Jika ada istilah mencintai taÂnah air adalah bagian dari iman, maka yang terpenting adalah benar dalam mendefinisikan dan benar dalam mengekspresiÂkan cinta itu. Maka seharusnya dengan bimbingan iman pula, negeri ini harus dicintai denÂgan merawat dan menjaganya. Merawat dengan menumbuhÂkan seluruh potensi masyarakat dan potensi alam agar menjadi bangsa yang berkualitas. MenjaÂga dengan melindungi dari segÂala bentuk ancaman dan penjaÂjahan asing yang ingin merusak negeri ini. Tentu dengan tuntuÂnan iman kepada Allah. Adakah para pemimpin negeri ini telah melakukan hal demikian ?
Bahkan amanah konstitusi negeri inipun telah dengan tegas mengharuskan seluruh sumber daya alam dikelola oleh negara dan diperuntukkan bagi kemakmuran seluruh rakyat InÂdonesia. Menyerahkan pengeloÂlaan sumber daya alam kepada asing adalah tindakan yang meÂlanggar konstitusi itu sendiri. Apalagi jika kebijakan itu justru semakin menambah kemiskiÂnan rakyatnya sendiri.
Masih adakah cinta di negÂeri ini. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh para pemimpin negeri ini setelah mendapatkan amanah mengurus negeri kaya sumber daya alam ini. SementaÂra rakyat masih sulit nyari kerja dan bahkan yang sudah kerja di PHK, pemerintah justru menÂdatangkan jutaan tenaga kerja dari china. Kebijakan-kebijakan rezim kali ini tak lagi dapat diraÂsakan manfaatnya oleh rakyatÂnya sendiri. Sebaliknya pemerÂintah justru condong untuk mensejahterakan warga asing. Sementara rakyat sendiri masih harus bermimipi untuk meraÂsakan kesejahteraan karena suÂlitnya mendapatkan pekerjaan, pemerintah justru menerapkan bebas visa bagi warga asing. SeÂmentara rakyatnya tak mampu memiliki sepetak tanah unÂtuk rumah, pemerintah justru membolehkan warga asing meÂmiliki tanah dan properti.
Masih adakah cinta di negeri ini. Sementara petani menjerit kesulitan lahan dan mahalnya pupuk kimia, pemerintah jusÂtru membolehkan asing menÂguasai industri gula dan karet. Sementara rakyat menjerit karena biaya listrik terus meroÂket, pemerintah justru memÂbolehkan saham pembangkit listrik dikuasai asing. Sementara rakyat diminta untuk menjaga kearifan budaya lokal, pemerÂintah justru membolehkan asÂing menguasai saham bioskop di Indonesia. Masih ada banyak aspek ekonomi yang akan diÂkuasai asing seperti pariwisata, tol, bandara, pelabuhan dan lainnya. Lantas apa yang terÂsisa untuk rakyatnya sendiri. Inikah buah revolusi mental itu. Jangan-jangan rakyat indonesia kelak tak lagi boleh tinggal di negerinya sendiri.
Bukti cinta kepada IndoneÂsia adalah dengan merawat dan menumbuhkan negeri ini menÂjadi negara yang mandiri dan berdaulat. Mencintai Indonesia adalah dengan membela rakyat sendiri dengan memberikan tingkat kesejahteraan tertinggi di negeri sendiri. Jangan sampai menyuruh rakyatnya menjadi TKI, sementara tenaga kerja asÂing justru diundang dan dimanÂjakan. Ini adalah bentuk logika terbalik yang harus dipertangÂgungjawabkan pemerintah keÂpada rakyat jika dikaitkan denÂgan janji-janji kampanye ketika jelang pemilu presiden.
Mencintai Indonesia dengan memahami bentuk penjajahan gaya baru sebagai musuh yang akan merugikan negeri ini seÂbagaimana zaman kolonial di masa lampau. Neokolonialisme seperti kapitalisme sekuler dan komunisme atheis adalah dua bentuk penjajah baru melalui hegemoni ekonomi, politik, budaya, pendidikan dan sosÂial yang jauh lebih berbahaya dibandingkan zaman kolonial pra kemerdekaan. NeokolonialÂisme adalah bentuk dari proxy war yang harus dilawan dan diusir dari negeri ini, jika masih mencintai Indonesia.
Mencintai Indonesia adalah dengan menumbuhkan dan memberdayakan seluruh poÂtensi SDM bangsa ini untuk berÂsama membangun bangsanya sendiri. Mencintai Indonesia adalah dengan menerapkan sistem pemerintahan yang lebih adil dan berkah jauh dari sifat-sifat sekulerisme dan liberalÂisme apalagi atheisme. Sistem pemerintahan yang dibimbing oleh nilai keimanan kepada TuÂhan Yang Maha Esa. Sebab AlÂlah telah menciptakan manusia sekaligus menciptakan hukum untuk mengaturnya.
Mencintai Indonesia dengan mendefiniskan cinta atas bimbÂingan iman dan mengekspresiÂkan cinta sejalan dengan nilai-nilai keimanan kepada Allah adalah bentuk komitmen kesyuÂkuran kepada Allah atas seluruh anugerah bumi pertiwi ini. DenÂgan kesyukuran kepada Allah sang Pemilik jagad raya, maka keberkahan hidup akan menyÂertai kehidupan berbangsa dan bernegara selruruh rakyat. SeÂbaliknya, ketidaksyukuran akan mendatangkan kesempitan dan bahkan murka dari Allah. Mencintai Indonesia dengan bimbingan iman adalah bentuk kesyukuran yang akan semaÂkin meningkatnya ketaqwaan dan ketundukan kepada Allah. Saatnya mencintai Indonesia dengan cinta yang benar, bukan malah mengkhianati. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















