foto-berita-3CIBINONG, TODAY –  Orangtua harus waspada, karena permen jari yang diduga mengandung zat adiktif, mulai masuk ke Kabupaten Bogor. Di beberapa kecamatan seperti, Kecamatan Gunungsindur, Parungpanjang, Cileungsi, Babakanmadang dan Kecamatan Citeureup ditemukan permen itu oleh Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Bogor.

Diskoperindag langsung mengamankan permen itu untuk diteliti kandungan yang terdapat didalamnya. Meski pada kemasannya telah tercantum Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), tetap saja akan diteliti untuk memastikan permen itu aman dikonsumsi.

Kepala Bidang Perdagangan pada Diskoperindag Kabupaten Bogor, Jona Sijabat menjelaskan, sejauh ini belum ada laporan mengenai efek buruk yang ditimbulkan setelah mengonsumsi permen itu. “Kami sudah minta dinas kesehatan memerikaa kandungan permen itu. Tapi tidak ada itu yang kata orang setelah makan permen itu bisa bikin tidur dua hari,” kata Jona kepada BogorOnline.com, Rabu (12/10/2016).

Baca Juga :  Dukung Kegiatan Gemapatas 2023, Pemkab Bogor Lakukan Pencanangan Di Dua Lokasi

Untuk memeriksa kandunhan narkoba atau zat adiktif, mesti dilakukan instansi yang lebih berwenang. Seperti kepolisian maupun Badan Narkotika Nasional (BNN). Tapi hasil tes dinkes, kandungan formalin dinyatakan negatif pada permen yang dijual seharga Rp 2.000 per buah itu.

“Demi kebaikan semua, lebih baik jangan dulu dibeli apalagi dikonsumsi. Tunggu dulu sampai benar dinyatakan aman. Kalau tidak pasti kami akan sita,” kata dia.

Baca Juga :  Tingkatkan Kapasitas, ORARI Lokal Kabupaten Bogor Siap Dukung Percepatan Pembangunan Daerah

Permen yang sekarang ada di meja kerjanya itu diambil dari warung di Gunungsindur. “Ini ada nomor BPOM-nya. Berarti kan terdaftar. Kalau memang ini bahaya, maka kredibilitas BPOM mesti dipertanyakan,” tegasnya.

Terpisah, Kapolres Bogor, AKBP AM Dicky menuturkan, jika permen itu memang mengandung narkoba, maka menurutnya tidak masuk akal dengan harga jual yang begitu murah.

“Sampai saat ini kami belum terima laporan. Apakah sebanding dengan harga jual permennya? Jadi kurang masuk akal. Lain cerita jika memang harga jual permen itu tinggi. Nah itu baru patut dicurigai,” singkatnya. (Iman R Hakim)