Arswendo Atmowiloto, Susah Senang di Media

Arswendo sangat meminati masalah televisi. Ia tidak pernah bosan melempar saran dan kritik kepada TVRI, tidak peduli ditanggapi atau tidak. Bahkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta 1982, ia menelanjangi media pemerintah itu lewat ceramahnya, “Menjadi Penonton Televisi yang Baik”. Ia tahu betul liku-liku pertelevisian.

Bukan cuma televisi, Ndo juga pengamat komik yang baik. Koleksi komiknya cukup lengkap, terutama yang pernah terbit di Indonesia. Ia kesal sekali, ketika di suatu zaman, komik dianggap merusak. “Tahun 1955 komik dibakar, tahun 1977 komik dirazia bersama razia rambut gondrong,” tuturnya. Ndo penasaran dan ia meneliti komik pada tahun 1977. Ternyata, komik tidak seburuk yang disangka. Bahkan PT Pustaka Jaya, penerbit yang pada tahun 1972 pernah menyatakan tidak akan menerbitkan komik — pada tahun 1977 mulai menerbitkan komik. Ndo, yang pernah mengikuti program penulisan kreatif di Iowa, AS, pada tahun 1979 ini menikah dengan Agnes Sri Hartini dan dikaruniai tiga orang anak.

Tahun 1990, Monitor yang melesat tirasnya dalam waktu singkat dengan jurnalismelernya, tersandung kasus. Jajak pendapat tentang tokoh- tokoh yang dikagumi antara lain menempatkan Nabi Muhammad di urutan ke-12. Keruan saja tabloid ini dituding menghina Nabi Muhammad. Meledak demonstrasi hingga merusakkan kantor Monitor. Merasa terancam, Arswendo meminta perlindungan ke polisi. Tuntutan massa dan suasana sosial-politik kala itu menyebabkan Wendo diajukan ke pengadilan, diganjar lima tahun penjara. Ekonomi keluarganya terpuruk. Anaknya yang baru lulus sekolah dasar berjualan sampul buku, anaknya yang lebih tua berjualan kue.

BACA JUGA :  6 Kebiasaan Pagi Hari yang Diam-Diam Bisa Memicu Kenaikan Berat Badan

Pribadinya yang santai dan senang humor membantu Arswendo menjalani hidup di penjara. Ia misalnya, menghabiskan waktu di penjara dengan memanfaatkan keterampilannya membuat tato — yang ditato adalah sandal. Sandal yang semula seharga Rp 500, setelah ditato bisa ia jual seharga Rp 2.000. Lewat usaha itu, ia punya 700 anak buah. Tentu ia tetap menulis. Tujuh novel lahir selama ia di LP Cipinang, antara lain “Kisah Para Ratib”, “Abal-Abal”, “Menghitung Hari” (sekeluar dari penjara, novel “Menghitung Hari” yang judulnya diilhami dari Mazmur 90:12 ini dibuat sinetron dan memenangi Piala Vidya). Tak hanya novel, di penjara itu pula ia menulis puluhan artikel, tiga naskah skenario, dan beberapa cerita bersambung yang sebagian di antaranya ia kirimkan ke Kompas dan Suara Pembaruan dengan menggunakan nama samaran. Untuk cerita bersambung, misalnya “Sudesi” (Sukses dengan Satu Istri), di harian Kompas, ia menggunakan nama “Sukmo Sasmito”. Untuk “Auk” yang dimuat di Suara Pembaruan ia memakai nama “Lani Biki”, kependekan dari Laki Bini Bini Laki, nama iseng yang ia pungut sekenanya. Nama-nama lain yang pernah dipakainya adalah “Said Saat” dan “B.M.D Harahap”.

BACA JUGA :  Ketua DPRD Kabupaten Bogor Apresiasi Raihan WTP Dua Kali Berturut-turut

Setelah menjalani hukuman lima tahun ia dibebaskan dan kemudian kembali ke profesi lamanya. Ia menemui Sudwikatmono yang menerbitkan tabloid Bintang Indonesia yang sedang kembang-kempis. Di tangannya, Arswendo berhasil menghidupkan tabloid itu. Namun, Arswendo hanya bertahan tiga tahun di situ karena ia kemudian mendirikan perusahaannya sendiri, PT Atmo Bismo Sangotrah, yang memayungi sedikitnya empat media cetak: tabloid anak Bianglala, Ina (kemudian jadi Ino), AMI (Anak Manis Indonesia), serta tabloid Pro-TV. Saat ini selain tetap aktif menulis, pemilik rumah produksi PT Atmochademas Persada ini telah membuat sejumlah sinetron. Sinetronnya “Keluarga Cemara” memperoleh Panasonic Award 2000 sebagai acara anak-anak favorit. Tiga kali ia menerima Piala Vidya untuk film “Pemahat Borobudur”, “Menghitung Hari”, dan “Vonis Kepagian”. Kini, selain tetap aktif menulis, ia juga merangkap menjadi sutradara sinetron, “Karena iseng saja. Sutradara honornya juga bagus, ya sudah,” ujar Wendo. (berbagai sumber)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================