318995-dollar

JAKARTA, TODAY—Perekonomian Amerika Serikat (AS) sudah menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang terlihat dari menurunnya pengangguran ke level 4,6 persen, terendah sejak era perang Vietnam. Dengan kondisi yang ada, DBS Group memprediksi pertumbuhan ekonomi potensial AS akan mencapai 2,7 persen pada 2017.

Chief Economist DBS Group Research David Carbon menyatakan, proyeksi ekonomi Negeri Paman Sam yang membaik tak pelak membuat nilai tukar dolar AS menguat.

Menurutnya, penguatan ini sama sekali berbeda dengan yang terjadi pada 2013-2015 lalu, yang disebabkan oleh kebijakan quantitative easing (QE) yang dilakukan untuk melemahkan mata uang yen dan euro.

“Apalagi pemerintahan Donald Trump diprediksi akan mengeluarkan kebijakan stimulus fiskal dan proteksi perdagangan untuk mendongkrak investasi di dalam negerinya. Kebijakan tersebut memang akan mendorong inflasi, tapi pada saat bersamaan berhasil meningkatkan optimisme pasar,” ujar David dalam risetnya, dikutip Rabu (4/1/2017).

Baca Juga :  Siap-siap AS Bakal Kena Resesi di Tahun 2023 Ini

Adapun bank sentral Amerika Serikat the Federal Reserve diperkirakan menaikkan suku bunga acuan hingga ke level 1,75 persen pada akhir 2017. Implikasinya, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun juga akan meningkat signifikan.

Sementara di zona Eropa, bank sentral Eropa (ECB) diperkirakan memperpanjang program Quantitative Easing (EQ) yang akan berakhir Maret 2017.

Di Asia Tenggara, kenaikan suku bunga the Fed, dolar AS, serta proyeksi inflasi akan menambah ketidakpastian rencana investasi. Dengan demikian, David menilai penguatan pasar domestik perlu ditingkatkan, terutama investasi pemerintah dan belanja rumah tangga sebagai andalan penggerak ekonomi.

Baca Juga :  Saham Meta Merangkak Naik, Mark Zuckerberg Untung Besar Tahun Ini

Namun risiko eksternal, dari kenaikan suku bunga the Fed, tetap perlu diperhatikan karena akan memperlemah nilai tukar rupiah. Menurut ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi, ekonomi Indonesia 2017 diprediksi tumbuh ke 5,3 persen dari perkiraan akhir tahun lalu yang sebesar 5,1 persen.

Pertumbuhan ekonomi terjadi seiring kenaikan investasi menjadi 5,6 persen pada tahun 2017 dari 4,5 persen pada 2016. Dari sisi konsumsi, diperkirakan stabil di kisaran 5 persen yang didukung oleh jumlah populasi. Sedangkan inflasi diprediksi rata-rata 4,5 persen pada 2017.