Bahagia-Foto

Oleh: Bahagia, SP., MSc. Penulis Sedang Menempuh Program Doktor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB dan Dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Pemberdayaan petani dalam jangka panjang terhambat karena masah ekologis dan masalah Impor. Bencana ekologis seperti banjir, kekeringan, dan bencana hama mengancam pertanian pada umumnya. Kentang sangat rentan terhadap bencana seperti banjir. Bencana seperti banjir terjadi karena budidaya kentang tanah air belum sepenuhnya organik. Budidaya kentang tanah air masih menggunakan pestisida saat produksi dan bukan pupuk organik.

Penggunaan pestisida menyebabkan kentang tanah air dapat tercemar. Air sekitar juga tercemar. Hama makin kebal karena setiap serangga beradaptasi pada lingkungan. Suatu saat serangga tidak mempan disemprot lagi dengan menggunakan pestisida. Dosis pestisida akhirnya dinaikkan. Kalau masih kebal maka naikkan lagi. Sedangkan kondisi tanah makin memburuk. Tanah makin gersang karena sering banjir. Ditambah lagi pengembalian unusur ara belum dilakukan.

Buktinya sampai sekarang belum bisa menggunakan pupuk organik. Selain masalah iklim dan bencana. Produksi Kentang dapat terhambat lantaran politik dagang yang tidak sehat. Keberadaan kentang impor ditanah air sudah sangat lama. Selama ini negeri ini belum berdaulat kentang. Impor kentang selama dua tahun terakhir mengalami peningkatan. Tahun (2012) pemerintah mengimpor kentang mencapai 50190 ton kemudian naik menjadi 55174 Ton tahun (2013).

Selain kentang segar, pemerintah juga mengimpor bibit kentang. Total bibit kentang yang diimpor mencapai 1767 ton selama tahun (2013). Sedangkan Total biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk membeli kentang baik bibit dan kentang segar mencapai 34475 dolar Amerika. Kenyataan ini sangat ironis bagi negeri ini. Bibit kentang yang dipakai untuk produksi kentang ditanah air masih impor. Selama ini kentang juga masih dari negeri luar. Fakta ini mengancam petani kentang Jawa Barat dan seluruh petani kentang nusantara. Impor tidak pernah menguntungkan petani.

Dalam mekanisme Impor yang untung pedagang dan pemerintah. Konsumen juga untung karena rata-rata harga kentang Impor jauh lebih murah. Harga kentang lokal mencapai Rp 10.000/kg sedangkan kentang impor hanya 7000/kg saja. Harga yang sangat menguntungkan bagi konsumen. Pandangan konsumen pasti terpecah dan melihat kentang impor.

Kondisi ini diperburuk lagi dengan kualitas. Kalau warna secara fisik dan mutu lebih baik kentang impor maka kosumen akan membeli kentang impor. Dengan mekanisme Impor rantai pasar kentang impor makin pendek. Pemerintah dapat untung dari impor sebab terjadi efisiensi. Sementara petani sulit untuk menurunkan harga kentang karena rantai pasar yang panjang.

Setiap rantai naik harga kentang sehingga sampai dipasar harga tetap mahal. Terlebih permintaan kentang sangat banyak. Sesuai dengan banyaknya jumlah kuliner, restoran, perusahaan olahan kentang dan kebutuhana untuk sayur. Realita ini membuat kedaulatan pangan dan kentang tanah air runtuh. Petani kentang akan tersingkirikan. Importir akan tetap berjaya. Pandangan pemerintah harus dirubah.

Jangan mempunyai persepsi bahwa dengan terpenuhi kebutuhan pasar dari impor dikatakan mandiri pangan. Pandangan ini sudah keliru. Saat terjadi kegagalan karena musim maka daerah luar negeri mengurangi pasokan kentang ke tanah air. Kondisi pasar pasti tidak stabil akibatnya produk lokal harus masuk. Sementara petani sudah enggan memproduksi kentang kalau harganya murah. Selain itu, kondisi ini sangat ironi.

Pemerintah rela mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli kentang. Satu sisi perbaikan inovasi dan kelembagaan pertanian tidak dilakukan. Lebih ironis lagi saat bibit kentang saja harus impor. Pemerintah rela membuang uang sebanyak itu untuk membeli bibit kentang impor. Padahal pemerintah bisa memperbaiki cara perbanyakan kentang tanah air dengan inovasi tinggi. Seperti perbanyakan kentang dengan cara kultur jaringan. Baiknya pemerintah memikirkan nasib petani kentang yang membutuhkan inovasi.

Jika saja dana untuk bibit dan beli kentang segar dipergunakan untuk petani kentang. Petani kentang sudah bisa memproduksi kentang dengan teknologi tinggi. Mulai dari aktivitas hilir (produksi) sampai kepada aktivitas hilir (pasar). Untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah sebaiknya memperluas lahan kentang kalau benar kentang kekurangan dipasar. Lahan untuk perluasan kentang masih sangat luas. Selain itu, usahakan menggunakan inovasi tinggi dengan penggunaan bibit unggul kentang.

Bibit kentang yang berkualitas hasil perbanyakan tanaman yang baik dapat mendukung produksi kentang. Ketiga, setop keran impor kentang dan pangan. Mulai menggunakan produk lokal petani. Kementerian pertanian dan perdagangan harus duduk bersama untuk membicarakan perdagangan kentang yang sehat. Untung buat petani dan pemerintah. Tentu bukan jalur impor. Petakan potensi pasar di Jawa Barat kemudian aturkan dengan petani. Potensi pasar tanah air selama ini tidak terdekteksi dengan baik.

Petani cenderung membuat rencana pemasaran hasil kentang sendiri tidak dibantu oleh pemerintah. Keempat, membangun pasar alternatif. Pemerintah harus sudah bisa menjamin kentang petani bisa masuk pasar dengan membangun banyak pola pasar. Selama ini petani kentang selalu menjual kentang melalui pedagang pengumpul. Kemudian dilanjutkan dipasar. Pola ini harus dirubah. Mulailah petani bisa langsung menjual kentang ke pasar. Jika sulit pemerintah bisa membuat pemetaan potensi pasar diluar pasar.

Seperti menjalin hubungan antara kelompok petani dengan pihak rumah makan, kuliner, tempat wisata dan perusahaan pengolah kentang. Mekanisme pasar ini belum terbangun dengan baik. Bahkan kelompok petani sebagai organisai petani belum begitu baik. Latih kelompok tani dengan baik mulai dari membuat pembukuan pertanian. Untung dan rugi dan lain-lain. Kelima, lakukan pembenahan kepada kelompok petani kentang.

Petakan berapa potensi kelompok petani kentang untuk produksi kemudian hubungkan sesuai dengan kebutuhan kuliner, restoran, perhotelan dan perusahaan pengolah kentang. Pasar yang sudah pasti seperti ini akan membuat petani kentang semangat membudidayakan kentang. Petani juga mempunyai power untuk memasarkan kentang tidak selalu bergantung kepada pasar. Keenam, pemerintah harusnya sudah memberdayakan ibuk-ibuk petani dan petani.

Bentuklah industri keripik kentang skala rumah tangga. Hasil dari kripik kentang tersebut bisa dikemas dengan kemasan sendiri. Kemudian dipasarkan ke pasar. Atau dijual kepada perusahaan pengolah kentang dengan standarisasi perusahaan. Dengan begitu standar mutu akan ditentukan oleh perusahaan tertentu. Pemerintah hadir untuk menjembatani kelompok petani dengan perusahaan. Akhirnya petani kentang naik statusnya dan sejahter