Kudeta tahun 1965 hanya bermodal penggirÂingan opini dan memperalat warga sipil untuk membantai pihak yang jadi kambing hitam. SeÂmentara, Kudeta yang terjadi di Turki mengguÂnakan kendaraan militer seperti Tank, helikopÂter dan pesawat F-16. Belum sempat faksi militer di Turki memperalat bahkan memprovokasi warga sipil.
Pada akhirnya, Kudeta di Turki dipastikan gagal. Mengapa kudeta disana gagal total? Ada 2 faktor: pertama, faksi militer yang melakukan kudeta belum sanggup merebut obyek vital di Turki seperti istana Kepresidenan, bandara, staÂsiun TV nasional dll.
Kedua, militer yang melakukan kudeta tiÂdak mendapat moment yang tepat. Moment dimana jutaan rakyat Turki masih mempercayai leadership Reccep Tayeb Erdogan. Berbeda saat menjelang tahun 1965, dimana kala itu, rakyat Indonesia muak dengan kondisi Negara dibawah kepemimpinan Sang ploklamator. KetiÂga, Negara asing tidak ada yang sepakat dengan upaya kudeta tersebut. Baik Uni eropa, Amerika maupun Arab Saudi.
Dalam siaran “Breaking news†yang tayang di Euronews, BBC, France24 dan CNN terliÂhat ribuan rakyat mencegah tank tank dan truk militer. Mereka berpihak dan bersimpati kepada Erdogan. Karena bersimpati, mereka tidak bisa diperalat melakukan pembantaian brutal sepÂerti rentetan peristiwa 1965 s/d 1966.
Pasca kudeta yang gagal, presiden Erdogan memberi pernyataan dihadapan rakyatnya, dikuÂtip dari Euronews: “This is a betrayal movement and they will pay a high price for their actions. We will not tolerate attempts to undermine our DeÂmocracyâ€. Artinya : ini adalah gerakan pengkhiÂanatan (kudeta) dan mereka akan membayarnya dengan harga yang mahal atas aksi mereka. Kami tak akan mentolelir percobaan kudeta ini karena merusak demokrasi kita.(*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















