
Kabupaten Badung (Bali) Rp1,6 triliun
Kab. Bandung (Jawa Barat) Rp1,6 triliun
Kab. Bekasi (Jawa Barat) Rp1,5 triliun
Kab. Tanah Laut (Kalimatan SeÂlatan) Rp1,3 triliun
Kab. Kediri (Jawa Timur) Rp1,39 triliun
Kab. Berau (Kalimatan Timur) Rp1,37 triliun
Kab. Mimika (Papua) Rp1,37 triliun
Kab. Nias (Sumater Utara) Rp1,31 triliun
Jokowi juga mengingatkan seÂluruh menteri dan kepala lembaga untuk disiplin menghemat belanja. “Saya sudah perintahkan berkali-kali. Coba dilihat satu per satu sampai satÂuan tiga. Hal yang tidak masuk akal dan angkanya terlalu tinggi, coret dan ganti yang masuk logika,†ujarnya.
Dia juga mengingatkan seluruh pimpinan kementerian dan lembaga negara fokus merealisasikan proÂgram-program prioritas, seperti yang sudah diatur dalam Program PembanÂgunan Prioritas Nasional. Hal ini dikÂarenakan berkaitan dengan kebijakan belanja kementerian dan lembaga.
Beberapa program prioritas pemerintah ialah percepatan pemÂbangunan infrastruktur dan konektiÂvitas, pelayanan bidang pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskiÂnan, dan perlindungan sosial. “UtaÂmakan pada belanja prioritas sesuai dengan prinsip money follow proÂgram,†ujar mantan Walikota Solo ini.
Instruksi ini sejalan dengan efisiensi program-program non priÂoritas nasional. Efisiensi perlu dilakuÂkan dalam belanja operasional dan barang.
Jaga Momentum
Jokowi menuturkan, kondisi perÂekonomian Indonesia saat ini tergolong baik. Hal itu terlihat dari inflasi Juli 0,69 persen yang dilaporkan BPS. “Harus tetap jaga dan tingkatkan pertumbuÂhan ekonomi nantinya di kuartal kedÂua, ketiga, dan keempat,†ucap dia.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menginstruksikan seluruh pembantuÂnya terus memantau perkembangan harga-harga, terutama bahan pangan, setiap hari atau bahkan setiap jam agar pergerakan inflasi dapat dikenÂdalikan.
Kondisi ekonomi global juga tak lepas dari sorotan Jokowi. Dia menÂgatakan, pengaruh ekonomi global patut dipertimbangkan dalam meruÂmuskan asumsi dasar ekonomi makro dan Rancangan Aanggaran PendapaÂtan dan Belanja Negara (RAPBN ) 2017.
Dia juga tak lupa agar jajarannya terus mengawal implementasi kebiÂjakan Amnesti Pajak. Kebijakan ini menjadi alat pemerintah memperluas dan memperbaiki basis data pajak yang valid, terintegrasi, dan kompreÂhensif guna meningkatkan tax ratio.
Terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan defisit anggaran negara tahun ini akan melebar dari target semula 2,35 persen menjadi 2,5 persen dari dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).
Defisit fiskal tetap membengkak meskipun pemerintah akan memangÂkas anggaran belanja negara sebesar Rp133,8 triliun dan merisi turun tarÂget penerimaan perpajakan dalam APBNP 2016.
Dia mengatakan, pemerintah akan memangkas belanja kementÂerian/lembaga(K/L) sebesar Rp65 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp68,8 triliun. “Untuk outlook defisit 2016, sesudah melakukan langkah (pemotongan belanja) tadi yang disÂetujui Bapak Presiden (Presiden Joko Widodo), kami perkirakan akan 2,5 persen dari GDP. Jadi agak sedikit meÂningkat dari (target) APBN-P 2016 yaiÂtu 2,35 persen (dari GDP),†tutur Sri.
Akibat pelebaran defisit tersebut, kata Sri Mulyani, pemerintah akan menambah pembiayaan sekitar Rp17 triliun, dari rencana Rp296,7 triliun menjadi Rp313,7 triliun.
Terkait dengan asumsi makroekoÂnomi, Menkeu mengungkapkan, hanya asumsi nilai tukar Rupiah terÂhadap dolar AS yang akan berubah, dari Rp13.500 per dolar AS menjadi Rp13.300 per dolar AS. Sementara, asumsi makro lainnya tidak akan diÂrevisi.
Dengan demikian, lanjutnya, perÂtumbuhan ekonomi tetap 5,2 persen, inflasi 4 persen, suku bunga perbenÂdaharaan negara (SPN) tiga bulan 5,5 persen, harga minyak US$40 per barel, lifting minyak 820 ribu barel per hari (bph), dan lifting gas 1,15 juta barel setara minyak per hari.
Sebagai informasi, Kementerian Keuangan mencatat defisit anggaran pada akhir paruh pertama tahun ini sebesar Rp230,7 triliun atau 1,83 persÂen dari PDB. Angka itu 77 persen dari target defisit Rp296,7 triliun atau 2,35 persen PDB.
Sebenarnya, pemerintah menarÂgetkan ekonomi Indonesia pada taÂhun ini tumbuh sebesar 5,2%. Untuk mencapai target tersebut, salah satu yang harus dilakukan adalah mencairÂkan dana pemerintah daerah (pemda) yang selama ini mengendap di bank.
Demikianlah diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (4/8/2016).
Dana tersebut jumlahnya tidak sedikit. Sampai Juni, total dana yang mengendap adalah Rp 214 triliun. “Saya sambut baik bahwa Presiden angkat isu ini, setiap bulan beliau ikuÂti dana idle di daerah. Di Mei ternyaÂta dana mengendap Rp 246 triliun dan Juni 214 triliun. Indonesia kalau ingin kejar pertumbuhan ekonomi, dana itu jangan mengendap di BPD tapi dikeluarkan, tapi tertib dan taat asas,†jelas Agus.
Pencairan dana tersebut juga ikut mendorong realisasi investasi dari swasta. Sehingga secara keseluruhan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Agus mengharapkan para pimpiÂnan daerah dapat mengikuti arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang disampaikan saat rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). “Diberikan satu arahan tentang bagaimana caranya supaya daerah itu bisa alokasikan anggaran untuk priorÂitas dan pencairan anggaran dengan baik. Saya rasa ini arahan dan bimbÂingan kepada pemda dan pemerintah pusat yang baik sekali. Semoga ini berdampak pada pertumbuhan ekoÂnomi yang baik di Indonesia,†tandasÂnya.(*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















