rupiah-naikJAKARTA TODAY- Harga komoditas diperkirakan naik 7,8% pada tahun ini. Harga naik karena adanya peningkatan permintaan.

Menurut Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung mengatakan salah satu komoditas yang meningkat misalnya batu bara. Ia mencontohkan, harga batu bara pada kuartal III ke kuartal IV tahun 2017 lalu meningkat 30% karena banyaknya permintaan dari China akibat China mengurangi produksinya.

Di tahun 2017 ini, Juda memprediksi kenaikan harga seluruh komoditas mencapai 7,8%, sedangkan tahun lalu diperkirakan sekitar 4,2%.

“Perkirakan kita tahun lalu sekitar 4,2% kenaikan harga komoditas ekspor kita, tahun 2017 itu kami perkirakan sekitar 7,8%, angkanya beda-beda adanya yang coal, nikel berbeda,” ujar Juda, di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Senin (31/1/2017).

Baca Juga :  Resep Masakan Wedang Ronde Isi Kacang

Ia mengatakan, kenaikan harga komoditas ini diperkirakan akan meningkatkan nilai ekspor Indonesia ke ngara lain. Terutama bagi daerah penghasil batu bara seperti Kalimantan dan Sumatera akan meraih pendapatan yang meningkat. Tren pengiriman kenaikan ekspor komoditas ini diperkirakan paling banyak ke China.

“Kalau komoditas China masih dominan karena dia mau mengarahkan ke domestik ekspornya sehingga membutuhkan natural resources dari luar negeri,” ujar Juda.

Baca Juga :  AS Mengalami Kerugian Mencapai 5,4 Miliar Dolar, Terkait Pinjaman Bantuan COVID-19

Sementara itu, dari segi ekspor non komoditas ada kemungkinan ekspor mobil meningkat. Hal itu karena diperkirakan adanya tren meningkatnya konsumen sehingga diikuti produksi industri.

“Dari sisi produsen, dengan adanya perbaikan harga komoditas akan mendorong prospek ekonomi dan prospek produksi karena dengan demand yang baik akan mendorong produksi,” ujarnya.

Ia menyebut ekspor non komoditas yang paling banyak diperkirakan paling banyak ke Filipina dan Timur Tengah.

“Tren non komoditas seperti mobil ada yang ke Filipina, Middle East, bahkan tekstil ke AS itu baik,” ujarnya. (Yuska/dtk)