
Tidak hanya pendidikan, investasi pada sumber daya manusia juga dapat berupa kesehatan, semakin sehat seseorang diharapkan semakin tinggi  produktivitasnya dan semakin terbuka kesempatannya untuk meningkatkan pendidikan dan pendapatannya. Sayangnya pada kehidupan nyata peningkatan pendapatan belum tentu di investasikan pada kesehatan, terkadang justru gaya hidup berubah menjadi tidak sehat.
Rata -rata lama sakit penduduk Kota Bogor 5 sampai 6 hari, dari 100 orang di Kota Bogor 14 – 15 orang mengalami keluhan sakit. Selain itu hasil Susenas menyebutkan  rata-rata perokok di Kota Bogor menghisap 72 batang rokok dalam seminggu atau kurang lebih setara dengan enam bungkus rokok setiap minggunya, untuk meningkatkan kesehatan hal ini tentu bertolak belakang, jika gaya hidup dan kebiasaan seperti ini tidak berkurang semakin tinggi pendapatannya konsumsi rokok per harinya juga akan bertambah. Investasi kesehatan juga dapat berupa tindakan menjaga kesehatan dengan melakukan olahraga dan mengkonsumsi makanan yang sehat, hal ini bisa dilakukan tanpa perlu mengeluarkan biaya yang cukup banyak, beberapa olah raga sederhana dapat dilakukan, demikian juga makanan yang sehat tidak berarti harus mahal.
Peran pemerintah daerah untuk menyediakan fasilitas kesehatan bagi masyarakatnya juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya meningkatkan kesehatan, terdapat 17 kelurahan yang sudah dilengkapi fasilitas rumah sakit sedangkan 49 kelurahan lainnya jika mau mendatangi rumah sakit harus ke kelurahan terdekat, sementara puskesmas dapat ditemui di 27 kelurahan dari 68 kelurahan  di Kota Bogor, untuk memudahkan masyarakat akan akses fasilitas kesehatan perlu penambahan jumlah fasilitas kesehatan agar lebih memudahkan masyarakat.
Jika kita lihat dari rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk masyarakat Kota Bogor, hanya sekitar 20 persen dari rata rata pengeluaran per kapita sebulan untuk sub golongan non makanan yang diperuntukkan pembelian aneka barang dan jasa, dimana pendidikan dan kesehatan termasuk didalamnya, hal ini memperlihatkan prioritas sebagian masyarakat masih belum ber investasi pada sumber daya manusia dalam hal ini peningkatan pendidikan dan kesehatan. Sementara pengeluaran untuk perumahan lebih dari 33 persen, hal ini terjadi karena harga tanah yang cukup tinggi di Kota Bogor, sehingga rumah tangga lebih banyak mengeluarkan pendapatannya untuk investasi fisik, yang dimaksud adalah tanah dan bangunan dibandingkan investasi non fisik dalam hal ini pendidikan dan kesehatan.
Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat tidak semata mata dengan meningkatkan pendapatan saja, namun juga perlu pengawalan agar masyarakat memanfaatkan pendapatannya juga untuk berinvestasi pada sumber daya manusia, agar kedepannya generasi yang akan datang dapat mandiri dan memiliki  kemampuan bersaing  dengan negara lain. Pemerintah juga berperan penting dalam hal penyediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi seluruh masyarakat mencakup seluruh wilayah tanpa terkecuali, kemudahan akses tidak dapat dipungkiri juga meningkatkan kepedulian akan pentingnya pendidikan dan kesehatan.
Dengan pendapatan yang tinggi, masyarakat diharapkan mampu berinvestasi lebih banyak untuk pendidikan dan kesehatan. Dengan pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, produktivitas dan pendapatan yang lebih tinggi akan lebih mudah dicapai. Karena adanya hubungan ini, maka kebijakan pembangunan harus difokuskan pada upaya untuk meningkatkan pendapatan, pendidikan dan kesehatan secara bersama-sama. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















