di Suriah, begitu juga di Mesir dan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah. Kenyataan ini juga semestinya memberikan perinÂgatan umat Islam untuk tidak muÂdah terkooptasi oleh kepentingan negara penjajah. Juga peringatan kepada penguasa dimanapun unÂtuk menjalankan kekuasaannya dengan benar, penuh amanah demi tegaknya kebenaran Islam, bukan demi memperturutkan nafsu serakah kekuasaan dan kesÂetiaan pada negara penjajah.
Bila kita ingin sungguh-sungÂguh lepas dari berbagai persoalan yang tengah membelit negeri ini seperti sebagiannya telah diuÂraikan di atas, maka kita harus memilih sistem yang baik dan pemimpin yang amanah. Sistem yang baik hanya mungkin datang dari Dzat yang Maha Baik, ituÂlah syariah Islam dan pemimpin yang amanah adalah yang mau tunduk pada sistem yang baik itu.
Karena itu, harus ada usaha sungguh-sungguh dengan penuh keikhlasan dan kesabaran serta kerjasama dari seluruh komÂponen umat Islam di negeri ini untuk menghentikan hegemoni ideologi kapitalisme sekuler mauÂpun komunisme atheis dengan ideologi Islam. Hanya dengan sistem berdasar syariah, IndoneÂsia dan juga dunia, benar-benar bisa menjadi baik. Syariah adalah jalan satu-satunya untuk memÂberikan kebaikan dan kerahÂmatan Islam bagi seluruh alam semesta, sedemikian sehingga kedzaliman dan penjajahan bisa dihapuskan di muka bumi. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















