kreditJAKARTA, TODAY – Penyaluran kredit perbankan hingga akhir kuartal III-2016 diperkirakan masih menunjukkan gejala perlambatan dan tumbuh sekitar 6%. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini sekitar 7-9% yang akan ditopang oleh mulai membaiknya penyaluran kredit pada kuartal IV-2016.

Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung mengatakan, permintaan kredit yang saat ini melemah antara lain karena korporasi swasta memilih untuk konsolidasi dengan mengurangi investor dan melakukan reposisi utang. Selain korporasi swasta yang tengah melakukan konsolidasi, peningkatan (non performing loan/NPL) juga dinilai membuat bank lebih berhasil-hati dalam menyalurkan kredit.

“Kami melihat pertumbuhan kredit pada September juga belum ada pergerakan yang signifikan dibanding Agustus, masih di kisaran 6%,” kata Juda di Jakarta, baru-baru ini.

Namun, berdasarkan survei kegiatan dunia usaha kuartal III-2016 yang dirilis Bank Indonesia pada Senin (10/10), dunia usaha menilai akses kredit perbankan pada kuartal ketiga relatif lebih mudah dibandingkan kuartal sebelumnya. Kondisi ini tercermin dari saldo bersih akses kredit sebesar 8,45% yang meningkat dibandingkan 8,2% pada kuartal II 2016.

Hasil survei menunjukkan, 65,34% responden berpendapat dibandingkan periode sebelumnya, akses terhadap kredit perbakan berada dalam kondisi normal, 21,56% responden menilai akses terhadap kredit perbankan lebih mudah, dan 13,1% menilai lebih sulit.

Di sisi lain, menurut Juda, transmisi penurunan kebijakan suku bunga acuan berdampak positif terhadap perhadap instrumen keuangan nonbank seiring menurunnya biaya penerbitan obligasi. Hingga Agustus 2016, pembiayaan korporasi melalui penerbitan surat utang tercatat tumbuh 58% secara year on year (yoy) menjadi Rp 128,3 triliun. Jumlah tersebut juga lebih tinggi dari penerbitan obligasi pada sepanjang tahun lalu sebesar Rp 58 triliun.

Baca Juga :  Resep Minuman Es Jeruk Campur, Enak dan Segar

“Memang ada proses disintermediasi, pergeseran pembiayaan dari bank yang hati-hati ke pembiayaan nonbank seperti obligasi, saham, MTN, dan sebagainya,” jelas dia.

Meski demikian, Juda optimistis, penyaluran kredit perbankan tahun ini dapat tumbuh di kisaran target 7-9% seiring penyaluran kredit yang diharapkan membaik pada kuartal keempat. Faktor tax amnesty dan dampak kebijakan loan to value (LTV) yang sudah efektif diharapkan memberikan daya dorong cukup besar terhadap peningkatan kredit. “Suku bunga juga mulai turun juga akan memberikan dampak positif,” terang dia.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nelson Tampubolon menjelaskan, di tengah melemahnya permintaan kredit di sektor modal kerja dan investasi, kredit konsumsi menjadi penopang pertumbuhan kredit pada kuartal III-2016. “Sektor konsumsi masih tumbuh, sejauh ini masih konsumsi yang menjadi penopang pertumbuhan kredit,” jelas dia.

Terkait kondisi kredit, Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Suwignyo Budiman menjelaskan, tahun ini bisnis memang sedikit melemah sehingga membuat penyaluran kredit relatif rendah. Saat ini, menurut dia, pertumbuhan kredit perseroan masih di bawah 5%, terutama disebabkan oleh lemahnya kredit pada korporasi, komersial, dan ritel. “Karena banyak memang nasabah yang omzetnya turun. Konsumer saat ini masih naik,” terang dia.

Baca Juga :  Resep Masakan Semur Telur Puyuh Tahu

Direktur Keuangan dan Treasury PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Pahala Mansury belum lama ini juga menjelaskan, saat ini penyaluran kredit perseroan tumbuh di kisaran 10% (yoy) dan diharapkan hingga akhir tahun dapat tumbuh 10-12%.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Maryono menjelaskan, pertumbuhan kredit BTN pada kuartal III-2016 diproyeksi masih double digit. “Pertumbuhan kurang lebih di antara 16-17%,” jelas dia.

Direktur BTN Iman Nugroho Soeko menambahkan, sampai akhir tahun pertumbuhan kredit diproyeksi akan lebih tinggi lagi. Pasalnya, semua karyawan akan bekerja keras untuk mencapai target. “Target pertumbuhan aset di akhir tahun 20-22%, pertumbuhan kredit 18-20%, DPK (dana pihak ketiga) 24-26%, dan laba di angka 30%,” kata dia.

Di sisi lain, Direktur Bisnis PT Bank Syariah Bukopin Aris Wahyudi mengungkapkan, sampai September 2016, pertumbuhan aset di angka 25,6%, DPK 25,1%, pembiayaan 23,8%, dan laba 82%. Peningkatan pendapatan margin pembiayaan dan fee based income, menurut Aris, menjadi faktor penyebab pertumbuhan tersebut. “Sampai akhir tahun, diupayakan menjadi lebih baik,” tegas dia. (Abdul Kadir Basalamah/Net)