tirta-segara-okYuska Apitya Aji

[email protected]

Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan suku bunga acuannya BI 7-Days Reverse Repo Rate sebanyak 25 basis poin (bps) dari semula 5 persen menjadi 4,75 persen pada Kamis (20/10/2016).

Pelonggaran tersebut juga berlaku bagi suku bunga deposit facility (DF) yang turun 25 bps dari 4,25 persen menjadi 4 persen, dan suku bunga lending facility (LF) yang turun 25 bps dari 5,75 menjadi 5,5 persen yang efektif per 21 Oktober 2016. Dengan demikian sepanjang tahun ini, BI sudah enam kali menurunkan suku bunga acuan dengan akumulasi besaran 150 basis poin. “BI meyakini pelonggaran tersebut sejalan dengan stabilitas makroekonomi khususnya inflasi yang diperkirakan mendekati batas bawah dari kisaran sasaran, defisit transaksi berjalan yang lebih baik dari perkiraan, surplus neraca pembayaran yang lebih besar, dan nilai tukar yang relatif stabil,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam konferensi pers, Kamis (20/10/2016).

BI memperkirakan inflasi tetap terkendali pada level yang rendah dan pada akhir tahun diperkirakan akan berada di batas bawah kisaran sasaran inflasi 2016, yaitu 4±1 persen.

Baca Juga :  Siap-siap AS Bakal Kena Resesi di Tahun 2023 Ini

Selain itu bank sentral juga mempertimbangkan sentimen global khususnya rencana kebijakan kenaikkan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (Fed Fund Rate) yang diprediksi hanya akan menaikkan suku bunganya satu kali tahun ini. Di samping itu BI memproyeksi pertumbuhan ekonomi Eropa dan India akan membaik seiring dengan peningkatan data ketenagakerjaan dan pendapatan di kedua negara tersebut.

Neraca pembayaran Indonesia diperkirakan akan mencatat surplus yang baik, defisit transaksi berjalan diprediksi berada di bawah 2 persen dari PDB terutama didukung oleh surplus neraca perdagangan sejalan dengan membaiknya harga ekspor komoditas primer dan menurunnya impor nonmigas.

Sementara dari kondisi nilai tukar, BI mencatat mata uang rupiah tetap stabil dengan kecenderungan menguat. Nilai tukar Rupiah pada September 2016, secara rata-rata, terapresiasi sebesar 0,41 persen dan mencapai level Rp 13.110 per dolar AS. Penguatan tersebut berlanjut dan pada minggu ketiga Oktober 2016 ditutup pada level Rp 13.005 per dolar AS.  “BI meyakini pelonggaran kebijakan moneter dan prudensial dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kedepannya,” ujarnya.

Baca Juga :  Shopee Sempat Mengalami Eror, Ini Penyebabnya

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad memproyeksikan, suku bunga acuan BI masih bisa direvisi ke bawah. Hal ini sejalan dengan tingkat inflasi yang masih terjaga di kisaran 4% plus minus 1%. “Pasti, saya kira memungkinkan itu dengan inflasi yang rendah,” ujar Muliaman di JS Luwansa Hotel, Jakarta Selatan, Kamis (20/10/2016).

Ditambah lagi tren penurunan suku bunga perbankan saat ini perlahan turun ke bawah 10% atau menuju ke single digit. Tren penurunan suku bunga perbankan diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan kredit yang masih tumbuh di bawah 10%.

“Kemudian juga tingkat bunga yang ditawarkan oleh bank-bank juga sekarang single digit,” tutur Muliaman. (*)