Bahagia-FotoOleh: Bahagia, SP., MSc. Penulis sedang S3 Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB dan Dosen tetap Universitas Ibnu Khaldun Bogor

Permasalahan bencana bermula dari perilaku manusia yang tidak pro ekologis. Bagian psikologis manusia perlu diperbaiki agar ramah lingkungan. Sikap manusia agar pro ekologis. Kesadaran ekologis, pengetahuan ekologis sampai dengan perilaku ekologis. Bagian ini sangat bermasalah karena bencana ekologis tidak lain karena kerusakan psikologis manusia. Manusia berperilaku atas dasar apa yang dia ketahui.

Manusia juga kurang sadar kalau tindakan yang dilakukan kini menyebabkan bencana banjir dan longsor. Bencana tadi tidak lain karena pengetahuan ekologis sangat minim. Perlu diperbaiki pengetahuannya sehingga manusia benar tau apa akar masalah dari bencana. Dengan begitu, sebagian kecillah bencana tadi secara alami terjadi. Bencana secara alami akibat seperti letusan gunung merapi. Kita tidak mengalami bencana secara alami terjadi setiap saat. Kita juga mengalami bencana akibat penggunaan teknologi tinggi.

Misalkan, saat meningatkan produksi pangan maka pupuk dan pestisida dipakai. Belakangan ini kita takut dengan dampak dari teknologi budidaya seperti penggunaan pestisida dialam.  Satu sisi bencana akibat penggunaan pestisida membuat musuh alami banyak yang mati dan punah. Penggunaan pupuk mengakibatkan tanah jadi mampet dan banjir. Dengan ditemukan teknologi budidaya padi bisa bertanam tiga kali setahun akhirnya merusak ekologis.

Tanah jadi intensif untuk ditanami sehingga secara langsung mengurangi unsur hara setiap tahun. Selain itu, bertani tidak lagi dilakukan pada lahan yang datar. Lahan berbukit dan bergunung akhirnya banyak dialihkan fungsi jadi lahan pertanian. Secara langsung lahan gunung dan perbukitan sangat rawan longsor dan bencana. Makin luas lahan pegunungan dialihkan maka makin tinggi kemungkinan longsor dan banjir. Air hujan langsung turun dan tidak bisa masuk kedalam tanah.

Air tadi tidak ada yang menghambat sehingga laju air kencang. Padahal dalam hukum ekosistem. Tanah harusnya dapat terserap masuk ke tanah. Hal ini akibat air hujan terlalu kencang untuk mengalir dipermukaan. Tanahpun mampet karena lubang biopori alami tertutup. Biopori tertutup akibat penggunaan pupuk berlebihan. Tanaman pangan juga ikut meningkatkan banjir dan longsor. Sebagian besar akarnya hanya 10-15 cm sehingga tidak cukup untuk membantu air hujan agar masuk ke tanah.

Dalam jangka panjang, tanah jadi miskin unsur hara dan kering. Sering juga terjadi banjir. Tanaman pangan bukanlah tanaman yang bisa dijadikan sebagai tumbuhan konservasi lahan. Penggunaan tanaman yang kuat dengan perakaran yang dalam penting digunakan. Tujuannya tidak lain untuk membantu air hujan masuk ke tanah. Akar yang dalam akan membentuk lubang biopori yang lebih banyak. Tumbuh juga ekosistem baru karena tanah akan hidup karena hidupnya pengurai tanah.

Pengurai membuat lubang biopori baru karena tersedianya makanan berupa seresah daun dan ranting dari pohon. Tentu masalah banjir dan longsor tidak lain karena kawasan pegunungan beralih fungsi jadi lahan pertanian, rumah mewah, villa dan industri. Hilanglah fungsi ekologis dari ekosistem pegunungan karena kerusakan berbagai ekosistem. Termasuk ekosistem sungai sebagai penampung air hujan. Banjir dan longsor dari hulu sampai ke hilir tidak bisa lagi dihindarkan.

Ditambah lagi alihfunsi lahan yang tinggi pada pinggiran sungai untuk pertanian dan perumahan. Air hujan benar-benar terdampar dipermukaan tanah. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan. Pertama, penyuluhan pertanian harus menyentuh masalah. Penyuluhan artinya merubah sikap, pengetahuan dan keterampilan petani. Petani perlu dirubah menuju perilaku yang pro ekologis. Kedepannya pembangunan pertanian dan ekologis tidak bisa dipisahkan.

Pertanian belum dikatakan berkelanjutan kalau aktivitas pertanian menimbulkan bencana ekologis saat produksi. Petani belum tau dampak dari alihfungsi lahan gunung dan kerusakan ekosistem kemudian berdampak terhadap produksi. Tentu penyuluhan pertanian sampai kini masih merangkak menuju arah pertanian berkelanjutan. Buktinya belum sukses merubah sikap petani, perilaku dan pengetahuannya hingga kini.

Bencana ekologis yang setiap tahun dirasakan oleh kita sebagai bukti kongkrit yang tidak dipungkiri. Semua akar masalahnya karena penyuluhan sebatas kepada mengubah perilaku petani untuk menggunakan tekonologi modern perusak ekologis. Menyuluh menuju perilaku yang baik. Kita tidak begitu, justru pestisida dan pupuk pabrik yang kita suluh kepada mereka. Tentu petani beranggapan kalau sarana dan produksi itu yang menguntungkan.

Kita telah salah mengubah sosial masyarakat. Menuju ke arah kehancuran. Kita juga menyuluh selalu kegiatan teknis yang tidak mengkaitkan kepada ekologis. Buktinya lagi, kalau hama bertambah banyak maka penyuluhan belum sukses merubah masyarakat ke pertanian organik. Kita sudah wacanakan pertanian organik tetapi penyuluhan atas ini yang masih kurang. Akhirnya kita dihadapkan dengan perilaku sosial yang merusak.

Ekologis yang rusak parah sehingga pertanian tidak berkelanjutan lagi. Kedua, penyuluhan pada petani belum penyuluhan dampak ekologis dan perubahan iklim. Jarang penyuluh pertanian mengkaitkan perubahan iklim dengan pembangunan pertanian. Padahal pengetahuan ekologis dan perubahan iklim tadi membentuk perilaku ramah ekologis petani. Petani membuka lahan pegunungan kemudian untuk lahan pertanian karena petani tidak paham.

Penyuluhan sudah memberikan pengetahuan maka semakin sedikit petani yang membuka lahan pegunungan. Tentu secara bersamaan belum diberi tahu dampak ekologis menanam tanaman sayuran dan padi pada lahan pegunungan. Sebaiknya materi penyuluhan pertanian membahas detail tentang hal semacam ini. Akhirnya terbentuklah perilaku ramah ekologis. Ketiga, Penyuluhan sebagai wahana pendidikan petani harus menjadi sumber pendidikan bagi petani.

Pentinglah menumbuhkan kelompok petani ramah ekologis pada daerah-daerah. Kelompok  petani ini yang diberikan pendidikan untuk menularkan kepada petani yang lain. Terakhir, perlu dilakukan perubahan kelembagaan penyuluhan. Termasuk memperbaiki tujuan agar dirubah ke arah pertanian berkelanjutan. Ekologis, ekonomi dan sosial harus bersama menjadi tujuan kelembagaan penyuluhan pertanian.

Akhirnya pembangunan pertanian tidak pincang tujuannya. Bertujuan untuk mensejahterakan petani dalam jangka panjang karena bersamaan ekologis dipertahankan mutunya. Secara langsung harus merubah tujuan pembangunan pertanian. Kedepannya pembangunan pertanian yang tidak merusak yang harus diwujudkan. Terakhir, perlu adanya perbaikan inovasi pertanian.

Lemahnya penciptaan teknologi pertanian membuat lahan harus diperluas. Padahal kalau inovasi pertanian berkembang pesat tidak perlu kita memperluas lahan. Intensifkan saja lahan yang sudah ada dan tidak perlu ektensifikasi atau perluasan lahan. Cara ini mengurangi pembabatan lahan hutan pada kawasan hulu sungai dan pegunungan. Banjir dan longsor dapat dikurangi namun tetap memproduksi pangan dan sayuran. Petani juga tetap dapat untung dari mekanisme pembangunan.