Pekerjaan Seperti Ini Bisa Pengaruhi Kesehatan Seseorang

Kelompok usia 45 tahun ke atas yang bekerja di bidang penjualan, kantor, dan jasa layanan makanan disebut paling rentan mengalami stroke dan serangan jantung. Se­lain itu, 68 persen pekerja di bi­dang penjualan dan administra­tive support punya pola makan yang buruk. Bahkan 69 persen pe­kerja di bidang penjualan punya kadar kolesterol yang tinggi.

“Makin kecil jumlah faktor risiko kardiovaskular, makin mudah untuk memprediksi ke­sehatan mereka di masa depan, termasuk kematian dini, penyakit jantung, stroke, dan penyakit gin­jal,” kata Captain Leslie MacDon­ald dari US Public Health Service yang memimpin penelitian ini.

  1. Diperlakukan adil, kary­awan lebih sehat dan produktif

Penelitian yang dilakukan pada lebih 5.800 orang yang bekerja di Swedia menyelidiki tentang persepsi keadilan pada prosedur kerja seperti gaji, promosi, ban­yaknya tugas dan imbalan, serta dampaknya kepada kesehatan karyawan. Dari hasil studi, dapat disimpulkan ketika persepsi kary­awan tentang keadilan berubah, kesehatan mereka juga mengala­mi perubahan.

BACA JUGA :  Batu Ginjal Tak Selalu Karena Kurang Minum, Ini Penyebab yang Perlu Diwaspadai

Salah satu peneliti dari Stock­holm University, Dr Constanze Eib mengatakan studinya bisa membantu meingkatkan kesada­ran di kalangan pengusaha dan penguasa bahwa keadilan dapat meningkatkan kesehatan pekerja. Jika karyawan sehat, tentunya produktivitas, kesejahteraan dan kepuasaan akan meningkat.

«Temuan ini sekaligus men­egaskan bahwa keadilan di tempat kerja merupakan aspek penting dari lingkungan kerja psikososial. Hal ini ditunjukkan dengan me­ningkatnya kesehatan karyawan di perusahaan yang merasa lebih adil untuk urusan gaji, promisi, tu­gas, serta imbalan,» katanya.

  1. Atasan banyak mau, kary­awan berisiko terkena diabetes
BACA JUGA :  Kanker Payudara pada Pria: Jarang, tapi Nyata dan Sama Berbahayanya

Sebuah studi dari Jerman men­emukan pekerja dengan atasan yang banyak mau tak hanya mu­dah terserang stres, tapi juga rent­an mengidap diabetes tipe 2, bah­kan bila ia sebenarnya orang yang sehat atau tidak memiliki faktor risiko sakit gula sekalipun.

“Kami kira tekanan kerja yang tinggi akan membuat gaya hidup seseorang cenderung berubah, karena mereka akan ‹melampi­askannya› dengan merokok atau makan makanan yang tak sehat. Namun ternyata bukan begitu,” kata peneliti, Karl-Heinz Ladwig.

Bahkan, Ladwig merasa heran ketika menemukan pekerja yang stresnya tinggi namun tak bisa menentukan sendiri kapan peker­jaan mereka harus diselesaikan malah rentan terserang diabetes, terutama diabetes tipe 2.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================