Ritus mudik lebaran ini adalah ritus “manajerial nasional” atau proyek nasional yang melibatkan kes­eriusan pemerintah, lembaga (bisnis) swasta, dan ma­syarakat itu sendiri. Ritus mudik lebaran ini melibatkan dana bukan hanya dalam skala keluarga-keluarga prib­adi, melainkan dana umum, dana negara, dana swasta, serta fasilitas dan angkatan bersenjata negara.

Sebagaimana terjadi beberapa tahun terakhir, un­tuk mengatasi arus penumpang mudik Lebaran, TNI merasa perlu menggerahkan ratusan armada angku­tan militernya (truck, kapal laut, dan pesawat terbang) untuk mengangkut lonjakan pemudik Lebaran dalam jumlah sangat besar. Bukankah ini merupakan “ritus nasional” karena keterlibatan sumber daya dan fasilitas nasional yang harus dikelola?

BACA JUGA :  HARI KEBANGKITAN NASIONAL PERLU PELURUSAN SEJARAH?

Di negera industri maju seperti Amerika Seri­kat (AS) misalnya, yang mempunyai ritus christmas day dan thanksgiving day, di mana pada ritus tersebut mereka jadikan sebagai ajang untuk berkumpulnya se­luruh keluarga inti mereka. Tapi, apakah mudik christ­mas dan thanksgiving bagi masyarakat AS sefenomenal atau sekompak “mudik lebaran” di Indonesia yang meli­batkan orang, sumber daya, dan fasilitas negara dalam skala besar?

Bagi kaum agamis yang menitikberatkan pandan­gannya dari sudut penghayatan agama, barangkali ber­pendapat bahwa kondisi ini dapat dipertahankan apa­bila akar penghayatan agama dalam masyarakat masih tetap kuat. Bagi para pengamat masalah sosial mungkin berpendapat sebaliknya, bahwa kondisi tersebut akan berubah secara meyakinkan apabila kita sudah berubah menjadi masyarakat kota (metropolitan), dan tidak lagi menjadi masyarakat desa (rural society), dimana hubungan antara keluarga jaringan dengan keluarga inti menjadi semakin renggang.

BACA JUGA :  SOLUSI AGAR GURU BEBAS DARI PINJOL

Bagi kaum determinis budaya, fenomena ritus mu­dik Lebaran adalah fenomena budaya yang paling men­dasar dan paling mentradisi. Apabila kita tidak dapat mempertahankan tradisi ini, maka kita akan kehilangan akar budaya. Bila suatu masyarakat kehilangan akar bu­dayanya, maka masyarakat tersebut akan kehilangan pegangan hidup, dan kehilangan segalanya.(*)

Halaman:
« 1 2 » Semua
============================================================
============================================================
============================================================