
CIBINONG, Today- Mengejar target rata-rata lama sekolah (rls) 9 tahun, Pemerintah Kabupaten Bogor mulai menggalakkan proÂgram desa mengajar yang telah dicoba di lima kecamatan pada tahun 2016 ini.
Kabupaten Bogor memang masih bermasalah dengan dua inÂdikator penciri kabupaten termaÂju dari sektor pendidikan. Yakni wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) 9 tahun dan penÂgentasan buta aksara.
Balai Pusat Statistik (BPS) KaÂbupaten Bogor mencatat, hingga 2015 lalu, lama sekolah di Bumi tegar Beriman baru menyentuh angka 8,04 tahun alias masih jauh dari target 9 tahun yang harus tuntas pada 2018 mendatang seÂbagai akumulasi menjadi KabuÂpaten Termaju di Indonesia.
Ancang-ancang mengubah tarÂget pun sudah tertuang dalam reÂvisi Rencana Pembangunan JangÂka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2018. Salah satu diantaranya menurunkan target wajar dikdas yang kini masih menunggu kepasÂtian perubahan penghitungan statistik ddi BPS.
Selain merevisi target di RPJMD, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bogor pun menggenÂjot program desa mengajar. AngÂgaran yang telah disiapkan pun tak tanggung-tanggung, mencaÂpai Rp 13, 6 miliar yang berasal dari APBD Kabupaten Bogor dan APBN.
Kepala Bidang Kesrasos pada Bappeda Kabupaten Bogor, Amy Sriwahyuni menjelaskan, dari total anggaran itu, Rp 600 juta dialokasikan untuk implementasi program desa mengajar yang meÂnyasar 1.000 warga belajar pada 2016.
Sedangkan Rp 13 miliar dialoÂkasikan untuk program reguler kejar Paket A, B dan C. Anggaran itu untuk mendongkrak wajar dikdas di kecamatan yang rls-nya berada dikisaran enam tahun. Yakni Kecamatan Leuwisadeng, Tenjolaya, Jonggol, MegamendÂung dan Klapanunggal.
“Kecamatan lain pun bisa mengajukan. Tapi tergantung liÂhat dulu PKBM disana, aktif atau tidak. Jangan sampai kita sudah alokasikan, malah PKBMnya tidak aktif. Selain itu, karena ini ada anggaran dari pemerintah pusat, PKBM juga harus memiliki berÂbadan hukum,†kata Emy, Selasa (14/6/2016).
Emy menambahkan, total unÂtuk program kejar paket yang bersumber dari APBN dan APBD Kabupaten Bogor itu mampu mencakup 28.410 warga belaÂjar sepanjang tahun 2016. “Dari APBD, Paket A 1.000 warga belaÂjar, Paket B 12 ribu warga belajar dan Paket C 10 ribu warga belajar. Kalau dari APBN, Paket A 500 warga belajar, Paket B, 2.810 dan Paket C 2.100,†lanjut Emy.
“Kami di Bappeda melihat anÂtusiasme warga untuk mengikuti. Jadi bukan tidak mungkin alokasi dari APBD kita tambah. Karena bukan cuma kuantitas yang dikeÂjar, tapi kualitas juga. Kepala desa pun harus membentuk kelompok mengajar yang bersinergi dengan PKBM yang sudah berbadan huÂkum,†kata dia.
Pembentukan kelompok menÂgajar, kata Emy, untuk merangÂsang aparat desa dalam meninÂgkatkan mutu pendidikan di daerahnya. “Sebenarnya bukan cuma aparat desa, tapi semua unÂsur di desa harus terlibat dalam mengaktifkan PKBM,†tukasnya.
Terpisah Kepala Bappeda KaÂbupaten Bogor, Syarifah Sofiah mengungkapkan, sebenarnya ada 10 kecamatan yang memiliki rls dibawah enam tahun. “Lima lagi nanti kita lihat dulu keaktiÂfan PKBMnya. Karena demi menÂdongkrak wajar dikdas, ini perlu diperhatikan. Tapi tetap, impleÂmentasinya ad di Dinas PendidiÂkan,†singkat Syarifah.
Ia menambahkan, untuk buta aksara Pemkab Bogor menarÂgetkan setiap tahun sebanyak 22 ribu warga belajar. “Jadi hingga 2018 kita bisa mencapai 101 ribu warga belajar untuk buta aksara,†pungkas Syarifah. (Rishad NoÂviansyah)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















