7BUDAYA bahkan menyampaikan bahwa gotong royong merupakan “jiwa” masyarakat Indonesia. Sayangnya, saat ini budaya gotong royong mulai berkurang.

Jika kita berbicara masa lalu, mudah sekali menemukan budaya gotong royong dalam berbagai bentuk. Mulai dari kerja bakti yang seringkali dilakukan warga masyarakat setiap satu minggu sekali hingga budaya gotong royong antar umat beragama. Budaya gotong royong adalah identitas nasional. Karenanya, budaya gotong royong seharusnya terus dijaga supaya terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah gotong royong berasal dari bahasa Jawa. Gotong berarti pikul atau angkat, sedangkan royong berarti bersama-sama. Sehingga jika diartikan secara bahasa, gotong royong berarti mengangkat secara bersama-sama atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Gotong royong dapat dipahami pula sebagai bentuk partisipasi aktif setiap individu untuk ikut terlibat dalam memberi nilai positif dari setiap obyek, permasalahan, atau kebutuhan orang-orang di sekelilingnya. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa bantuan yang berwujud materi, keuangan, tenaga fisik, mental spiritual, ketrampilan, sumbangan pikiran atau nasihat yang konstruktif.

Baca Juga :  Jalan Tanah Menuju Sekolah, Siswa Harus Melepas Sepatu Saat Turun Hujan

Gotong royong menjadikan kehidupan manusia Indonesia lebih berdaya dan sejahtera. Dengan gotong royong, berbagai permasalahan kehidupan bersama bisa terpecahkan secara mudah dan murah, demikian halnya dengan kegiatan pembangunan masyarakat.

Bersyukur,  ternyata budaya gotong royong telah dilaksanakan oleh warga Villa Mutiara dengan membangun jalan secara swadaya. Ketua RT 01/11 Kelurahan Mekarwangi Villa Mutiara Bapak Agung Julianto sangat berterima kasih pada seluruh warga yang telah memberikan dana, pemikiran, saran dan konsumsi, sehingga terwujudnya kegiatan ini,”Gotong royong memperbaiki jalan ini untuk yang kedua kalinya, pengaspalan jalan ini sekitar 100 meter persegi lebih, dengan biaya sekitar 9 juta,”terang laki-laki asli Semarang ini.

Baca Juga :  Lomba Pramuka Tingkat III Kwartir Cabang Kabupaten Bogor Digelar

Pemerhati Pendidikan Kota Bogor Heru B. Setyawan mengatakan  Pancasila itu mempunyai nilai praksis yang terkandung dalam kenyataan sehari-hari dan menjadi ciri khas bangsa Indonesia, seperti toleransi, gotong-royong, kekeluargaan, legowo, tepo seliro, kerja bakti, musyawarah dan mufakat dan lain-lain.”Dengan kata lain, warga Villa Mutiara sudah melaksanakan nilai praksis dari Pancasila, hal ini patut dicontoh oleh warga yang lain, ujar laki-laki yang menjadi Humas RT 01/11 Villa Mutiara.