Sad or depressed boy sitting in playground swingDIRAWAT dengan penuh kasih sayang oleh orang tua, tapi di luar sana anak kita malah jadi korban bully orang lain. Mungkin ini membuat orang tua marah luar biasa dan rasanya ingin turun tangan sendiri menyelesaikannya, menghadapi langsung si bully. Namun haruskah bullying dihadapi dengan cara ini?

“Saat tahu anak kita jadi korban bullying rasanya pengen jitak aja itu ya yang bully anak kita. Kalau anak ada masalah, kita sebagai orang tua langsung ingin melindunginya. Tapi dalam jangka panjang ini tidak akan menyelesaikan,” jelas psikolog dari Tiga Generasi, Anne Sari Sani S.Psi.

Baca Juga :  Simak! Ini Warna Dahak yang Harus Anda Waspadai

Hal itu dipaparkan kepada detikHealth di sela-sela seminar ‘Importance of Parenting Safety Awareness and Martial Arts to Prepare Your Kids Against Bullying,’ di Bodytec Station, Jl Kemang Raya, Jakarta Selatan, Sabtu (15/10/2016).

Jika orang tua selalu langsung turun tangan, kesannya adalah anak tidak mampu mengatasi masalahnya. Alhasil anak jadi tidak percaya diri dan kurang modal untuk menghadapi berbagai masalah yang akan dia temui dalam hidupnya.

“Menurut saya sebaiknya ajak anak berdiskusi. Tanyakan sama dia, bagaimana cara dia akan menyelesaikan masalahnya. Kalau anak sudah punya strategi, kita perkuat strateginya. Kalau kita sebagai orang tua selalu ambil alih, ketika kita lengah si bully akan incar lagi. Ini tidak akan menyelesaikan masalah,” tutur Anne.

Baca Juga :  Simak! Ini Warna Dahak yang Harus Anda Waspadai

Ketika anak atau siapapun menjadi korban bullying, sebaiknya perlu pembicaraan dengan berbagai pihak. Misalnya, jika dilakukan di lingkungan sekolah, maka perlu peran sekolah di sini. Libatkan pula orang tua si pelaku. Ini penting agar bullying tidak terjadi lagi ke depannya.