Menanti Gebrakan Kapolri Jenderal Tito

Selain Santoso, Tito juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap kelom­pok ISIS. Terlebih ISIS kini diketahui telah mengeluarkan surat kabar berbahasa me­layu. “Kita terus waspada pada ISIS, karena ini fenomena global. Di kita sudah ada jar­ingan pendukungnya. Di beberapa negara lain juga Malaysia, Thailand, Filipina semua ada. Sepanjang ISIS itu masih eksis di Timur Tengah, konflik di Timur Tengah ada, maka kita mendapat tumpahan-tumpahannya saja. Oleh karena itu, kita menekan semak­simal mungkin jaringan yang ada di Indo­nesia,” kata Tito.

Tito mengatakan, Indonesia telah men­jalin kerja sama dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Namun itu tidak serta merta menyelesaikan masalah. “Se­jago-jagonya intelijen, ada saja kan mung­kin yang ada lolosnya. Kita lihat bagaimana Amerika bisa bobol, London bisa bobol, Prancis bisa bobol. Kita bisa maksimal menekan jaringan yang ada di sini, tapi kita juga berharap di tingkat Asia Tenggara kita mempererat kerja sama intelijen, terutama juga kita harapkan komunitas internasional mampu menyelesaikan konflik-konflik di Timur Tengah, termasuk menekan jaringan ISIS di Suriah dan Irak,” jelas Tito.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menga­manatkan dua pesan penting kepada Kapolri Jenderal Pol M Tito Karnavian, yakni menin­gkatkan soliditas dan melakukan reformasi di tubuh Polri. Tito menegaskan, dirinya siap menjalankan amanat Presiden itu.

Tito mengatakan, dua arahan Presiden Jokowi tersebut akan dijadikannya sebagai prioritas utama. “Dua-duanya (prioritas), namanya perintah saya harus laksanakan,” kata Tito usai pelantikan dirinya sebagai Kapolri di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (13/7/2016).

BACA JUGA :  PWI Kabupaten Bogor Gelar Safari Jurnalis 2026 di Cisarua, Dorong Literasi Digital Masyarakat

Soal soliditas Polri, Tito mengatakan dirinya akan membangun organisasi Polri lebih solid di semua level, baik di level se­nior hingga junior. “Di level elite pimpinan, saya menyadari banyak senior, ada junior, saya juga junior di situ. Tapi saya cukup op­timis dilihat dari semenjak pengumuman pencalonan sampai dengan hari ini. Mung­kin bisa dilihat juga hampir semua bintang dua ke atas juga hadir yang di Jakarta. Kemudian yang bintang 3 juga hadir. Dan saya kira banyak memberikan dukungan-dukungan,” kata Tito.

Ditegaskan Tito, memperkuat kekom­pakan di tubuh Polri adalah komitmennya dan juga kepentingan bersama antar ang­gota Polri. “Kalau Polri-nya baik akan dapat bermanfaat bagi perkembangan demokrasi dan sistem pemerintah, termasuk menjadi negara dan bangsa yang kuat,” kata Tito.

Sementara itu, terkait masalah refor­masi birokrasi di tubuh Polri, Tito men­gatakan hal itu berkaitan dengan kultur dan perilaku anggota Polri. Dia ingin agar anggota Polri jadi lebih humanis dan tidak korupsi. “Reformasi ini terutama yang ber­hubungan masalah, satu kultur perilaku anggota yang lebih humanis, perilaku yang non koruptif itu ditekan semaksimal mungkin. Memang membutuhkan waktu, karena berhubungan dengan masalah kes­ejahteraan lain-lain,” katanya.

Tito melanjutkan, reformasi birokrasi juga berkaitan dengan arogansi kekua­saan. Dia sudah menyiapkan beberapa program khusus untuk menekan masalah ini. “Ada sejumlah program yang kita lun­curkan nantinya. Dari 10 program pada saat visi misi saya, fit and proper test, Pak Wakapolri sudah menyiapkan langkah-langkah taktisnya. Kemudian nanti hari Jumat (15/7/2016) saya akan kumpulkan semua dalam bentuk commander wish saya dengan Bapak Wakapolri nanti akan memberikan arahan teknis apa yang akan dilakukan,” jelas Tito.

BACA JUGA :  Pemkab Bogor Perkuat Perlindungan Generasi Muda Lewat Kolaborasi dengan Pesantren dan DKM

Selain itu, Tito juga menegaskan dirinya akan melakukan peningkatan kin­erja Polri. Terutama yang berkaitan dengan pelayanan publik. “Agar pelayanan publik menjadi lebih baik. IT akan kami manfaat­kan. Di samping itu sistem dimulai dari Pak Presiden menjelaskan dimulai dari hulu, rekrutmennya mencari orang-orang yang baik, orang-orang yang tepat untuk men­jadi polisi. Karena rekrutmen seleksi awal itu 70 persen menentukan kinerja. Kalau memilih orang yang tidak tepat, orang yang salah, bukan mereka nanti akan menjadi pelindung pengayom tapi akan menjadi pengganggu masayarakat,” jelas Tito. “Dan mereka memiliki kewenangan, memiliki se­ragam. Rekrutmen yang baik seleksi yang baik, pendidikan yang baik kurikulum yang baik, yang juga budaya non koruptif kita kembangkan di situ termasuk pengiriman sejumlah anggota polisi muda untuk ke luar negeri dalam program LPDP 70 orang yang berangkat dari Akpol. Kita harapkan ada percepatan regenerasi karena mereka nanti bukannya hanya mendapatkan ilmu di negara yang indeks korupsinya rendah, seperti di Amerika dan Inggris. Kita harap­kan mereka juga bisa membawa kultur ke sini, kultur mereka mindset mereka adalah mindset yang non kopruptif. Ini yang ban­yak kita lalukan nanti dalam rangka refor­masi internal,” tambah Tito.

(Yuska Apitya Aji/ed:Mina)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================