Sementara itu, Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khu­sus Brigjen Agung Setya Imam Effendi mengatakan, dari pe­nyelidikan awal ditemukan beberapa penjual vaksin yang tidak memiliki izin di Karang Satria, Bekasi.

“Di Karang Satria, Bekasi terdapat vaksin palsu. Setelah kita kembangkan kita menang­kap saudara J sebagai pemilik toko Askal Medical yang be­rada di Karang Satria, Bekasi,” ujar Agung dalam jumpa pers di Bareskrim Polri, Jl. Truno­joyo, Jakarta Selatan, Kamis (23/6/2016).

Menurut Agung, jaringan vaksin palsu ini memiliki 3 kelompok, yakni produsen, distributor hingga pihak yang menyerahkan langsung ke pengguna. 3 Kelompok itu di­tangkap di tiga tempat yang berbeda yakni Puri Hijau Bin­taro yang merupakan tempat produsen, kedua di Jl. Serma Achim Bekasi Timur dan Ke­mang Regency, Bekasi.

“Di situ kita menangkap para pembuat dan menge­tahui bagaimana vaksin itu dibuat, Di lokasi yang di atas tadi yakni gudang atau rumah biasa, namun dari segi higienis tidak memenuhi standar,” tu­tur Agung.

Agung menerangkan, bah­an dasar vaksin tersebut yakni mereka mulanya menginjeksi dengan cara menyuntikkan cairan infus dicampur dengan vaksin tetanus. Hasilnya yakni vaksin palsu untuk hepatitis, BCG, dan campak. “Untuk menyempurnakan (vaksin), di-press dengan alat press, kemu­dian dikemas dan di-packing lalu didistribusikan,” tuturnya.

BACA JUGA :  DPRD Kota Depok Studi Banding ke Diskominfo Terkait Internet Sehat

Dalam kasus ini polisi men­gamankan 10 orang dengan rincian 5 orang produsen, 2 orang sebagai kurir, 2 orang se­bagai penjual termasuk pemi­lik apotek di Bekasi berinisial J dan satu orang yang mencetak label. Polisi juga menangkap 3 orang lagi siang ini di Subang, Jawa Barat. “Pelaku kita ke­nakan UU tentang Kesehatan maupun UU terhadap Per­lindungan Konsumen dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara,” ucap Agung.

Ada beberapa cara men­genali vaksin wajib (hepatitis, BCG dan campak) palsu den­gan yang asli. Direktur Tin­dak Pidana Ekonomi Khusus Mabes Polri Brigjen Agung Setya Imam Effendi menerang­kan caranya dengan melihat kemasan dan harga. “Pertama, yang palsu kemasannya tidak sesempurna aslinya. Kedua, ada perbedaan harga dari yang asli. Bisa selisih Rp 200 ribu-Rp 400 ribu,” ujar Agung.

Keuntungan yang didapat pelaku cukup menggiurkan, yaitu Rp 25 juta per minggu untuk produsen dan Rp 20 juta per minggu untuk distrib­utor. Pelaku membuat vak­sin palsu tersebut di sebuah rumah di Puri Hijau Bintaro. Mereka memproduksi dari ta­hun 2003.

BACA JUGA :  Pria di Deli Serdang Ditemukan Tewas, Diduga Hanyut di Sungai Buaya

Agung menerangkan, ba­han vaksin palsu adalah cairan infus dicampur dengan vaksin tetanus. Lalu mereka menge­masnya dan menjualnya se­bagai vaksin wajib (hepatitis, BCG, dan campak). “Kan dia pakai satu kotak vaksin teta­nus. Kalau vaksin tetanus itu dicampur dengan infus bisa jadi 100 ampul vaksin. Jadi modalnya Rp 150 ribu buat beli vaksin tetanus dan cairan infus,” beber Agung.

Vaksin palsu ini disebar­kan salah satunya ke apotek di Kramat Jati, Jakarta Timur. Se­lain itu, vaksin juga diedarkan ke rumah sakit. Agung men­erangkan pihaknya hingga kini masih mendalami adanya ker­jasama antara pelaku dengan rumah sakit. “Akan kita dalami itu. Yang kita tahu distribusi vaksin diatur dan ada quality control dalam pendistribusian barang,” ucap Agung.

Menyikapi kasus itu, salah satu produsen resmi vaksi Bio Farma menyampaikan pihaknya dalam melakukan produksi vaksin sesuai standar ketat WHO yang merupakan organisasi kesehatan dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). (*)

Halaman:
« 1 2 » Semua
============================================================
============================================================
============================================================