c0rytgyuaaatk9c

Yuska Apitya Aji

[email protected]

 

POLRI melarang keras organisasi massa (Ormas) di Indonesia melakukan aksi sweeping (penyisiran) selama perayaan Natal dan Tahun Baru. Ini berlaku untuk seluruh wilayah hukum Indonesia.

Kapolresta Bogor Kota, Ajun Komisaris Besar Suyudi Ario Seto memastikan tidak akan ada aksi penyisiran atau sweeping yang dilakukan oleh organisasi masyarakat (ormas) selama perayaan Natal dan Tahun Baru di Kota Bogor. Menurut dia, pihaknya sudah mengundang perwakilan ormas yang ada di Kota Bogor untuk sepakat tidak melakukan penyisiran sejumlah pusat keramaian.

“Kemarin sudah disepakati, tidak ada sweeping oleh ormas. Kalau masih ada yang melakukan sweeping akan kita tindak tegas. Tetapi masih terukur,” kata Suyudi, Jumat (23/12/2016).

Setiap pusat keramaian dan pusat perbelanjaan selama Operasi Lilin Lodaya 2016, juga akan ditempatkan dua hingga empat petugas polisi. Lebih lanjut, sebanyak 1.410 personel gabungan dari TNI dan Polri disiagakan dalam pengamanan hari raya Natal dan Tahun Baru dalam Operasi Lilin Lodaya 2016 di wilayah Kota Bogor. Operasi ini mencakup pengaman gereja saat Natal, pengamanan tahun baru, lalu lintas, premanisme dan tindak kejahatan lainnya. “Operasi ini dilaksanakan selama 10 hari mulai tanggal 23 Desember 2016 sampai tanggal 1 Januari 2017. Dibagi menjadi satu pelayanan di Baranangsiang dan 8 pos pengamanan lainnya,” katanya.

Suyudi menambahkan, 1.410 personel akan di sebar di 63 gereja yang berada di wilayah Kota Bogor untuk pengamanan Hari Raya Natal terutama yang akan melakukan kebaktian.

Dalam operasi lilin ini pihaknya juga telah menyediakan Tim Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) yang disiagakan untuk memantau situasi dan kondisi di kerumunan masyarakat.

Sementara, Kapolres Bogor, Ajun Komisaris Besar Andy M Dicky, menjelaskan, Operasi Lilin ini, melibatkan 3.000 personel gabungan dari Polri, TNI, Satpol PP hingga DLLAJ Kabupaten Bogor. “Operasi selama 10 hari. Melibatkan kekuatan sekitar 3.000 personel, dari Polri, TNI, Dishub hingga pemerintah. Tapi, karena kami akan melibatkan semua elemen masyarakat, kurang lebih akan ada 10 ribu orang yang terlibata dalam Lilin Lodaya 2016,” kata Andy.

Selain itu, ia juga memerintahkan seluruh polsek untuk melakukan pengamanan dan penertiban ataupun penindakan terhadap penyakit masyarakat seperti miras, petasan, premanisme ataupun balapan liar. Sebanyak 134 gereja yang berada di Kabupaten Bogor juga akan mendapatkan prioritas pengamanan hingga sepuluh hari.

Dalam rentang waktu sepuluh hari tersebut, pengamanan mengedepankan kegiatan pencegahan terjadinya tindak kejahatan atau gangguan ketertiban. “Polisi juga memberikan pengamanan ekstra bagi gereja yang mempunyai jemaat lebih banyak. Selain sterilisasi gedung, juga dilibatkan tim pendeteksian bahan peledak (jihandak) serta anjing pelacak,” terangnya.

Polisi Unit Lalu Lintas juga dikerahkan guna mengatur lalu lintas pada titik-titik tempat ibadah, agar tidak terjadi antrean kendaraan. Namun demikian, kapolres mengimbau agar umat Nasrani tidak membawa barang-barang berlebihan pada saat melakukan ibadah malam Natal dan tahun baru, demi kenyamanan saat beribadah.

Baca Juga :  Nahas, Tertabrak KA Parcel Barang di Perlintasan Rel, Pasutri di Malang Tewas

Andy juga mengakui aksi terorisme dan radikalisme masih terjadi belakangan ini. Lebih lanjut dia mengatakan, kontrakan dan kos-kosan harus tetap dipantau untuk mengantisipasi masuknya pelaku radikalisme dan terorisme yang dapat menganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). “Peran RT dan RW di wilayah juga sangat penting, kalau ada orang yang tidak dikenal bertamu lebih dari 24 jam harus segara di data,” tegasnya.

Tak hanya itu, kata dia, seluruh jajaran Bhabinkamtibmas yang berada di wilayah Kabupaten Bogor pun harus tetap berkordinasi dengan para ulama dan tokoh agama setempat.

Agar, orang yang buruk dan ingin memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia ruang geraknya bisa dipersempit. “Ini perlu diantisipasi dan jangan diremehkan, saya juga minta tingkatkan kordinasi dengan seluruh elemen masyarakat dan para tokoh agama,” tukasnya.

Selain itu, untuk mengantisipasi kemacetan arus lalu lintas saat libur Natal dan Tahun Baru 2017, truk angkutan barang dengan sumbu lebih dari dua dilarang beroperasi di jalur Puncak. Pelarangan tersebut berlaku mulai 23 Desember 2016 hingga 2 Januari 2017. “Mulai hari ini hingga 10 hari ke depan truk dilarang melintasi jalur Puncak,” kata Kasatlantas Polres Bogor AKP Silfia Sukma, Jumat (23/12/2016).

Terkecuali, lanjut Silfia, untuk truk angkutan barang bahan pokok, ternak, pupuk, dan bahan bakar masih bisa melintas. Sebab, kebutuhan barang tersebut tidak bisa ditunda. “Sesuai surat edaran Kementarian Perhubungan truk dilarang beroperasi di beberapa ruas tol dan jalur menuju kawasan wisata termasuk Puncak. Dan kami sudah mensosialisasikan imbauan tersebut di gerbang tol dan persimpangan jalan,” kata Silfia.

Tiga hari minus Libur Natal arus lalu lintas di kawasan Puncak sudah padat. Namun demikian, situasi lalu lintas relatif ramai lancar. Untuk mengatur arus kendaraan pada Natal dan Tahun Baru, Polres Bogor mengerahkan sebanyak 300 personel gabungan. Masing-masing personel ditempatkan di pos-pos gatur sepanjang jalur Puncak.

Beberapa titik yang menjadi prioritas kepolisian di antaranya Simpang Gadog, Tanjakan Selarong, Simpang Megamendung (Curug Cilember), Taman Wisata Matahari, Pasar Cisarua, Taman Safari, Warungkaleng, dan Masjid Atta’un di Gunung Mas.

“Kami mengimbau sebelum bepergian pengemudi agar mengecek kendaraan. Patuhi rambu lalu lintas dan jangan terburu-buru karena banyak pengendara yang tidak sabaran memotong jalan akhirnya menimbulkan kemacetan,” kata Silfia.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Detasemen Khusus (Densus) 88, dan semua detasemen antiteror di Indonesia (TNI) terus memperkuat sinergi untuk meningkatkan deteksi ancaman terorisme jelang hari raya Natal dan Tahun Baru 2016.

Langkah itu dilakukan karena dikhawatirkan masih ada beberapa sel kelompok terorisme yang akan bergerak, pascakeberhasilan pengungkapan beberapa rencana aksi terorisme oleh Densus 88 di Bekasi, Tangerang, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Kepulauan Riau.

Baca Juga :  Kecelakaan, Mobil Bak Pengangkut Air Mineral Terbalik di Jalan Panjang, Diduga Rem Blong

“Tentu saja kami terus bekerja sama mendeteksi sel-sel lain yang akan bergerak untuk melakukan teror dengan memanfaatkan momentum Natal dan Tahun Baru 2016,” kata Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius usai penutupan Peningkatan Kapasitas SDM BNPT di kawasan Puncak, Bogor, kemarin.

Suhardi Alius menambahkan, apresiasi tinggi harus diberikan atas pengungkapan beberapa rencana aksi teror tersebut. Padahal di negara lain, beberapa aksi terorisme telah mencoreng kehidupan damai di muka bumi. Di Turki, Duta Besar Rusia ditembak mati, kemudian Yaman, bom bunuh diri menewaskan puluhan korban. Selanjutnya, di Berlin, Jerman, terjadi aksi teror dengan menabrakkan truk ke Pasar Natal.

Di Zurich, Swiss, sebuah masjid ditembaki oleh teroris yang menewaskan beberapa korban. Terakhir, kemarin di Irak, aksi bom bunuh diri menewaskan puluhan orang. “Ini hasil penguatan koordinasi dalam pencegahan terorisme. Di negara lain, aksi teror tidak bisa diantisipasi, tapi kita bisa menggagalkan. Namun, kita tidak boleh lengah karena masih banyak sel teroris yang masih hidup di Indonesia. Kita harus terus bekerja keras melakukan sinergi dengan Densus 88 dan detasemen anti teror TNI, bagaimana mencegah dan mengurangi ancaman dan tindak pidana terorisme di Indonesia,” ungkap mantan Kabareskrim Polri ini.

Selain itu, lanjut Komjen Suhardi Alius, BNPT akan segera membuat MoU dengan 25 Kementrian dan lembaga negara lainnya untuk memantapkan pencegahan terorisme tahun depan. Keberadaan MoU dengan 25 Kementrian dan lembaga itu akan membuat program penanggulangan terorisme yang lebih komprehensif ke depan. Sejauh ini, BNPT telah mengurut permasalahan terorisme mulai dari hulu sampai hilir dengan menggandeng para kelompok ahli dari berbagai disiplin ilmu.

Menurutnya, bicara terorisme, tidak bisa hanya terkait penindakan saja, tapi harus dirunut mulai dari akar radikalisme sampai menjadi terorisme. Ke depan ia berharap, semua program terkait terorisme, baik itu pencegahan, penindakan, dan deradikalisasi bisa berjalan dengan baik untuk meninimalisasi potensi ancaman terorisme di Indonesia.

Di samping memperkuat sinergi diatas, BNPT juga menyelesaikan pembangunan pusat deradikalisasi. Diharapkan, pusat deradikalisasi itu sudah beroperasi bulan Januari 2017 mendatang dan harus berstandar internasional dari segi sistem keamanan dan program deradikalisasinya.

“Nanti ada psikolog dan ulama datang yang datang untuk memberikan panduan sebelum napi terorisme kembali ke masyarakat. Artinya sebelum mereka keluar, kita harus bisa mereduksi tingkat radikalisasi, sehingga saat keluar mereka benar-benar telah ‘sembuh’. Untuk napi terorisme yang masih keras, juga disiapkan program deradikalisasinya dengan menyentuh aspek keluarga, anak, dan lingkungan mereka,” tandasnya.(*)