Dengan karakteristiknya yang pragmatis duniawi, maka konsep sekulerisme tentang makna kebahagiaan juga berÂtolak belakang dengan panÂdangan Islam. Sekulerisme meÂmandang kebahagiaan adalah tercapainya kebutuhan materi semata tanpa mengindahkan cara untuk memperolehnya. Sumber kebahagiaan dalam sekulerisme dengan demikian adalah faktor yang berada di luar dirinya, yakni materi.
Sementara Islam memanÂdang kebahagiaan adalah berÂasal dari dalam diri manusia. Faktor-faktor luar seperti keÂmakmuran, kekayaan, keluarÂga, kedudukan, pengetahuan, adalah faktor penunjang. SifatÂnya hanya sebagai penyempurÂna, setelah faktor dominatifnya sudah ditemukan. Seseorang tiÂdak akan mungkin menemukan kebahagiaan yang dicari di luar dirinya. Kebahagiaan hanya akan ditemukan di dalam diri sendiri.
Al Qur’an maupun sunah Rasul telah memberikan jawaÂban bahwa faktor dominatif yang menyebabkan orang bisa memperolah kebahagiaan adalah sakinatul qalb atau keÂtenangan hati. Yaitu hati yang dipenuhi dengan kuatnya keiÂmanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan bertindak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah.
Dengan demikian, dalam pandangan Islam, kebahagiaan itu memiliki dua faktor. PerÂtama, faktor dominan yaitu berupa sakinatul qalb atau keÂtenangan hati karena adanya iman dan kedekatan kepada AlÂlah. Sifatnya inner self, di dalam diri. Kedua faktor penunjang seperti kekayaan, jabatan, keÂsehatan dan sebagainya, yang sifatnya berada di luar diri maÂnusia. Karena sifatnya menunÂjang, kekayaan, kesehatan, dan sebagainya itu melengkapi fakÂtor dominan. Dengan kata lain, faktor dominan itu mesti ada untuk timbulnya kebahagiaan. Jika tidak adanya faktor domiÂnan menyebabkan kebahagiaan akan hilang. Akan tetapi, tidak adanya faktor penunjang belum tentu kebahagiaan seseorang hiÂlang dari dirinya. Idealnya meÂmang sesorang memilki faktor dominan dan penunjang sekaÂligus, sehingga kebahagiaan yang diperolehnya sempurna.
Kontaminasi racun sekulÂerisme di segala bidang sanÂgat membahayakan aqidah kaum muslimin. Apalagi jika telah merasuki bidang pendiÂdikan. Ciri sistem pendidikan yang sekuleristik adalah yang mengesampingkan etika dan moral anak didik. Sebab morÂal dianggap sebagai masalah pribadi dengan Tuhannya. MerÂeka memisahkan antara agama dengan kehidupan. Agama dicampakkan dalam ranah inÂdivudi bukan publik. Sistem pendidikan sekuleristik dengan demikian adalah sistem pendiÂdikan yang tidak bertuhan. Apa jadinya jika produk pendidikan adalah manusia tanpa etika. Apa jadinya manusia tidak memiliki moral. Islam sangat mementingkan moral sebagai landasan kehidupan manusia. Sebab jika manusia minus morÂal, maka tak ubahnya seperti binatang. Etika memiliki peran yang fundamental dalam sistem pendidikan Islam.
Di bidang politikpun, sekulÂerisme bisa menjadi racun meÂmatikan. Paham sekulerisme dengan sistem demokrasinya telah merusak kemuliaan tuÂjuan politik dengan lahirnya politik tak beretika. Sekulerisasi politik telah mengakibatkan tumbangnya pilar-pilar fundaÂmental dalam mengurus rakyat dan mengelola sumber daya alam. Politik yang telah terkonÂtaminasi sekulerisme menjelma menjadi politik pragmatis tranÂsaksional. Perilaku politikus yang hedonis, rakus kekuasaan, abai terhadap kepentingan rakyat, tidak amanah, opporÂtunis dan anti syariah bahkan hingga korupsi, suap dan fitnah mewarnai polah politik sekuler. Sekulerisme ini juga membaÂhayakan jika telah merasuki biÂdang ekonomi dan budaya.
Ekonomi kapitalisme yang hanya mengayakan segelintir manusia dan memiskinkan jutaan manusia lainnya tanpa mengindahkan nilai-nilai etika adalah karakteristik ekonomi sekuler. Timbangan kapitalisme adalah materialisme, hanya mengejar keuntungan materi tanpa memperdulikan hukum halal dan haramnya. Istilah pertumbuhan dalam sistem ekonomi kapitalis adalah perÂtumbuhan semu, sebab hanya fokus kepada produksi dan abai terhadap distribusi. Sementara prinsip ekonomi Islam adalah ekonomi berbasis nilai kebajiÂkan untuk kesejahteraan dan keberkahan banyak orang, seÂhingga lebih fokus kepada disÂtribusi.
Budaya sekuler adalah buÂdaya hedonis dan liberal yang bertujuan untuk memuaskan hawa nafsu. Budaya sekuler memberikan peluang kepada manusia untuk berekspresi sebebas-bebasnya tanpa batas-batas kepantasan dan nilai reÂligius. Pergaulan bebas, seks bebas, minuman keras, dan hiburan amoral adalah sedikit contoh budaya sekuler. SemenÂtara Islam menjadikan budaya sebagai penghalus rasa dan saÂrana untuk semakin mendekatÂkan diri kepada Allah.
Untuk membendung paham sekulerisme di segala bidang, harus menjadikan al Qur’an dan As Sunnah sebagai sumÂber pemikiran dan perilaku. Rasulullah bersabda, “ telah aku tinggalkan kepada mu dua perkara, kamu tidak akan tersÂesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu al-Qur’an dan Sunnah†(HR. Bukhari). Bahkan Allah menganÂcam dengan kerusakan kehiduÂpan manusia jika mengadopsi sekulerisme dan membuang huÂkum Allah. “Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkanÂnya pada hari kiamat dalam KeÂadaan buta”. (QS Thaha : 124). Saatnya menegakkan Islam dan tinggalkan sekulerisme, jika maÂsih punya impian bagi kebaikan negeri ini. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















