Genealogi Kaum Fanatik-Teroris

Bagi Nietzsche, filsafat bu­kanlah sekedar analisis men­dalam tentang realitas. Bersama Freud dan Marx, Nietzsche sering disebut sebagai maîtres de soupçon (guru-guru pencuri­ga). Ia mencurigai bahwa tiap filsafat (pemikiran) menyembu­nyikan diri si pemikir sendiri.

Lewat pertanyaan genealo­gis “apa yang sejatinya dimaui seseorang ketika menghendaki sesuatu” (A. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche, Yog­yakarta: Galangpress, 2004, hlm. 171), Nietzsche membedah motif tersembunyi di balik filsa­fat atau kothbah yang tampak baik, benar, suci dan objektif. Bila banyak filsuf suka berdebat tentang doktrin dan kebenaran, Nietzsche menyatakan dirinya “psikolog” yang lebih berminat menyelidiki “mengapa orang mempercayai apa yang ia per­cayai sebagai kebenaran”.

Ketika orang memuja ke­benaran, Nietzsche memper­lihatkan jangan-jangan di situ ada insting gerombolan kaum bingung yang mencari pegan­gan buat diri mereka sendiri. Alih-alih meninggikan kebena­ran, akan terbukti bahwa mer­eka justru mempertontonkan kekosongan kebenaran pujaan tersebut. Mengapa? Karena di tangan kaum budak, kebena­ran malah meluluhlantakkan realitas. Kaum ISIS yang riuh meneriakkan kebenaran Daulah Islamiyah mempertontonkan absurditas kebenaran karena defakto hanya kebengisan tanpa tara yang mereka laku­kan. Moral yang dipraktikkan di balik klaim kebenaran yang diusung justru memerosokkan kebenaran ke jurang kelam se­jarah manusia.

Dalam Beyond Good and Evil § 10, Nietzsche menunjuk dengan jelas bahwa orang yang memiliki kebutuhan besar akan pegangan/kebenaran adalah kaum fanatik moral yang puri­tan, yang lebih baik mendekap mati-matian nothing (kekoson­gan) daripada tanpa pegangan sama sekali. Orang fanatik bin­gung dengan hidupnya yang serba kalah, ia pikir dengan mendekap ideal asketik ia menemukan makna, terbebas­kan dari dunia kosong hampa makna yang ia benci. Dan nyat­anya moral yang ia usung justru membuat dunia ini makin run­yam. Sebagus dan sehebat apa pun moral yang dikothbahkan, moral nihilistik kaum budak adalah pertanda “a despairing mortally weary soul, jiwa yang lelah, putus asa, sekarat.”

BACA JUGA :  Pancasila di Tengah Disrupsi Digital

Fanatisme Teroris

Mohamed Lahouaiej- Bouhlel, lahir di Tunisia, pelaku teror truk di Nice (14 Juli 2016 lalu), menurut kesaksian ayahn­ya, adalah orang yang memiliki masalah psikologis (Kompas, 17 Juli, hlm. 15). Omar Mateen, pelaku penembakan di Orlando (12 juni 2016), adalah seorang gay yang bingung dengan keras­nya agama yang ia anut sendiri.

Mentalnya tidak stabil, me­nikah dua kali, dan kacau hidup rumah tangganya. Hasna Aït Boulahcen, 26 tahun, yang terli­bat dalam serangan di Bataclan Paris tahun lalu, adalah gadis pinggiran kota Paris yang rada gila, penikmat kehidupan, di­juluki cow girl karena tomboy dan berpakaian macho, tak jauh dari alkohol dan narkoba. Anak yang tak pernah baca Al Quran ini tiba-tiba berbaju burqa di tahun 2013, dan 2015 menjadi complice teror me­matikan di Paris (130 tewas). Al Zarqawi pendiri ISIS juga dikenal sebagai bajingan kecil, pelaku kekerasan, bertatto, dan menemukan ide-ide radikal se­bagai pegangan yang member­inya makna hidup.

BACA JUGA :  HARUSNYA ORANG INDONESIA PERILAKUNYA SESUAI DENGAN SILA-SILA YANG ADA DI PANCASILA

Fanatisme dan terorisme bukan privilese orang miskin dan bodoh. Orang pandai dan kelas menengah banyak juga yang labil psikologinya. Para teroris di Dakka (Bangladesh), bulan ramadhan yang lalu, adalah anak-anak kaya berpen­didikan universitas. Al Bagh­dadi adalah kandidat doktor dalam tafsir Hadits. Dan jangan lupa, Bin Laden adalah aris­tokrat kaya raya Saudi Arabia.

Fanatisme kaum teroris tidak muncul karena agama, kebodo­han atau kemiskinan. Seperti labilnya kaum ABG, psikologi yang sakit tidak mengena status sosial dan pendidikan. Terakhir, bagi Nietzsche, moral budak dan moral tuan hanyalah dua tipolo­gi moral yang hadir dalam satu orang yang sama. Gradasinya saja yang berbeda. (Imam/Satu­harapan.com)

Penulis adalah pengajar di STF Driyarkara, Jakarta

Sumber: Satuharapan.com

 

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================