Ruang Ekologis Buat Anak Kita

Anak-anak akan merasakan kerjasama karena permainan langsung dialami. Membutuhkan kerja otot dan kerja otak. Saat kerja otot dan kerja otak tidak bersama maka kepandaian anak akan pincang. Anak-anak tum­buh dengan otak dengan IQ yang tinggi. Mislkan IQ 200 namun satu sisi anak-anak tadi akan mi­nus kepandaian sosial. Akhirnya anak-anak akan tumbuh menjadi anak yang kurang berjiwa sosial. Akar masalah anak tidak akrab antara satu dan yang lain karena anak-anak tadi tidak bertemu pada ruang terbuka hijau dan la­han kosong untuk bermain.

Kepedulian sosial, kerjasama sosial, dan keakraban akan se­makin minus karena masalah ini. Selain lahan yang harus di­perhatikan. Perhatikan juga ke­beradaan ekosistem berair. Eko­sistem sungai dan danau serta rawa harusnya menjadi tempat bagi anak-anak untuk melihat keragaman hewan sungai dan danau serta rawa. Ruang eko­sistem juga menjadi korban dan banyak dari ekosistem tadi di­tutup dengan bangunan. Ruang ekologis tadi ahkhirnya habis dan merampas hak anak untuk bermain.

Secara langsung, dengan sempitnya ruang publik tadi membuat bencana ekologis ma­kin banyak. Disamping itu, anak-anak kini yang tidak berinteraksi dengan ekologis secara langsung akan mengurangi kecintaannya terhadap alam. Ia tidak merasa alam tempatnya bermain sehing­ga ia tidak punya pengetahuan yang cukup untuk mengetahui fungsi ekologis. Kenyataan itu akan menghasilkan manusia yang tidak peduli ekologis. Re­generasi cinta ekologis tidak ter­wujud akhirnya anak-anak cend­erung perusak secara ekologis.

Kepedulian ekologis dan ke­sadaran serta perilaku ekologis makin jauh dari anak-anak itu kini. Kecintaannya terhadap re­rumputan dan pepohonan juga semakin minus. Ia tidak merasa kalau pohon dan rerumputan tadi turut membuatnya nyaman bermain bersama dengan te­man-temannya. Secara langsung perilaku anak menjadi perilaku ramah ekologis sulit pula terca­pai. Kerusakan ekologispun ma­kin sulit diatasi.

BACA JUGA :  JIKA INGIN KE BAITULLAH MAKA TERLEBIH DAHULU KE MASJID

Kawasan ruang terbuka hijau dan lahan kosong sebagai tempat resapan air, daerah penghasil oksigen, daerah penyelamat air, dan daerah untuk menetralkan gas emisi kaca karena ruang hi­jau tadi menetralkan pencema­ran. Dengan minimnya ruang tadi akhirnya air kita semakin langka, oksigen tidak lagi segar, kurang subur tanah, banjir dan kekeringan. Itulah efeknya karena kita tidak menyediakan ruang hijau dan lahan kosong untuk anak-anak sebagai tempat bermain. Disamping masalah ekologis. Anak-anak kini diha­dapkan dengan tekologi canggih internat. Semua ada di internet. Permainan apapun kini ada did­unia digital. Akhirnya anak-anak lebih seneng dengan permaiana digital dibandingkan dengan ber­maian langsung.

Secara langsung akan memu­nahkan permaianan tradisonal dan secara langsung membuat anak rawan masalah pornografi dan lain-lain. Internet sumber ilmu pengetahuan namun bagi anak-anak juga berbahaya. Anak-anak yang secara langsung me­lihat gambar-gambar tidak baik akan melihatnya juga. Sekali tidak mungkin lain kali ia. Bermula saat ruang terbuka hijau dan lahan kosong sempit maka kecerdasan anak tidak akan berkembang.

Ruang ekologis tadi mem­berikan gerakan kepada anak se­cara fisik. Mereka bermain bersa­ma. Mereka akan bermaian bola dan bermain patuk lele pada saat ruang terbuka hijau masih men­cukupi untuk mereka. Lapangan bola, gang-gang rumah, halaman rumah harusnya diperhatikan. Untuk mengatasi masalah ini. Ada beberap hal yang harus di­lakukan. Pertama, perusahaan besar perumahan dan peruma­han BUMN harus menyediakan ruang terbuka hijau sebagai tem­pat bermaian anak.

BACA JUGA :  PERAN AKIDAH DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN MUSLIM

Jangan semua lahan diper­gunakan untuk rumah demi kepentingan meraup untung se­banyak mungkin. Kini sulit mem­bedakan mana dinding kita den­gan tetangga. Lahan yang minim setidaknya juga jangan mengor­bankan kepentingan anak. Anak akan bermain pada ruang yang masih tersedia. Sekaligus akti­vitas itu termasuk kepedulian perusahaan properti terhadap air, tanah dan udara. Kedua, ijin usaha penggunaan lahan harus dibatasi. Kini ijin untuk perusa­haan perumahan sudah sangat mudah. Sedikit saja ada lahan kosong sudah menjadi inceran para pembisnis.

Ketiga, pemerintah daerah harusnya mewajibkan setiap desa atau suatu wilayah terten­tu untuk menyediakan ruang bermaian anak. Ruang bermain anak ini harus didesign agar se­bagai wahana pendidikan bagi anak. Tanami dengan pohon buah-buahan sehingga anak-anak akan merasakan hasil dari pohon buah. Tanamai juga den­gan buang-bunga yang indah se­hingga mengundang anak-anak untuk bermain disana.

Kini tidak setiap desa punya alun-alun desa. Keempat, tum­buhkan perilaku bermaian anak pada lingkungan yang masih ter­sisa. Batasi penggunaan internet dirumah dan gadget sehingga memotivasi anak untuk bermain pada ruang kosong. Kelima, ger­akan penanaman pepohonan pada setiap sekolah dan lem­baga pendidikan. Dengan cara itu anak-anak akan tahu dan mengerti manfaat dari menanam pohon. Anak langsung yang disu­ruh untuk menanam pepohonan sehingga tumbuh perilaku ekolo­gis pada anak. (*)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================