“Tapi itu sebenarnya gara-gara banyak yang crossing saham saja, bukan semata-mata beli,” imbuh Hans Kwee.
Penurunan sektor barang dan konsumsi ini, lanjut Hans Kwee, didorong oleh tiga emiten terbesar yang berada di sektor tersebut yang harga sahamnya melemah beberapa hari ini. Sebut saja PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) yang ditutup pada harga Rp3.640 per lembar pada Jumat (23/12).
Penutupan harga saham Hanjaya Mandala tersebut sebenarnya lebih tinggi jika dibandingkan hari sebelumnya yang ditutup Rp3.630 per lembar. Harga saham emiten rokok tersebut terlihat melemah dua hari belakangan ini.
Sementara, emiten rokok lainnya yaitu, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) tercatat ditutup ke level Rp60.300 per lembar pada akhir pekan ini. Harga tersebut turun 550 poin atau 0,9 persen.
Selain itu, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga terkoreksi ke level Rp37.875 per lembar, melemah 100 poin atau 0,26 persen. Pelemahan tersebut merupakan harga terendah selama satu bulan belakangan ini.
“Penurunan harga saham emiten-emiten ini membuat sektor barang dan konsumsi ikut melemah,” pungkas Hans Kwee.
Sementara itu, BEI mencatat sektor agrikultur turun 2,47 persen, pertambangan 4,77 persen, industri dasar 4,69 persen, aneka industri 3,02 persen, properti 5,32 persen, infrastruktur 3,49 persen, keuangan 1,44 persen, perdagangan 2,61 persen, dan manufaktur 5,75 persen. (Alfian M|cnn)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















