Posko Vaksin Palsu Bogor Sepi Laporan

Sementara itu, Dinkes Kota Bogor telah menjamin vaksin yang beredar di Kota Hujan terjamin keasliannya. Namun, khawatir ada penyusupan vaksin palsu, sebanyak 150 tenaga kesehatan, dokter dan bidan, mengikuti sosialisasi penanga­nan bahaya vaksin palsu.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Rubaeah mengatakan, pihaknya terus meningkatkan pengawasan penyaluran vaksin untuk memastikan tidak ada vak­sin palsu yang beredar di Kota Bogor. Selain itu, pengawasan juga melibatkan sejumlah organisasi dokter dan bidan, di antaranya Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Ika­tan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Per­satuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). “Kita terus melakukan pantauan ke sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, klinik, dan praktek dokter. Pemerintah berkomitmen mem­berikan pelayanan terbaik kepada ma­syarakat,” kata Rubaeah, kemarin.

BACA JUGA :  Hukum Makan dan Minum Menggunakan Wadah Emas dalam Islam, Haram atau Makruh?

Rubaeah melanjutkan, pembelian vak­sin, obat, dan alat kesehatan untuk rumah sakit, klinik, maupun praktik mandiri, ha­rus melalui satu pintu dan tidak diperke­nankan pembelian secara perorangan. Edaran ini harus dilakukan untuk memini­malisasi peredaran vaksin palsu dan fasili­tas kesehatan berbahaya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pence­gahan Pengendalian Penyakit dan Penye­hatan Lingkungan (P3PL) Dinkes Kota Bo­gor Edi Darma mengatakan, sempat ramai beredarnya kalau vaksin palsu di rumah sakit dan klinik Jabodetakbek berasal dari Kota Bogor. Namun, setelah dilakukan penyelidikan dan pengawasan, tidak ada bukti yang memastikan tuduhan itu. “Kami belum mendapat laporan ditemukannya vaksin palsu di Kota Bogor karena kami memiliki sistem vaksinasi untuk anak bayi dan balita yang sangat ketat,” tutur Edi.

BACA JUGA :  Kontingen Pelajar Kota Bogor Rajai POPWILDA I Jawa Barat

Edi menambahkan, pendistribusian vaksin di Kota Bogor sangat ketat. Berawal dari Dinkes, vaksin didistribuskan ke pusk­esmas, posyandu, dan rumah sakit. Bahkan, pengawasan kualitasnya pun sangat diper­hatikan. “Langkah itu mulai pengecekan kemasan hingga menjaga suhu vaksin tetap pada 2 derajat celcius hingga 8 derajat cel­sius menggunakan sistem pendingin cang­gih. Bio Farma yang memproduksi vaksin tersebut sudah teruji kualitasnya dan di­rekomendasikan serta diakui WHO, bah­kan mengekspor ke lebih dari 100 negara,” terangnya.(Yuska Apitya Aji/ed:Mina)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================