Deretan Surga di Pesisir Selat Sunda

Namun jika alam tak bersahabat, para petani rumput laut di Anyer terpaksa tak panen. Seringnya hujan turun dan banyaknya ikan yang me­makan rumput laut menjadi batasan utama petani libur menerima peng­hasilan tambahan.

Ada juga warga yang nekat mem­borong beberapa petak pantai untuk membudidaya. Biasanya, jumlah rumput laut yang dipanen para pet­ani borongan ini mencapai 250 hing­ga 300 kilogram untuk rumput laut basah. Rumput laut basah yang di­kumpulkan kemudian diletakkan ke anyaman bambu untuk dijemur. Jika cuaca saat menjemur cerah, cukup dua hari saja, rumput laut bisa ker­ing. Tanda rumput laut mengering dilihat dari warnanya yang kecokla­tan hingga bewarna putih. Setelah kering, rumput laut siap diberikan ke pengepul untuk dijual dengan harga Rp 5.000 per kilogramnya. Semua petani rumput laut di sana memiliki pengepul sendiri yang se­lalu menampung hasil budidaya rumput laut warga. Namun, ada juga petani yang langsung menjual ke Pasar Anyer.

Potensi industri pengolahan rum­put laut di Indonesia memang belum tergali total. Padahal, sebagian besar rumput laut kering sudah merambah pasar mancanegara. Sebaliknya vol­ume suplai ke industri pengolahan di dalam terhitung belum optimal. Jika merujuk dari berbagai sumber, Indo­nesia menguasai suplai rumput laut kering dunia dengan produksi 237,8 ribu ton atau sekitar 56 persen total produksi dunia yang mencapai 424 ribu ton.

BACA JUGA :  Prabowo Bertemu Menlu Turki di Hambalang, Bahas Timur Tengah hingga Pemulangan Relawan Indonesia

Di Indonesia, jenis rumput laut komersial bisa dijadikan karagenan, agar dan alginate. Bahkan, berdasar­kan penelitian dan pengembangan Kementerian Perindustrian, rum­put laut bisa diolah menjadi produk akhir pangan, farmasi, kosmetik, dan tissue.

Sedangkan karagenan diproses lebih lanjut menjadi pangan, saus, pakan ternak, serta farmasi. Semen­tara itu, alginat juga dapat diolah menjadi pangan, saus, tekstil, kos­metik dan farmasi.

Di kegiatan International Sea­weed Symposium (ISS) yang berlang­sung di kota Kopenhagen Denmark, beberapa bulan lalu, Indonesia memiliki kesempatan untuk men­datangkan sejumlah pengusaha bi­dang industri rumput lain. Lewat jejamuan bertajuk update on the Indonesian Seaweed Industry Fo­rum bisnis ini, para pelaku usaha, praktisi dan akademisi dari sejumlah negara antara lain Amerika Serikat, India, Tiongkok, Jepang, Denmark, dan pengusaha lainnya, membahas potensi industri rumput laut Dunia.

BACA JUGA :  Waspada Teror Pocong di Cibinong, Camat Minta Siskamling Digencarkan

Duta Besar RI untuk Denmark, Muhammad Ibnu Said mengatakan, pentingnya peningkatan industri rumput laut dan mengharapkan agar para pengusaha dapat memanfaat­kan potensi rumput laut Indonesia yang begitu besar.

Rumpat laut tidak hanya sebagai sumber pendapatan bagi petani me­lainkan pula dapat mengentaskan ke­miskinan terutama bagi para petani di sepanjang garis pantai Indonesia.

Sementara itu, konsultan dan pengamat rumput laut asal Denmark Hans Porse menyampaikan, perkem­bangan signifikan dari industri rum­put laut yang dihasilkan Indonesia. Saat ini, sebanyak 58% produksi car­rageenan dan 38% agar.

Hans juga menambahkan, dari hasil produksi yang dihasilkan In­donesia memiliki keunggulan dan mampu bersaing di pasar global. Ia juga mengatakan, pasar domestik Indonesia mampu bersaing di pasar global, dan banyak importir melihat Indonesia sebagai penghasil rumput laut terbesar di dunia.(*)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================