ekonomi-indonesiaJAKARTA, TODAY—Pelemahan ekonomi global serta rendahnya harga komoditas dunia masih menjadi kendala utama berbagai negara dalam menggenjot pertumbuhan ekonominya. Indonesia sebagai salah satu negara yang aktif melakukan perdagangan internasional juga kena dampaknya.

Negara adidaya sekelas Amerika Serikat (AS) juga tidak terlepas dari perlambatan ekonomi global. “Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diperkirakan lebih rendah dari sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat sejalan dengan inflasi yang lebih rendah, maka Fed Fund Rate diperkirakan hanya naik sekali di 2016,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara di Gedung Thamrin BI, Jakarta Pusat, Kamis (20/10/2016).

Selain itu, harga komoditas perdagangan internasional seperti minyak dunia masih berada dalam level bawah sejak beberapa bulan terakhir. Rendahnya harga minyak dunia memperlambat laju pertumbuhan ekonomi global. “Di sisi komoditas, harga minyak dunia tetap rendah sejalan dengan masih tingginya produksi minyak OPEC,” kata Tirta.

Berbeda dengan mayoritas negara dunia lainnya, pertumbuhan ekonomi di India diperkirakan masih dapat tumbuh positif seiring dengan adanya kenaikan upah yang turut berimbas pada kenaikan konsumsi. “Di sisi lain, konsumsi di India diperkirakan meningkat didukung oleh kenaikan pendapatan,” ujar Tirta.

Kenaikan harga komoditas ekspor juga terjadi di Indonesia dibarengi dengan kenaikan harga barang tambang dan minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO). “Sementara itu, mayoritas harga komoditas ekspor Indonesia mengalami perbaikan, seperti batu bara, CPO, dan beberapa barang tambang,” tutup Tirta.

Baca Juga :  Siap-siap AS Bakal Kena Resesi di Tahun 2023 Ini

BI juga mencatat inflasi pekan kedua Oktober sebesar 0,04%. Angka ini masih terbilang rendah dan masih sejalan dengan target inflasi di kisaran 4% plus minus 1%. “Survei yang terakhir 0,04%, jadi masih cukup rendah. Itu di minggu kedua,” terang Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung dalam jumpa pers di Gedung Thamrin BI, Jakarta Pusat, Kamis (20/10/2016).

Inflasi sebesar 0,04% didorong oleh penurunan mayoritas harga pangan di pasar. Namun, kenaikan harga cabai merah juga berkontribusi terhadap inflasi di pekan kedua Oktober. “Pendorongnya semua turun, kalau kita lihat dari harga pangan semua turun kecuali cabai,” ujar Juda.

 Hingga akhir 2016, inflasi diperkirakan berada di batas bawah kisaran 4% plus minus 1%. Hingga saat ini, BI mencatat inflasi sepanjang tahun 2016 atau year ti date (ytd) sebesar 1,97% dan inflasi year in year (yoy) 3,07%. “Inflasi akhir tahun diperkirakan batas bawah target. Maka year to date 1,97% dan 3,07 % year on year,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara di tempat yang sama.

Baca Juga :  Realme 10 Pro 5G Edisi Coca-cola Bakal Launching Bulan Ini, Berikut Spesifikasinya

Inflasi yang rendah disebabkan masih rendahnya tingkat konsumsi dan turunnya harga komoditas. Selain itu, stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga berkontribusi terhadap rendahnya inflasi. “Sejalan dengan masih lemahnya permintaan domestik, kecenderungan menurunya harga input industri global, dan stabilnya rupiah,” kata Tirta.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2016 tidak sesuai perkiraan BI. Perbaikan angka konsumsi masih belum bisa menambal lemahnya investasi swasta di Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2016 cenderung tidak sekuat perkiraan sebelumnya. Konsumsi membaik meskipun masih terbatas. Di sisi lain perbaikan investasi swasta khususnya di non bangunan masih belum kuat,” jelas Tirta.

Di sisi lain, masih lemahnya ekspor juga berimbas terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III-2016. Naiknya beberapa harga komoditas belum mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap nilai ekspor Indonesia. “Masih lemahnya ekonomi dan perdagangan dunia mengakibatkan perbaikan ekspor riil masih tertahan, meskipun harga beberapa komoditas ekspor mulai membaik,” ujar Tirta.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun diproyeksi hanya mampu mencapai batas bawah yang ditetapkan pemerintah atau di kisaran 4,9%-5,3%. “Pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2016 diperkirakan cenderung mendekati batas bawah kisaran 4,9-5,3% year on year,” tandasnya. (Yuska Apitya)