
Di luar itu, selain sektor konsumsi rumah tangga yang diprediksi mulai menanjak, nilai ekspor juga mengalami perbaikan pasca membaiÂknya harga komoditas utama. “Konsumsi rumah tangga naik didukung terjaganya daya beli dan meningkatnya pendapaÂtan, serta didukung inflasi yang terkendali. Kemudian ada perbaikan ekspor dengan membaiknya harga komoÂditas. Harga palm oil conÂtohnya mengalami kenaikan di triwulan kedua sebesar 18% dibandingkan YoY tahun lalu,†ucap dia.
Catatan sentimen positif lainnya, sambung Agus, bisa dilihat pada arus dana asÂing yang masuk. Sampai 25 Juli 2016 lalu saja, sudah ada Rp128 triliun dana asing yang masuk sebagai respons atas pemberlakuan tax amnesty. “Kita sampai Juni saja masuk Rp102 triliun, sekarang samÂpai 25 Juli dana masuk sudah sampai Rp128 triliun. Coba bandingkan dengan tahun lalu, satu tahun saja Rp55 trilÂiun. Artinya, itu jumlah yang sangat besar, nah ini masuk ke pasar modal, pasar keuangan seperti SBN (Surat Berharga Negara), juga pada instrumen BI,†terang Agus.
Nilai tukar rupiah terÂhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan terakhir terbilang stabil. Mata uang Negeri Paman Sam terseÂbut saat ini berada di level Rp13.120. Sejak pekan kemaÂrin, dolar AS bergerak tak jauh-jauh dari level Rp13.090.
Agus menilai, rupiah saat ini dalam kondisi stabil. Dia menjelaskan, salah satu alasan utama stabilnya rupiah dipenÂgaruhi oleh sentimen positif pasca pemberlakukan UU PenÂgampunan Pajak atau tax amÂnesty. “Dari nilai tukar rupiah kita bisa lihat sekarang ini sanÂgatlah stabil. Secara year on year di Juli rupiah menguat 4,48% dan saat ini mencapai di level sekitar Rp13.100 per dolar AS,†kata dia.
“Penguatan ini selain didukung sentimen positif inÂvestor pada prospek ekonomi Indonesia, juga didukung oleh UU Pengampunan Pajak,†tambahnya.
Mantan Menteri Keuangan ini berujar, faktor penguat rupiah lainnya yakni mulai meredanya ketidakpastian ekonomi akibat keluarnya InÂggris dari Uni Eropa (Brexit), dan kebijakan fund rate dari Federal Reserve AS. “KemuÂdian selain tax amnesty, penÂguatan rupiah dari sisi eksterÂnal dipengaruhi meredupnya risiko dari ketidakpastian global akibat Brexit dan fund rate. Tapi kita jaga supaya ruÂpiah tetap nilainya sesuai denÂgan fundamental ekonomi,†tandasnya.(Yuska Apitya/dtk/ed:Mina)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















