“Tapi dampak psikologisnya yang besar. Pedagang atau middle man ini begitu dengar ada impor otomatis menunda pembelian, siapa tahu ada impor harganya turun,” tambahnya.

Efek psikologis di pasar tersebut berimbas pada kepastian harga di tingkat petani. Di sisi lain, bawang bukan komoditas yang bisa disimpan lama setelah panen, sehingga petani tak punya pilihan lain selain menjual di harga murah. “Karena pedagang memilih menunggu, terjadi banyak spekulasi. Petani pun akhirnya ber­spekulasi juga, daripada nggak laku lebih baik jual dengan harga seadan­ya (murah),” ujar Amin.

Sejumlah petani di sentra produksi bawang merah mengaku kesulitan menjual hasil panennya. Ini terjadi lantaran bawang merah yang sedianya bisa diserap oleh Pe­rum Bulog, malah ditolak oleh BUMN logistik pangan tersebut.

Sekretaris Perusahaan Bulog, Djoni Nur Ashari, mengungkapkan perusahaannya terpaksa menyetop pembelian bawang merah karena ada pedagang-pedagang nakal yang bermain dalam pengadaan bawang merah. “Kita hentikan dulu pem­belian bawang dari petani karena ternyata ada yang nakal. Kita tak mau rugi dalam penugasan ini,” kata Djoni kepada detikFinance, Senin (30/5/2016). Menurutnya, praktik nakal para pedagang sampai pet­ani bervariasi. Salah satunya yakni mengoplos bawang basah dengan bawang yang sudah kering. Hal ini membuat berat dan kualitas barang yang dibeli Bulog tak sesuai harapan.

BACA JUGA :  BRI Peduli, BO Bogor Pajajaran Serahkan Bantuan Perluasan Kantin “Warung Kita” IPB

“Contohnya ada yang memasuk­kan bawang basah, di luar bawang­nya kering. Barangnya juga rusak. Begitu kita angkut bawa ke Jakarta, ternyata baru 2 hari sudah rusak. Banyak yang nakal,” ujar Djoni.

Menyoal banyaknya aksi spe­kulan dengan menumpuk bawang agar dibeli Bulog,dirinya tak mau berkomentar. “Kita nggak mau tahu soal itu. Kita hanya ditugaskan pemerintah, tujuan kita juga hanya mau bantu petani,” pungkas Djoni.

Bantah Beli Murah

Yang jelas, banyak petani me­nolak menjual bawangnya, karena Bulog menawar dengan harga yang terlalu murah, seperti yang terjadi di Brebes dan Nganjuk, Namun, Djoni berujar tak benar jika Bulog menawar harga terlalu rendah pada petani.

BACA JUGA :  Sajian Lezat dengan Bubur Sagu Mutiara dan Jagung yang Lembut dan Nikmat

Menurutnya, perusahaan telah memiliki standar harga yang men­guntungkan Bulog sendiri dan juga petani. “Yang jelas tugas kita stabil­kan harga bawang merah. Macam-macam penentuannya, mulai dari tingkat kekeringan, sudah protolan (tanpa daun), dan lainnya. Masing-masing tak bisa pukul rata,” katanya.

Djoni mencontohkan, untuk bawang kualitas super, Bulog me­matok harga sebesar Rp 20.000/kg. Bawang tersebut kemudian dijual lagi dengan harga Rp 25.000/kg. Dengan standar harga tersebut, pi­haknya telah melakukan pengadaan sebanyak 1.200 ton.

“Dari awal penugasan sampai sekarang kita sudah beli 1.200 ton. Yang sudah kita pasarkan totalnya ada 500 ton. Harga jual kita Rp 25.000/kg,” pungkas Djoni.

 

Halaman:
« 1 2 » Semua
======================================
======================================
======================================