IBNU Qoyyim bercerita tentang seorang budak wanita yang meninggal dunia karena wabah penyakit. Ayah wanita itu bermimpi ketemu dengannya dan bertanya: Putriku, kabarkan kepadaku tentang akhirat. Mimpi biasanya sangat dipengaruhi oleh keadaan, rasa, dan keinginan terpendam sang pemimpi. Ayah dalam kisah ini bias ditafsirkan sebagai sosok yang merindukan putrinya dan penasaran dengan alam akhirat.

Masih cerita Ibnu Qoyyim, putri dalam mimpi itu menjawab, Ayah, di akhirat kita menghadapi hal besar, yakni kita sudah tahu sesuatu tetapi tidak mengamalkannya. Demi Allah satu tasbih dan satu rakaan dalam lembaran catatan amalku lebih aku cintai disbanding dunia dan seisinya.’’ Ternyata sekecil apapun ibadah yang kita lakukan nilainya jauh lebih tinggi disbanding dunia seisinya sekalipun. Kita tentu tahu itu, namun sayangnya tidak terlalu tertarik mengamalkannya.

Kenikmatan dan keindahan dunia acapkali sukses menutupi mata hati kita. Nilai kehidupan akhirat hanya didasarkan terangnya pandangan mata kepala, bukan beningnya mata hati. Perkara hidup pasca kematian sama sekali tak terlihat oleh mata kepala, karenanya diabaikan. Kita tahu dzikir itu menenteramkan hati, tetapi tidak kita lakukan. Maka, hidup kitapun galau tak menentu, bahkan hingga kehilangan arah. Maka, hati kita kasar dank eras bagaikan batu gunung.

Banyak lagi kebajikan yang kita tahu, tetapi tidak kita lakukan. Inilah penyakit kronis yang kelak akan menjadi masalah besar kita di akhirat. Astagfirullah.! (*)