DSC2087LANGKAH Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengimpor 2000 ton ikan tuna, menuai kritik anggota dewan. Rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI ini pun, berlangsung hangat.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

Agenda rapat dengan Susi sebetulnya mem­bahas perubahan anggaran di APBN-P 2016. Namun seorang anggota Komisi IV, Sudin, sekonyong-konyong mengkritik kebijakan Susi yang dinilainya membuka keran impor ikan cu­kup besar seperti cakalang. Di sisi lain, KKP mencatat produksi ikan tengah melimpah.

“Ada impor ikan, sementara laporan KKP katanya hasil kelautan meningkat, impornya cukup banyak yang sampai 2.000 ton,” kata Sudin dalam rapat di DPR, Jakarta, Rabu (8/6/2016).

Ikan yang diimpor yang dimak­sud Sudin yakni impor ikan cakalang yang saat ini masuk ke Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara. “Ikan 2.000 ton bukan impor ikan spesifik. Kalau mau impor ikan salmon malah dipersulit, tapi impor cakalang gam­pang,” tambahnya.

BACA JUGA :  Wajib Coba, Ikan Bakar Jimbaran Bisa Jadi Menu Favorit Keluarga

Sudin menuturkan, jika alasan­nya untuk memenuhi kebutuhan ba­han baku industri pengolahan dalam negeri, hal tersebut dianggap tak rel­evan karena produksi ikan cakalang berlimpah. “Kalau buat bahan baku masih bisa, kecuali pada musim ter­tentu,” jelasnya.

Anggota Komisi IV lainnya, Her­man Khoirun juga mengajukan ke­beratan yang sama atas kebijakan im­por tersebut. “Impor cakalang yang dibuka luas apakah ini dampak dari Permen yang terbit?” tanya Herman kepada Susi yang didampingi selu­ruh pejabat eselon I KKP.

Menanggapi kritikan tersebut, Susi menjelaskan, bahwa impor ikan malah mengalami penurunan. Malahan, data impor selama dirinya menjabat sampai hari ini jauh lebih terbuka dibanding tahun-tahun lalu.

“Policy impor dari dulu sam­pai sekarang sama. Sebetulnya dari data, impor ikan kita turun, hanya jenis ikan tertentu, saya akui juga ada kesulitan impor salmon dari pengusa restoran, saya sudah minta itu diperbaiki,” jelas Susi.

BACA JUGA :  Menu Bekal dengan Balado Paru dan Tempe yang Enak dan Sedap Mudah Dibuat

Dia mengungkapkan, kalau pun ada jenis ikan cakalang yang perlu diimpor, itu dilakukan karena sistem logistik belum berjalan dengan baik. “Kalau sistem logistiknya sudah ba­gus bisa turun.

Ada industri yang selalu andal­kan impor dari dulu, tapi itu hanya 2,1% dari jumlah ikan yang kita pun­yai. Nggak ada diperluas impor, yang ada sekarang kita lebih terbukai in­formasinya. Yang 2.000 ton (impor) akan kita cek darimana asalnya,” ujar Susi.

Jadi Lokasi ‘Pencucian’

Susi mencurigai ikan impor yang masuk hanya untuk menjadikan In­donesia sebagai tempat ‘pencucian’ atau transit saja. Hal lantaran negara-negara tetangga kesulitan mengek­spor produk ikan mereka ke negara-negara Eropa.

“Dari negara luar dapat yellow card, sehingga nggak boleh jualan ke negara Eropa. Jangan sampai jadi tempat pencucian saja, semua yang masuk akan kita awasi,” kata Susi.

======================================
======================================
======================================