Opini-2-Sri-Mulyani-IndrawatiJAKARTA, TODAY—Federal Reserve (The Fed) memperkirakan tren kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS) yang lebih landai dari sebelumnya pada tahun depan. Median dari proyeksi terbaru titik tengah Fed rate yang dibuat para anggota komite pembuat kebijakan (FOMC) di bank sentral AS itu berada di level 1,125% pada akhir tahun 2017 (atau di kisaran 1%–1,25%), 50 basis poin (bps) lebih tinggi dari perkiraan titik tengah Fed rate di akhir tahun 2016. Kenaikan 50 bps ini berada di bawah perkiraan kenaikan 75 bps yang dibuat anggota FOMC pada Juni 2016.

The Fed pada rapat 20–21 September 2016 mempertahankan bunga acuan di kisaran 0,25%–0,5%.

Probabilitas kenaikan Fed rate pada bulan Desember mendatang semakin kuat. Pasar futures pada 7 Oktober 2016 menunjukkan probabilitas 54,5% bahwa Fed rate akan berada di kisaran 0,5%–0,75% pada akhir bulan itu, naik 25 bps dari posisi saat ini. Sebagai perbandingan, peluang Fed rate berada di kisaran tersebut pada bulan November hanya mencapai 17,1%.

Baca Juga :  Siap-siap AS Bakal Kena Resesi di Tahun 2023 Ini

Soal sinyal ini, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati meminta kepada seluruh pelaku pasar tidak panik dan khawatir berlebihan bila Bank Sentral Amerika ‎Serikat mengeksekusi kenaikan tingkat suku bunga di akhir tahun ini.

Lantaran pemerintah akan menjaga stabilitas makro ekonomi Indonesia sehingga dampak dari penyesuaian suku bunga AS bisa diminimalisir. “Kita perbaiki pondasi ekonomi Indonesia dari sisi komunikasi kebijakan, sehingga masyarakat maupun dunia usaha tidak perlu merasa khawatir berlebihan,” kata Sri Mulyani, kemarin.

Isu kenaikan Fed Fund Rate, sambungnya, dibahas dalam pertemuan tahunan IMF-World Bank belum lama ini.

Sri juga menuturkan, ‎pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Janet Yellen mengenai prospek kebijakan The Fed tahun ini dan tahun depan melalui data pertumbuhan ekonomi maupun lapangan kerja. Hasilnya mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed.
“Keputusan terakhir memang masih menunda, tapi ini adalah keputusan yang dianggap dekat dengan keputusan untuk mengubah suku bunga di akhir 2016 dan 2017. Sehingga seluruh negara harus mengantisipasi kenaikan Fed Fund Rate,” harapnya.

Baca Juga :  Saham Meta Merangkak Naik, Mark Zuckerberg Untung Besar Tahun Ini

‎Di sisi lain, kebijakan Perdana Menteri Inggris Theresa May yang setuju melibatkan parlemen terkait rencana keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa memberi sentimen positif terhadap penguatan mata uang pound sterling.

“Mereka (Inggris) ada persoalan bagaimana rencana Brexit dieksekusi di bawah pemerintahan Perdana Menteri baru ini. Jadi terserah pemerintah Inggris dalam melakukan negosiasi yang akan sangat panjang dan rumit dengan Eropa,” ujar Sri Mulyani.

Pengaruhnya ke dunia dan Asia khususnya, Sri Mulyani menuturkan akan lebih positif mengingat pemerintah Inggris akan berusaha memperkuat daya tarik sehingga hubungan dengan negara-negara di kawasan Asia tumbuh paling tinggi. “Makanya kita bisa melihat bagaimana pemerintah Inggris meminimalkan dampak dari Brexit bisa positif,” ujar Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.(Yuska Apitya/dtk)