SAAT melakukan aktifitas rutin, denyut jantung tiba-tiba terhenti seketika dan tak sadarkan diri lalu meninggal dunia, apa sebetulnya yang terjadi? Dr dr Yoga Yuniadi, SpJP(K), ahli jantung dari RS Harapan Kita Jakarta, mengulasnya.

Ketika seseorang tiba-tiba tak sadarkan diri dan meninggal dunia akibat serangan jantung, seringkali ia dikatakan mengalami ‘henti jantung’. Meski dinamakan demikian, faktanya dalam kondisi tersebut jantung tidak benar-benar sedang berhenti bekerja.

Dr dr Yoga Yuniadi, SpJP(K) mengatakan bahwa definisi henti jantung sendiri sebenarnya bukan ketika jantung benar-benar sudah berhenti bekerja sama sekali, justru sebaliknya.

“Ketika seseorang mengalami kelainan irama jantung yang terlalu cepat, atau istilahnya takikardia, itu jantungnya bergetar begitu. Sebetulnya jantungnya itu tidak benar-benar berhenti, tapi justru sedang berdebar sangat cepat,” tutur dr Yoga.

Henti jantung erat kaitannya dengan kondisi kelainan irama jantung, yang disebut sebagai aritmia. Aritmia sendiri merupakan penyakit yang mengenai sistem listrik jantung. Secara umum, aritmia dibagi menjadi dua, yakni yang iramanya terlalu cepat (takikardia) atau terlalu lambat (bradikardia).

“Denyut jantung yang pas itu antara 50-90 kali per menit, kalau terlalu cepat itu di atas 100 kali, yang lambat itu di bawah 50 kali. Nah kalau yang disebut henti jantung itu jantungnya bergetar sangat cepat, bisa sampai 250 kali per menit,” imbuh dr Yoga.

Dalam kondisi berdenyut yang terlampau cepat, jantung jadi tak bisa menghasilkan mekanik dan tak punya kesempatan untuk memompa darah seperti biasa. Organ yang paling awal terdampak akibat kondisi ini adalah otak, ini sebabnya saat henti jantung biasanya pasien akan langsung hilang kesadaran.

“Otak kan yang paling sensitif terhadap kekurangan oksigen. Jika empat menit saja henti jantung ini tidak tertolong, akibatnya bisa fatal dan menimbulkan kematian mendadak atau sudden death,” terang dr Yoga. (detikhealth)