IKAN IMPOR DAN IKLIM

iQcwMCmnedNEGERI kita dengan sebutan negeri maritim dan agraris harus dipikirkan ulang saat ini. Bagaimana kita mengisi pembangunan dibidang maritim dan pertanian. Selama ini kita ingin dua sektor ini menjadi ikon negeri kita. Sampai kini kita pertahankan ikon negeri kita itu dengan impor perikanan dan produk pertanian. Impor beberapa jenis ikan masih tinggi pada negeri kita. Menurut BPS (2015) volume impor untuk kepiting (5427 113 ton), cumi-cumi (2851564 ton), kerang (1370998), lele (849354 ton), udang (3430686 ton).

Oleh: BAHAGIA, SP., MSC.
Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan IPB
dan Dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor

Kenyataan itu mem­buat kita bertanya. Apa yang bisa kita perbuat untuk memenuhi protein kita?. Ikan lele yang dekat dengan masyarakat kita ternyata juga banyak lele impor. Malu sekali kita ini sampai tidak bisa mandiri ikan pada laut dan ekosistem sun­gai, rawa dan danau yang luas. Kita nampak tidak mau susah lagi mengisi negeri kita dengan pengembangan sektor perikan­an. Berdiri sendiri dan mandiri ikan sehingga terwujudkan ket­ahanan pangan pada negei kita. Impor sebetulnya karena kebu­tuhan ikan negei kita tidak bisa dipenuhi dengan baik.

Masyarakat makin tumbuh banyak dan padat. Setiap tahun diperediksi penduduk tidak per­nah berkurang. Kebutuhan akan ikan setiap saat tidak bisa juga dipungkiri meningkat terutama pada daerah padat penduduk. DKI Jakarta, jawa barat dan jawa timur termasuk propinsi dengan konsumsi ikan tergolong tinggi jika dibanding daerah lain. Den­gan melihat padatnya penduduk dan banyaknya penduduk. Se­lain itu, kelangkaan ikan juga akan terasa pada saat terjadi pe­rubahan iklim. Banjir rob dipan­tai kemudian masuk ke daratan penyebab gagalnya panen para nelayan. Tambak udang dan kepiting bisa gagal panen dila­pangan karena banjir.

Musim keringpun bisa men­gancam tambak ikan, udang dan kepiting sehingga gagal panen. Musim angin yang ken­cang juga penyebab ikan pada mati. Ditambah lagi dengan ne­layan yang tidak melaut karena perubahan cuaca. Gelombang laut tinggi dan angin kencang. Kondisi itu diperparah lagi den­gan banyaknya zat pencemar yang masuk ke tambak dan ke lautan. Mengancam ekosistem ikan dilaut dan kematian ikan dikolam nelayan. Lautan akan makin tercemar sebab sampai kini erosi dan aliran permukaan belum bisa diatasi.

BACA JUGA :  Pancasila di Tengah Disrupsi Digital

Secara langsung semua zat pencemar tidak bisa dihentikan. Masuk ke sungai dan masuk ke laut. Realita kita rasakan, air hu­jan yang jatuh kemudian tidak masuk ke tanah. Menggenang dipermukaan tanah kemudian membawa semua zat yang ada pada tanah. Ketahanan ikan juga diperburuk pada saat kita ke­hilangan satu persatu keragaman hayati ikan baik ikan tawar dan ikan laut. Secara langsung kita tidak bisa menyelamatkan ker­agaman hayat ikan. Pada daratan keragaman hayati akan hilang satu persatu. Berbarengan den­gan hilangnya danau dan rawa.

Alihfungsi danau dan rawa menjadi perumahan mengan­cam tersedianya keragaman ikan. Terutama diperkotaan, di perdesaan sungai terancam karena alihfungsi hutan ke ke­bun. Pada kawasan pesisir, dae­rah laut terancam karena lahan pesisir dipergunakan untuk la­han pertanian dan membabat habis hutan mangrove. Jika ber­samaan dengan penyelamatan mangrove, kerusakan masih bisa diminimalkan. Suatu saat kita juga kehilangan keragaman ikan sungai yang banyak jenisnya. Kita juga kehilangan keragaman hayati ikan laut.

Kondisi itu akan memaksa negeri ini untuk impor ikan dari negeri yang lain. Impor wajar di­lakukan pada saat kita tidak pun­ya jenis ikan tertentu namun kita ingin ada. Kondisi itu berbeda kasus saat kita impor karena ikan kita punah dan kurang produksi. Sayangnya impor dilakukan na­mun ikan itu ada pada wilayah kita. Udang, kepiting dan jenis ikan diatas harusnya tidak perlu diminta dari negeri yang lain. Negeri kita kaya dengan udang, kepiting dan ikan air tawar serta laut. Ada beberapa hal yang har­us dilakukan untuk mengatasi ini.

Pertama, pemerintah harus lebih optimal untuk menyela­matkan ikan air tawar. Teruta­ma keragaman ikan yang hidup pada kawasan sungai, danau dan rawa. Ikan pada ekosistem ini terancam dari kepunahan karena derasnya pembangunan. Pemerintah sebaiknya sudah melakukan koleksi induk untuk setiap jenis dari ikan yang ada pada ekosistem itu. Kemudian membudiayakannya secara ma­sal jika perbanyakan ikan tadi su­dah berhasil dilakukan. Lakukan perbanyakan dilaboratorium kemudian kembangkan pada kolom-kolom nelayan.

Dengan cara itu kita masih tetap bisa mengkonsumsi ikan air tawar (ikan sungai, danau dan rawa). Kedua, konservasi daerah pesisir harus benar digalakkan. Terutama penanaman Mangrove pada pusat-pusat ikan Nusantra. Konservasi ini bertujuan untuk meminimlakan terjadinya banjir rob yang akhirnya menggagal­kan produksi ikan, udang dan kepiting. Hutan Mangrove/bakau secara fisik akan menahan air lautan untuk masuk ke daratan.

BACA JUGA :  HARUSNYA ORANG INDONESIA PERILAKUNYA SESUAI DENGAN SILA-SILA YANG ADA DI PANCASILA

Sekaligus sebagai sarang-sarangnya ikan dan sarangnya berbagai jenis makanan ikan. Sik­lus ekosistem akan berlangsung saat mangrove tadi ada pada ko­lom ikan. Ketiga, penyelamatan terintegratif. Maksudnya, sektor perikanan tidak berhasil kalau sektor pertanian tidak ramah ling­kungan. Kedepannya dinas perta­nian dan perikanan sudah men­emukan titik temu agar pestisida dan pupuk buatan pabrik bisa diminimalkan karena termasuk sumber racun bagi ikan pada eko­sistem danau, rawa dan lautan.

Keempat, menata ruang perkotaan dan perdesaan secara benar. Selama ini masih kurang benar sehingga erosi masih tinggi diperkotaan dan perdesaan. Buk­tinya perkotaan dan perdesaan selalu banjir saat musim hujan. Perbanyak ruang terbuka hijau pada perkotaan dan selamatkan ruang hijau perdesaan. Dengan begitu tanah tidak akan padat tetapi akan gembur sehingga mempermudah air untuk masuk ke dalam tanah. Dengan demiki­an banjir dapat dikurangi untuk masuk ke lautan sehingga kolam ikan nelayan terselamatkan.

Perbanyak juga tindakan konservasi tanah terutama pada daerah padat penduduk. Usa­hakan lahan yang masih sedikit saja dipupuk dengan pupuk or­ganik secara cuma-cuma. Pupuk organik seperti pupuk kandang dapat mengundang biota tanah. Biota tanah seperti pengurai tadi yang akan membuat tanah ter­buka kembali lubang bioporinya. Dengan cara itu air hujan akan mudah masuk dan tersimpan. Se­lama ini rumah perkotaan diban­gun dimana-mana selagi masih ada lahan kosong. Sayangnya, perbaikan untuk tanah tidak ber­sama dengan pembangunan tadi.

Sama halnya dengan pem­bangunan gedung-gedung besar namun minim vegetasi pada loka­si itu. Jangan jadikan alasan lahan tidak ada, padahal ada solusi lain seperti menanam tumbuhan di­mana saja termasuk menempel­kannya pada beton-beton jalan tol dan gedung tinggi tadi. Setiap tetes air hujan yang mengenai tumbuhan tadi pasti diserap oleh tumbuhan. Secara langsung iklim secara global juga dapat diatasi. Angin tadi akan dihambat dengan keberadaan ruang terbuka hijau, hujan dan banjir terkendalikan dan berpola kembali. Suhu juga tidak panas terutama daerah pe­sisir lautan. Semua karena ruang terbuka hijau sudah disediakan didaratan. (*)

 

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================