Untitled-2JAKARTA, TODAY—Sejumlah mata uang du­nia rontok terdampak Brexit. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) sempat naik tinggi terh­adap rupiah pagi kemarin. Namun menjelang sore ini, mata uang Paman Sam malah turun drastis.

USD memang sempat menguat terhadap sejumlah mata uang negara lain setelah hasil referendum Inggris memenangkan suara untuk keluar dari Uni Eropa, atau dikenal dengan istilah Brexit.

Pekan lalu, The Greenback jadi mata uang paling berjaya akibat euro dan poundsterling yang melemah. Penguatan USD ini masih berlangsung hingga pagi tadi, ketika berada di posisi Rp 13.510.

Seperti dikutip dari data perdagangan Reuters, Senin (27/6/2016), menjelang sore ke­marin, USD langsung turun cu­kup dalam sampai ke kisaran Rp 13.274. Berikut ini penam­pakan anjloknya USD lebih dari 200 poin dalam sehari.

Sementara itu, mata uang Uni Eropa, Euro, juga terkena imbasnya. Koreksi yang terjadi terhadap euro sudah terjadi sejak pekan lalu, pascaref­erendum Brexit disepakati. Waktu itu, euro sempat jatuh hingga di kisaran Rp 14.500. Kemarin, koreksi euro masih berlanjut. Seperti dikutip dari data perdagangan Reuters, Senin (27/6/2016), euro sem­pat jatuh ke titik terendahnya di Rp 14.703.

BACA JUGA :  Duh! Oknum Operator PPDB SMPN 3 Citeureup Diduga Manipulasi Data, Orang Tua Protes

Sepanjang tahun ini, euro sempat menanjak ke posisi ter­tingginya di Rp 15.449. Namun, euro terpaksa lengser setelah warga Inggris memutuskan berpisah dari Uni Eropa. Ke­marin, euro bahkan tidak sempat mencapai Rp 15.000-an. Tertingginya hanya di Rp 14.870.

Tak hanya USD dan euro, efek hasil referendum (Brex­it) juga membuat nilai tukar poundsterling anjlok hingga ke titik terendahnya sejak 1985 terhadap USD. Tak hanya ke mata uang Paman Sam, pound juga melemah terhadap rupi­ah. Sebelum geger Britain Exit alias Brexit, pound masih be­rada di kisaran Rp 19.000-an.

Setelah Brexit, mata uang Inggris itu langsung langsung terpuruk. Seperti dikutip dari data perdagangan Reuters, Senin (27/6/2016) pagi, pound sempat jatuh ke titik terenda­hnya di Rp 17.897 setelah dibu­ka melemah di Rp 17.968.

Pound tetap berada di garis merah hingga menjelang siang kemarin, berada di posi­si Rp 17.965 sekitar pukul 11.45. Posisi tertinggi pound kemarin di Rp 18.059.

Kepala Riset MNC Secu­rities Edwin Sebayang men­gatakan, pergerakan rupiah masih dibayangi oleh peris­tiwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Pasalnya, hal ini merupakan respons pelaku pasar dari ketidakmenentuan Brexit.

BACA JUGA :  Southgate Mundur Sebagai Pelatih Inggris Usai Kalah di Final Euro 2024

“Saya khawatir karena enggak menentu ini makanya orang mulai memburu do­lar. Di situ Indonesia juga ikut terkena imbasnya,” kata dia, Senin (27/6/2016).

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengatakan, angka penutupan tersebut menjadi indikasi jika pasar modal Indonesia sudah cu­kup kuat. “Kita berbangga pasar modal sudah punya ke­tahanan cukup kuat,” kata dia saat membuka perdagangan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin (27/6/2016).

Pasar modal di negara lain justru terpuruk. Ada yang tu­run sampai minus 3 persen, bahkan bursa Jepang turun sampai 8 persen. “ Ada yang turun 3 persen, bahkan Nikkei turun 8 persen” tambah dia.

Dalam mengembangkan pasar modal OJK telah melaku­kan terobosan dengan Self Regulation Organization (SRO) lainnya. Kuncinya, lanjut dia, dalam ketentuan yang dibuat ialah mempermudah perusa­haan untuk melepas saham serta memperbanyak investor.

Nurhaida menambahkan, untuk memperkuat pasar modal Indonesia, OJK terus memaksimalkan pelayanan dalam perdagangan saham. “Saya menyatakan pasar mod­al kita cukup bersaing dengan pasar modal lain. Kemuda­han, kejelasan, dan hal-hal perlindungan investor sudah kita tingkatkan,” tandasnya.(Yuska Apitya/dtk/ed:Mina)

Bagi Halaman
======================================
======================================
======================================