
Namun perubahan tren ini ternyata tak hanya terjadi di sektor residensial atau peÂrumahan. Mina menjelaskan bahwa di sektor ritel dan perÂkantoran juga terjadi pergeÂseran yang signifikan.
“Untuk ritel misalnya, jika dulu kita hanya tau ritel sebagai tempat shopping. Tapi dengan perkembangan social media, banyak orang yang reuni dan menambah porsi F&B (food and beverages) lebih besar dari sebelumnya.†Ucap Mina.
“Sementara untuk perkanÂtoran, kini bisnis bisa dijalankÂan secara mobile dan tempat-tempat F&B menjadi tempat favorit untuk meeting dengan klien. Layout office sekaÂrang juga berbeda dengan model open plan tanpa sekat agar lebih efisien dan menerÂapkan hot desking sehingga semua meja bisa di pakai berÂgantian.â€
Begitu pula dengan sekÂtor pergudangan. Sebelumnya kebutuhan gudang untuk fillÂing juga cukup banyak hingga harus sewa storage. Tapi kini dengan hadirnya e-filling keÂbutuhan gudang jadi lebih berkurang.
“Jadi semuanya berubah seiring dengan gaya hidup.†Tutup Mina.
Sebagai seorang konsultan investasi properti khususnya di subsektor perkantoran, Mina memulai pendidikannya di bidang arsitektur. Setelah mendapat kesempatan beaÂsiswa British Chevening Award, Mina melanjutkan peminatan untuk Master Property investÂment.
Kesenangannya dalam ilmu berhitung mengantarkanÂnya fokus berkarir pada inÂvestasi properti. Berdasarkan latar belakang tersebut Mina dipilih menjadi salah satu juri dalam acara penghargaan InÂdonesia Properti Award 2016 yang akan berlangsung bulan Oktober ini. (Net*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















